Tawassul Kepada Orang Sholih

Dibaca normal 3 menit

Pada dasarnya para ulama sepakat bahwa bertawassul dalam arti berdoa memohon kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya melalui perantara adalah suatu hal yang disyariatkan. Hal ini berdasarkan dalil berikut

يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِه لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah perantara mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kalian bahagia. (QS. Al-Maidah: 35)

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. al-Isra’: 57)

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. at-Taubah: 99)

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. at-Taubah: 103)

Adapun objek yang dijadikan wasilah atau perantara (al-mutawassal bihi) dalam doa, setidaknya dapat dibedakan menjadi dua hal. Pertama At-tawassul bi al-a’mal (التوسل بالأعمال), yaitu tawassul dengan amal-amal shalih yang dilakukan oleh orang yang bertawassul. Kedua At-tawassul bi adz-dzawat (التوسل بالذوات), yaitu tawassul dengan hal-hal (dzat-dzat) yang memiliki keutamaan dan kemulian, apakah berupa kemulian manusia ataupun kemulian selain manusia.

Dari dua objek tawassul tersebut, para ulama menyepakati pensyariatan tawassul dengan amal shalih. Namun, perselisihan muncul jika perantara yang digunakan adalah bukan amal shalih, namun berupa kemuliaan seseorang atau sesuatu. Secara spesifik, istilah untuk menyebut tawassul dengan kemulian sesuatu atau seseorang ini disebut juga dengan tabarruk (التبرك).

Sebagian ulama membolehkan untuk bertawasul dengan orang-orang atau benda tertentu. Sedangkan sekelompok ulama lainnya, mengharamkannya. Tetapi sebenarnya perbedaan tersebut bukanlah hal yang prinsipil, atau masuk dalam ranah akidah. Sebab, satu hal yang disepakati bahwa yang dituju pada permohonan tersebut adalah Allah.

Sebagaimana hakikat tawassul kepada dzat tersebut, sebenarnya dapat dimasukkan sebagai jenis tawassul yang disepakati, yaitu amal shalih dari orang yang bertawassul dalam bentuk cintanya kepada orang yang menjadi perantara. Sebab, cinta kepada sesama orang beriman, termasuk amal ibadah kepada Allah.

Karena hal inilah, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki menjelaskan bahwa perbedaan antara dua jenis tawassul tersebut hakikatnya tidaklah bersifat haqiqi. Namun semata perbedaan yang muncul dari sudut pandang. Hal ini sebagaimana yang beliau jelaskan dalam kitabnya, Mafahim Yajibu an Tushohhah

ومحل الخلاف في مسألة التوسل هو التوسل بغير عمل المتوسِّل كالتوسل بالذوات والأشخاص … وسأبين كيف أن المتوسل بغيره هو في الحقيقة متوسِّل بعمله المنسوب إليه، والذي هو من كسبه. فأقول: اعلم أن من توسل بشخص ما فهو لأنه يحبه إذ يعتقد صلاحه وولايته وفضله تحسينا للظن به، أو لأنه يعتقد أن هذا الشخص محبّ لله سبحانه وتعالى يجاهد في سبيل الله، أو لأنه يعتقد أن الله تعالى يحبه كما قال تعالى يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ، أو لاعتقاد هذه الأمور كلها في الشخص المتوسَّل به… وبهذا ظهر أن الخلاف في الحقيقة شكلي ولا يقتضي هذا التفرق والعداء بالحكم بالكفر على المتوسلين وإخراجهم عن دائرة الإسلام، سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ.

Titik perbedaan pendapat ulama dalam masalah tawasul adalah tawasul dengan bentuk lain selain amal yaitu tawasul dengan benda atau orang tertentu. Saya akan menjelaskan bagaimana orang yang bertawasul dengan selain amal itu hakikatnya adalah bertawasul dengan amalnya juga yang dinisbahkan kepadanya di mana itu merupakan bagian dari upayanya.

Saya mengatakan begini, pahamilah bahwa seorang Muslim yang bertawasul dengan orang tertentu itu karena Muslim tersebut mencintainya karena ia dengan baik sangka meyakini kesalehan, kewalian, dan keutamaan orang itu, atau karena ia meyakini bahwa orang tersebut mencintai Allah dan berjuang di jalan-Nya, atau karena ia meyakini bahwa Allah mencintai orang tersebut sebagai firman-Nya, ‘Allah mencintai mereka

Mereka pun mencintai-Nya, atau karena meyakini semua varian itu hadir di dalam orang yang dijadikan tawasul tersebut… Dari uraian ini jelas bahwa perbedaan itu hakikatnya bersifat formal. Jangan sampai perbedaan formalitas ini membawa perpecahan dan pertikaian dengan memvonis kekufuran bagi umat Islam yang mengamalkan tawasul atau bahkan mengusir mereka dari lingkungan Islam sebagai firman-Nya, Mahasuci Engkau, ini merupakan bohong besar.

Dari penjelasan ini, tampak bahwa perselisihan tentang tawassul melalui kemulian seseorang, pada dasarnya kembali kepada tawassul yang disepakati, yaitu berdasarkan amal shaleh orang yang bertawassul. Sebab tidaklah seseorang bertawassul melalui kemulian seseorang, kecuali karena kecintaannya kepada orang tersebut. Dan mencintai orang-orang shalih, khususnya Nabi Muhammad, merupakan bagian dari ibadah yang agung di dalam Islam.

Karena itulah, Syaikh Ibnu Taimiyyah kalangan yang termasuk berpendapat akan ketidak bolehan tawassul melalui kemulian seseorang, berpendapat bahwa jika tawassul tersebut didasarkan atas kecintaan kepada Rasulullah saw, maka tawassul jenis ini boleh dilakukan.

إِذَا كَانَ التَّوَسُّل بِالإْيمَانِ بِهِ وَمَحَبَّتِهِ وَطَاعَتِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ: تَارَةً يَتَوَسَّل بِذَلِكَ إِلَى ثَوَابِ اللَّهِ وَجَنَّتِهِ (وَهَذَا أَعْظَمُ الْوَسَائِل) وَتَارَةً يَتَوَسَّل بِذَلِكَ فِي الدُّعَاءِ – كَمَا ذَكَرْتُمْ نَظَائِرَهُ – فَيُحْمَل قَوْل الْقَائِل: أَسْأَلُكَ بِنَبِيِّك مُحَمَّدٍ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ: إِنِّي أَسْأَلُك بِإِيمَانِي بِهِ وَبِمَحَبَّتِهِ، وَأَتَوَسَّل إِلَيْك بِإِيمَانِي بِهِ وَمَحَبَّتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَقَدْ ذَكَرْتُمْ أَنَّ هَذَا جَائِزٌ بِلاَ نِزَاعٍ. قِيل: مَنْ أَرَادَ هَذَا الْمَعْنَى فَهُوَ مُصِيبٌ فِي ذَلِكَ بِلاَ نِزَاعٍ.

Adapun jika tawassul atas dasar iman, cinta, dan ketaatan kepadanya (Nabi Muhammad saw), dengan dua maksud: yaitu bertawassul untuk mendapatkan pahala dari Allah dan surga-Nya atau bertawassul dengannya dalam doa, maka dapat dipahami dari perkataan seseorang, Aku memohon kepada-Mu dengan nabi-Mu Muhammad, maksudnya adalah Aku memohon kepada-Mu dengan iman, dan cintaku kepada Nabi Muhammad. Maka di katakan padanya, bahwa tawassul seperti ini disepakati sebagai perbuatan yang benar.

Di samping itu, hal yang patut dicatat bahwa orang yang melakukan tawassul, tidaklah bertawassul dengan wasilah tersebut kecuali karena ia memang mencintainya dan meyakini bahwa Allah mencintainya. Jika ternyata penilaiannya keliru niscaya ia akan menjadi orang yang paling menjauhinya dan paling membencinya.

Bagikan artikel ini ke :