Yang Benar Hanya Pendapatku!

Dulu, kita mungkin pernah mendengar beberapa orang menyebut kalo Indonesia itu madzhabnya Syafi’i. Kalimat ini sangat masyhur sekali. Tapi itu dulu, pernyataan seperti itu sudah tidak cocok untuk zaman sekarang walaupun tidak mutlak salah.

Tidak salah, karena memang Islam datang ke negeri kita tercinta ini melalui para da’i-da’i hadramaut, yaman yang kesemuanya bermadzhab Syafi’iyyah. Karena sejak dulu, Islam berjalan di negeri ini dengan gaya dan wawasan Syafi’iyyah yang sangat kental sekali.

Sejak kecil kita diajarkan bahwa anjing dan babi itu hewan najis. Najis sekali pokoknya. Hidupnya najis apalagi bangkainya. Maka bergaul dengan anjing atau bahkan babi bagi kebanyakan muslim Indonesia itu bukan sesuatu yang lazim.

Karena sama saja berdekatan dengan najis. Sejak dulu, ibu-ibu Indonesia itu paham dan sadar bahwa tidak boleh dia masuk masjid jika dalam keadaan haidh. Itu ajaran Syafi’iyyah. Sejak dulu juga orang Indonesia sudah terbiasa bahwa bersentuhan dengan lawan jenis, termasuk istri itu membatalkan wudhu.

Sejak kecil juga kita diajarkan untuk membaca surat al-fatihah dalam shalat dan bismillah-nya juga dibaca serta dikeraskan, karena memang begitu rukun shalat dalam madzhab Syafi’iyyah. Kita juga sejak lama sudah terbiasa bahwa kotoran hewan itu tidak boleh ada pada pakaian dan tempat shalat kita karena memang itu najis, baik hewan yang halal atau juga hewan yang haram dagingnya dimakan. Pokoknya kalau sudah kotoran, ya najis. Itu pendapat Syafi’iyyah.

Nah. Untuk saat ini, rasanya pernyataan “Indonesai itu madzhabnya syafi’i” kurang lagi cocok. Melihat banyaknya amaliyah orang zaman now yang sudah tidak lagi syafi’iyyah oriented. Dan juga banyaknya pendapat-pendapat yang bertolak belakang dengan pendapat syafi’iyyah yang diamalkan dan diajarkan.

Itu wajar memang. Karena seiring perkembangan zaman, keinginan orang Islam Indonesia untuk mempelajari ilmu agama membuat mereka akhirnya keluar dari Indonesia dan mempelajarinya dari sumber asli, yakni Negara-negara timur tengah, yang bukan tidak mungkin madzhab mayoritas di negeri sana tidak sama dengan negeri kita.

Akhirnya ketika mereka pulang dari masa studinya, dan memabawa ilmunya ke negeri ini lalu mengajarkannya, di sini kemudian timbul perbedaan dan tentu bagi sebagaian orang menjadi masalah. Bahkan bukan hanya mengajar, sebagian orang malah mendirikan pesantren dan sekolah-sekolah yang di dalamnya diajarkan bukan kurikulumnya Indonesia, akan tetapi memakai kurikulum negeri di mana mereka memperoleh ilmu. Bahkan kitab dan pengajarnya pun di-import langsung dari negeri luar.

Ini yang kemudian menjadikan Indonesia tidak lagi Syafi’iyyah. Dan ini bukan kesalahan apalagi keburukan. Karena memang perbedaan itu tidak bisa dibendung dan keinginan belajar ke laur negeri tidak bisa ditahan. Jadi, bukan perbedaannya yang dihabisi, akan tetapi pribadi kita masing-masinglah yang harus bersiap diri menghadapi perbedaan itu.

Dalam litelatur fiqih, kita pasti akan mendapatkan perbedaan-perbedaan (Ikhtilaf) pendapat di kalangan ulama, baik itu lintas madzhab atau juga dalam madzhab itu sendiri. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam masalah fiqih yang memang tempatnya ulama berijtihad.

Konsekuensi yang harus muncul ketika adanya ijtihad ialah adanya perbedaan itu sendiri. Jadi memang perbedaan dalam masalah fiqih ialah sesuatu yang ada dan bukan diada-adakan. Jadi sebelum lebih jauh mendalami fiqih, seorang harus siap menghadapi perbedaan itu dan bersikap bijak dalam perbedaan itu. Imam Syathibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat, meriwayatkan qoul Imam Qatadah yang mana qoul ini sangat masyhur sekali di kalangan para fuqaha dan pembelajar fiqih

من لم يعرف الاختلاف لم يشم انفه الفقه

Siapa yang tidak tahu (Tidak mengakui) Ikhtilaf, ia sama sekali tidak bisa mencium Fiqih

Foto oleh Pok Rie dari Pexels

Tapi justru ada saja beberapa orang yang seakan-akan tidak menerima adannya perbedaan itu dan memaksakan semua orang sependapat dengan apa yang ia yakini, padahal itu masalah fiqih yang belum ada kata sepakat diantara para ahli fiqih. Mereka hidup di lingkungan yang sebenarnya tidak buta dengan syariah, yang kemudian orang-orang di lingkungan tersebut sudah terbiasa dengan salah satu pendapat ulama dalam masalah fiqih, dan itu yang menjadi landasan mereka dalam beribadah.

Lalu mereka datang dengan pendapat baru, yang sebelumnya tidak dikenal oleh lingkungan tempat ia tinggal lalu mengumbarnya dengan sambil mengatakan apa yang dilakukan selama ini oleh para penduduk setempat ialah keliru dan salah, bahkan itu menyalahi sunnah. Dengan bangganya mereka mengatakan itu dan sudah pasti perkara semacam ini menimbulkan gesekan yang amat berbekas diantara masyarakat sehingga akhirnya perpecahan tidak bisa lagi dihindari. Hanya karena ada beberapa orang yang tidak paham betul dengan masalah fiqih, akhirnya persatuan yang sudah sekian lama dibangun roboh seketika.

Padahal memperkuat persatuan dan menutup jalan perpecahan jauh lebih baik, dan semua orang sepakat ini. caranya dengan tidak menimbulkan gesekan di masyarakat dengan hal-hal fiqih yang statusnya masih dalam perdebatan, lalu menonjolkan perbedaannya di depan khalayak dangan bumbu “Ini pendapat yang sesuai Sunnah!”.

Secara langsung mengatakan bahwa yang selama ini dilakukan oleh sekelilingnya ialah jauh dari kata sunnah, lebih dalam lagi bahwa yang dilakukan khalayak sebelumnya adalah menyelisih sunnah, padahal mereka melakukan itu bukan tanpa dasar, tapi justru dengan dasar dalil, hanya saja si pembawa berita “sunnah” itu yang tidak tahu adanya perbedaan pendapat.

Berbeda pendapat bukanlah sesuatu yang keliru dan disalahkan, akan tetapi jika perbedaan itu ditonjolkan depan khalayak yang sudah paten memakai satu pendapat, bukan tidak mungkin terjadi perpecahan. Apalagi sampai keluar statemen bahwa “ini yang benar, dan yang dilakukan selama ini menyalahi sunnah!”, tentu yang seperti ini rawan membuahkan perpecahan.

Kalau mau berbeda ya silahkan saja, hanya perlu dijaga jangan sampai menonjolkan itu depan khalayak yang akhirnya menimbulkan gesekan. Bukankah seorang muslim dituntut untuk menjaga harmonisasi persatuan antara sesama muslim?

Mungkin beberapa orang lupa atau tidak tahu bahwa ada kaidah fiqih yang sangat menggambarkan sekali bagaimana ulama fiqih itu benar-benar peduli akan terwujudnya persatuan umat walaupun dalam bingkai perbedaan pendapat.

الخروج من الاختلاف أولى وأفضل

Keluar dari perbedaan adalah lebih utama dan lebih baik

Ini dijelaskan oleh Imam Taajuddin Al-Subki dalam kitab Al-Asybah wa Al-Nazdoir. Ketika membahas ini dalam kitabnya, beliau seperti menasihati bahwa perbedaan dalam masalah fiqih itu sesuatu yang tidak bisa dihindari, maka kita lah yang harusnya cerdas dalam menyikapi itu.

Dengan tidak menimbulkan sesuatu yang akhirnya malah melahirkan silang pendapat tajam di depan khalayak, yang padahal perkara itu bukanlah perkara yang sampai pada pada level Ijma’ (sepakat), itu masalah yang terbuka ijtihad di dalamnya, dan bisa jadi akan berbeda.

Dengan tidak juga menonjolkan itu depan khalayak yang punya pendapat berbeda, dan tetap hidup seirama dengan mereka. Toh tidak ada yang salah mengikuti alur khalayak dalam masalah fiqih, kenapa harus memaksakan satu pendapat yang akhirnya malah jadi boomerang lalu merobohkan persatuan yang sudah ada.

Saking agungnya kandungan kaidah ini, Imam Taajuddin Al-Subki mengatakan banyak ahli fiqih yang menyangka bahwa kaidah ini adalah kaidah fiqih yang telah disepakati oleh seluruh ulama dan menjadi ‘Ijma’. Maka mengikuti khalayak dengan tujuan maslahat, yaitu persatuan tentu jadi pilihan yang solutif, bukan malah memperuncing keadaan. Bukankah kita sudah banyak menerima contoh itu dari para pendahulu (salaf) kita?

Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani diceritakan sahabat Abdullah bin Mas’ud dulu punya pendata tegas menyatakan bahwa seorang musafir, afdholnya ialah sholat qashar, tidak tamm (sempurna), jika ada musafir yang sholatnya sempurna empat rokaat, beliau mengatakan itu adalah mukholafatul-aula مخالفة الأولى (menyelisih pendapat yang utama).

Akan tetapi dengan rela ia meninggalkan pendapatnya dan ikut sholat sempurna 4 rokaat di belakang Utsman bin Affan yang memandang berbeda dengannya dalam masalah ini. lalu Ibnu Mas’ud ditanya: “kau mengkritik Utsman, tapi kenapa kau mnegikutinya sholat empat rokaat?”. Ibn Mas’ud menjawab: الخلاف شر “berbeda itu buruk!”.

Karena tahu, bahwa jika ia menonjolkan perbedaan itu depan umum yang tidak semuanya paham masalah tersebut, Ibnu Mas’ud memilih untuk tetap mengikuti Utsman walaupun itu menyelisih pandangannya sendiri. Tentu juga kita tahu cerita tentang Imam Malik yang ditawari oleh Khalifah Al-Manshur dalam kitab Hujjatullah Al-Balighoh untuk menjadikan bukunya Al-Muwatho’ sebagai kitab Negara yang menjadi pegangan hukum bagi rakyatnya. Namun Imam malik menolak langsung tawaran itu

ياأمير المؤمنين لا تفعل هذا فإن الناس قد سبقت إليهم أقاويل، وسميعوا أحاديث، ورووا روايات، وأخذ كل قوم بما سبق إليهم

wahai Amirul-mukminin, jangan lakukan itu! Orang-orang sudah terbiasa dengan pendapat-pendapat yang mereka dengar sebelumnya, mereka telah mendengar hadits-hadits, mereka juga telah melihat periwayatan, dan setiap kaum telah melakukan ibadah sesuai pendapat yang mereka ambil sebelumnya

Imam Malik tidak memaksakan itu karena khawatir nantinya akan terjadi perpecahan kalau nantinya penduduk dipaksa untuk mengikuti Imam Malik sedangkan mereka telah beribadah sesuai pendapat ulama yang mereka ikuti sebelumnya. Padahal jika Ima Malik mau, beliau bisa saja mengatakan “ya” kepada Khalifah dan akhirnya kitab yang beliau susun dipelajari dan diamalkan oleh seluruh Umat Islam seantero Abbasiah ketika itu. Akan tetapi Imam Malik memlilih untuk tidak memberatkan umat lain dengan pendapat yang tidak biasa bagi mereka.

Itu juga berarti sang imam tidak menganggap bahwa apa yang beliau susun dan fatwa-fatwanya bukanlah satu-satunya kebenaran yang mana orang tidak boleh berbeda dengannya. Itu karenanya beliau membiarkan umat lain di belahan dunia lain mengikuti ulama yang memang sudah menjadi rujukan lebih dulu.

Kita juga tahu secara detail bagaimana Imam Syafi’i meninggalkan qunut subuh ketika menjadi Imam untuk para pengikut Imam Abu Hanifah yang tidak melihat adanya kesunahan qunut dalam sholat subuh, di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah. Padahal Imam Syafi’ilah pelopor qunut subuh dan menjadikannya sunnah muakkad dalam sholat subuh yang jika meninggalkannya, maka sunnah diganti dengan sujud sahwi. Tapi beliau rela meninggalkan itu, karena tahu dimana ia saat itu.

Ini terjadi ketika beliau (Muhammad bin Idri al-Syafi’i) diundang oleh Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani (murid Imam Abu Hanifah) untuk mengajar di madrasah Abi Hanifah selepas shalat Subuh berjamaah, yang memang itu jadwal rutin di madrasah tersebut.

Kita juga tahu betul bahwa dalam kitab Abad Al-Ikhtilaf fi Al-Islam diceritakan Imam Ahmad bin Hanbal punya pendapat yang mengatakan bahwa orang mimisan, yang keluar darah dari hidungnya itu batal wudhunya, sama seperti orang yang berbekam. Akan tetapi ketika ia ditanya: “bagaimana jika imam yang sedang mengimami dan anda dalam barisan makmum, lalu ia keluar darah (luka) dan tidak berwudhu lagi, apakah anda tetap sholat di belakangnya?”, Imam Ahmad menjawab:

كيف لاأصلي خلف الإمام مالك وسعيد بن المسيّب

bagaimana mungkin aku tidak mau sholat di belakang Imam Malik dan Sa’id bin Al-musayyib?

Indikasinya bahwa Imam Malik dan Imam Sa’id bin Al-Musayyib berbeda pandangan dengan Imam Ahmad dalam Masalah orang yang keluar darah dari tubuh, apakah batal wudhu atau tidak? tapi Imam Ahmad tidak menyalahkan mereka dan justru tetap mengikuti sholat di belakangnya. Hebat bukan?

Ada peristiwa keagamaan menarik yang terjadi di tahun 2014 lalu. Tepatnya pada tanggal 31 oktober 2014. Ketika itu Indonesia kedatangan tamu agung dari Kerajaan Arab Saudi, yakni Imam Masjidil-Haram, Imam Abdurrahman al-Sudais. Beliau ini yang rekaman suara bacaan Al-Qur’an-nya sudah banyak tersebar ke seluruh pelosok dunia termasuk Indonesia. Bahkan banyak qari di Indonesia yang mengagumi dan akhirnya men-jiplak gaya tartil juga langgam bacaan beliau.

Kedatangan Imam besar Masjid Ka’bah tersebut dimanfaatkan oleh kementrian agama dan juga umat Islam Indonesia untuk memberikan taushiah pada ragam acara yang diadakan di negeri ini. Termasuk Imam Besar masjid Istiqlal, yang ketika itu dijabat oleh (alm) Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’kub, yang meminta Imam Abdurrahman al-Sudais untuk menjadi KHatib dan Imam shalat Jumat di masjid terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Mengenal Perbedaan Antara Musnad, Sunan, Mu'jam, dan Jami'

Ini yang unik. Bagi anda yang pernah haji atau umrah, atau setidaknya sering melihat dan memperhatikan kegiatan shalat berjamaah di masjid al-haram melalui layar kaca, pasti menemukan bahwa Imam-Imam di masjid itu tidak sekalipun mengeraskan bacaan Bismillah sebelum memulai al-Fatihah. Dan memang selalu begitu.

Itu karena memang imam-imam tersebut bermadzhab al-hanabilah atau Hanbali yang mena pada ketetapannya, tidak diperkenankan mengeraskan bismillah sebelum memulai al-Fatihah, walau sejatinya mereka membacanya tapi tidak dikeraskan.

Dan madzhab aHanabilah di Saudi Arabia itu seperti madzhab Syafi’iyyah di Indonesia, sudah menjadi karakter khas bahkan menjadi DNA-Fiqh-nya orang Indonesia, bahwa bersentuhan dengan lawan jenis termasuk Istri itu membatalkan wudhu. Orang Indonesia juga beranggapan bahwa seluruh kotoran hewan yang halal dagingnya itu najis. Karenanya wajar jika ada keributan ketika ada seorang ustadz mengatakan bahwa kencing kucing tidak najis. Ayam yang halal dagingnya dimakan saja najis, apalagi kucing.

Proses Turunnya Al-Quran Dari Lauhil Mahfudz ke Langit Dunia

Begitu juga di Saudi Arabia, sejak kecil, penduduknya diajarkan wawasan-wawasan ke-Hanbali-an, termasuk tidak mengeraskan bismillah sebelum al-Fatihah. Nah, yang dilakukan oleh para Imam-Imam Masjidil-Haram itu ya mengikuti apa yang sudah mereka pelajari sejak kecil.

Ini menariknya. Imam Abdurrahman al-Sudais saat di Indonesia yang lalu, yang setiap jadi Imam Shalat di Masjidil-Haram tidak pernah mengeraskan bismillah sebelum al-Fatihah, karena bermadzhab Hanbali, di Masjid Istiqlal ketika itu justru beliau mengeraskan bacaan Bismillah-nya. Mungkin ini pertama kali bagi beliau mengimami dan mengeraskan bismillah. Bukan tanpa sebab. Itu dilakukan oleh beliau karena beliau mengerti dan paham bahwa Indonesia ini adalah Negeri Syafi’iyyah. Dan sudah menjadi kebiasaan orang-orang Syafi’iyyah mengeraskan bismillah ketika membaca al-Fatihah.

Lihat bagaimana bijaknya sang Imam Masjidil-Haram! Beliau tidak jumawa dengan statusnya Imam al-haram al-Makkiy dengan emmaksakan orang lain mengikuti gayanya, akan tetapi beliau menghormati dan ‘menanggalkan’ sebentar ke-hanbali-annya karena tahu di mana beliau berada.

Ini yang disebut dengan pribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijungjung”. Berada di mana kita, haruslah menghormati adat dan kebiasaan yang berlaku di tanah tersebut, selama memang tidak melanggar syariah.

Bagikan artikel ini ke :