Ummu Habibah, Keteguhan Seorang Wanita Dalam Menjaga Agamanya

Dibaca normal 4 menit

Siapa yang tak mengenal Abu Sufyan Shakh bin Harb? Nama besarnya tidak asing bagi telinga bangsa Arab saat itu. Pembesar sekaligus bangsawan Quraisy yang memiliki kedudukan, kebesaran, dan pengaruh luar biasa di tengah kaumnya. Di saat Rasulullah tampil dengan membawa agama yang sempurna, maka nama Abu Sufyan tercatat sebagai salah satu pemimpin Quraisy yang sangat besar permusuhannya terhadap Islam. Dia gunakan kekuasaan untuk memberikan tekanan bahkan siksaan kepada Rasulullah dan para sahabatnya agar mereka mau kembali kepada agama nenek moyang mereka.

Tetapi semua itu sama sekali tidak membuat kaum muslimin gentar. Bahkan siapa yang menyangka kalau putrinya sendiri yang justru memporak-porandakan kebesaran namanya ketika sang putri meninggalkan agama berhala dan terang-terangan menyatakan keislaman dan keimanannya.

Siapakah gerangan sang putri yang dimaksud? Dialah Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan Al-Qurasyiyyah, putri Abu Sufyan yang berani meninggalkan sesembahan ayah dan kaumnya lantas memilih agama Allah ketika kebenaran telah tampak di hadapan matanya dan hidayah Allah telah menerangi relung hatinya.

Tidak hanya itu, kenyataan pahit harus kembali diterima Abu Sufyan ketika menantunya, Ubaidullah bin Jahsy Al-Asadi, ikut menjadi pengikut Muhammad musuh besarnya selama ini. Semua itu seolah-olah menjadi pukulan besar bagi Abu Sufyan. Segala upaya dia kerahkan untuk membawa putri dan menantunya kembali kepada ajaran nenek moyangnya, tetapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Ummu Habibah sedikitpun tidak bergeming dari prinsipnya, keimanan yang telah terhunjam di dalam hatinya tidak mampu dicabut dan digoyahkan dengan kekuatan serta badai kemarahan sang ayah.

Kemurkaan Abu Sufyan kepada putri dan menantunya membuat orang-orang Quraisy ikut menunjukkan kebencian mereka. Mereka mulai melancarkan gangguan, siksaan, dan penindasan kepada keduanya. Hingga tiba saatnya Allah dan Rasul-Nya memberikan izin kepada kaum muslimin untuk hijrah menuju Habasyah. Ummu Habibah dan suaminya ikut masuk dalam barisan kaum muslimin yang hijrah. Mereka meninggalkan Mekah dan pergi menuju Habasyah, negeri asing di seberang untuk menyelamatkan agama dan keimanan mereka.

Sebuah ujian telah terlewati, Ummu Habibah telah berhasil selamat dari penindasan kaumnya dan lepas dari jerat sang ayah. Udara kebebasan mulai dia rasakan. Kehidupan baru segera dia jelang bersama suaminya tercinta. Tetapi

Hanya Allah Dzat yang berkuasa mengatur kehidupan hamba-Nya, tidak ada seorang pun yang mampu menebak ketetapan yang menjadi rahasia di sisi-Nya, dan tidak ada pula yang sanggup menolak takdir yang telah dituliskan-Nya. Tiba saatnya Allah berkehendak untuk kembali mendatangkan cobaan yang menguji keimanan dan kesabarannya.

Suatu malam ketika Ummu Habibah telah terlelap di atas pembaringan, dia bermimpi melihat suaminya, Ubaidaullah bin Jahsy, dalam keadaan dan rupa yang amat buruk. Ummu Habbibah terbaungan dengan perasaan terguncang dan khawatir. Dia menyimpan mimpi buruknya dan tidak menceritakannya kepada siapapun termasuk suaminya. Keesokan harinya, apa yang dia khawatirkan menjadi kenyataan.

Suaminya keluar dari Islam dan menjadi seorang Nasrani. Suami yang dicintainya, suami yang menemaninya berjuang mempertahankan agama, dan suami yang bersamanya melewati masa-masa mencekam di Mekah hingga sampai pada suasana aman di Habasyah. Tetapi kini

Maha suci Allah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya. Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang telah berfirman dalam kitab-Nya,

إِنَّكَ لاَتَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS Al-Qashahs: 56)

Inilah cobaan yang telah Allah tetapkan untuk Ummu Habibah. Sebuah cobaan yang tidak pernah terlintas dalam benaknya dan sebuah cobaan yang tegar dihadapinya selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh keyakinan.

Terpampang tiga pilihan di hadapannya: menjalani hidup bersama sang suami dengan melepaskan keislamannya seraya menyandang kehinaan di dunia dan di akhirat, mempertahankan prinsipnya dengan tetap tinggal di Habasyah dalam keadaan terasing tanpa kerabat dan keluarga, atau memilih kembali ke Mekah menjadi putri bangsawan yang tinggal di dalam ‘istana’ di bawah naungan sang ayah, tetapi hidup dalam keadaan terjajah agamanya.

Untuk kesekian kali keteguhannya dalam memegang keislaman dan keimanan harus kembali teruji, dan untuk kesekian kalinya pula dia berhasil lulus dengan memilih jalan yang padanya terdapat ridha Ilahi. Ummu Habibah bertekad untuk tetap tinggal di Habasyah menjalani hidup dalam keterasingan demi mempertahankan agamanya, dengan senantiasa berharap suatu saat nanti Allah akan memberikan kemudahan bagi urusannya, dan mendatangkan kelapangan dari sisi-Nya.

Waktu terus bergulir dan benarlah, segala puji hanya milik Allah Dzat yang tidak pernah menyelisihi janji-Nya, ketika kelapangan datang dari arah yang tidak disangka-sangka, mengganti kesedihan yang selama ini menyelimuti jiwa.

Pada suatu hari datanglah budak wanita utusan Najasy (penguasa Habasyah) membawa kabar yang tidak terduga. Budak wanita itu mengatakan bahwa Rasulullah telah mengirim surat kepada Raja Najasy yang di dalamnya berisi keinginan beliau untuk melamar Ummu Habibah, sekaligus menunjuk Najasy sebagai wakil beliau dalam melaksanakan akad nikah di Habasyah.

Perasaan Ummu Habibah serasa melayang mendengar berita ini, hingga dengan serta-merta, dia lepaskan perhiasan yang dia kenakan saat itu dan memberikan semua perhiasannya kepada budak wanita yang memberi berita gembira ini.

Persiapan pernikahan segera dilakukan hingga tiba di hari yang telah dinantikan. Semua sahabat yang hijrah berkumpul menyaksikan akad pernikahan Rasulullah dan Ummu Habibah. Najasy menyerahhkan mahar sebesar empat ratus dinar. Mahar itu kemudian diterima oleh Kholid bin Sa’id bin Al-Ash (wakil Ummu Habibah dalam akad pernikahan ini).

Jalinan akad pernikahan ini telah menempatkan Ummu Habibah pada derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat. Sebuah kedudukan yang pantas diterima bagi setiap hamba yang bersabar di jalan-Nya, dan bagi setiap hamba yang mengutamakan Allah dan Rasulullah daripada selainnya.

Setelah akad nikah ini, Ummu Habibah tetap tinggal di Habasyah. Hingga pada tahun ke-6 Hijriah, sang pengantin kembali ke Madinah, bertemu dengan kekasih yang dirindukannya, Rasulullah Muhammad.

Ummu Habibah, senantiasa mendampingi Rasulullah hingga beliau wafat. Dan pada tahun 44 Hijriah, Allah berkehendak memanggil ruh wanita mulia ini kembali ke sisi-Nya.

Ummu Habibah telah tiada, namun keindahan kisah hidupnya akan senantiasa menghiasi lembaran catatan sejarah manusia, dan keteguhannya dalam menjaga agama menjadi pelajaran besar bagi siapa saja yang mau mengambilnya. Maka renungkanlah firman Allah dalam kitab-Nya yang mulia,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) menyatakan, Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta. (QS Al-Ankabut: 2-3)

Bagikan artikel ini ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.