Tawassul Bukan Doa Kepada Selain Allah

Di antara persoalan lainnya yang terkait dengan kematian serta sering diperdebatkan di tengah-tengah umat Islam adalah masalah permohonan doa kepada Allah yang menggunakan wasilah atau perantara. Masalah ini disebut dengan tawassul. Dan dalam tradisi masyarakat Indonesia khususnya, istilah untuk menyebut permohonan doa dengan wasilah ini disebut tawassulan.

Tentunya, doa yang dimaksud bukan doa yang dimohonkan oleh orang yang masih hidup kepada Allah, untuk kebaikan orang yang sudah wafat, seperti permohonan istighfar dan rahmat Allah baginya. Sebab doa jenis ini, tidak ada satu pun umat Islam yang mengingkari. Namun perdebatan muncul tentang apakah kemulian orang yang sudah wafat, bisa dijadikan sebagai perantara untuk dikabulkannya doa oleh Allah dari orang yang hidup, bagi kemashlahatan dirinya.

Terlebih dalam masalah ini, ada sebagian pihak yang menuduh praktik tawassul melalui kemulian orang yang telah wafat tersebut sebagai bentuk kesyirikan. Dengan anggapan hal itu merupakan tradisi orang-orang jahiliyyah yang memohon kepada Allah melalui perantara berhala-berhala mereka.

Di sinilah titik krusial persoalan ini muncul. Sebab tuduhan syirik merupakan tuduhan serius yang tidak hanya berakibat pada renggangnya hubungan ukhuwah sesama umat Islam, namun juga memiliki implikasi akhirat yang cukup fatal.

Secara bahasa, kata tawassul diambil dari bahasa Arab tawassala-yatawassalu-tawassulan (ุชูˆุณู„ – ูŠุชูˆุณู„ – ุชูˆุณู„ุง), yang memiliki arti dasar “mendekat” dengan menggunakan wasilah. Sedangkan makna wasilah (ุงู„ูˆุณูŠู„ุฉ) itu sendiri adalah media perantara untuk mencapai tujuan. Dan pola jamak dari kata wasilah adalah wasail

Adapun tawassul yang dimaksud disini adalah mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk doa atau ibadah lainnya, dengan menggunakan perantara lain, seperti nama-nama Allah yang mulia (al-Asma’ al-Husna), sifat-sifat-Nya, amal shaleh, atau melalui makhluk Allah, baik dengan doanya atau kedudukannya yang mulia disisi Allah.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dijelaskan bahwa “tawasul-an” dengan imbuhan “an” bermakna, “Mengerjakan suatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.” Dan juga bermakna, “Memohon atau berdoa kepada Allah dengan perantaraan nama seseorang yang dianggap suci dan dekat kepada Tuhan.”

Dari penjelasan ini, maka dapat dipahami bahwa tawassul merupakan aktivitas mengambil sarana/wasilah agar doa seseorang dapat diterima dan dikabulkan.

Tawassul merupakan salah satu metode di dalam melakukan doa. Bahkan pada hakikatnya, tawassul merupakan salah satu adab di dalam melakukan permohonan kepada Allah. Sebab, suatu hal yang lazim ketika seseorang merasa tidak pantas dalam memohon sesuatu, lantas menjadikan pertolongan pihak lain sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu tersebut.

Namun satu hal yang patut dicatat, bahwa yang menjadi objek permohonan dan doa dalam aktifitas tawassul adalah Allah semata. Sebab memohon dan berdoa kepada selain Allah dalam hal-hal yang merupakan hak prerogatif Allah, apakah melalui perantara ataupun tidak, merupakan perbuatan syirik yang haram.

Karena itulah seorang muslim yang bertawassul, wajib meyakini bahwa permohonan hajatnya harus senantiasa ditujukan hanya kepada Allah semata. Dan juga wajib meyakini bahwa Allah-lah yang akan menjawabnya. Sebab itulah, jika orang yang bertawassul meyakini bahwa media yang dijadikan untuk bertawassul kepada Allah itu bisa memberi manfaat dan derita dengan sendirinya sebagaimana Allah atau tanpa izin-Nya, niscaya ia telah berbuat kesyirikan.

ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูŽ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฏู’ุนููˆุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง (ุงู„ุฌู†: 18) ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุฑุทุจูŠ: ู‡ูŽุฐูŽุง ุชูŽูˆู’ุจููŠุฎูŒ ู„ูู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ูููŠ ุฏูุนูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู.

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah (memohon berdoa) seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin: 18). Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata: Ayat ini merupakan celaan kepada orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam doa mereka di al-Masjid al-Haram

Imam asy-Syaukani (w. 1250 H) berkata dalam kitabnya Tuhfah adz-Dzakirin saat menjelaskan tentang shalat hajat

ูˆูŽูููŠ ุงู„ุญูŽุฏููŠุซ ุฏูŽู„ููŠู„ ุนู„ู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒ ุงู„ุชูˆุณู„ ุจุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณู„ู… ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆูŽุฌู„ ู…ูŽุนูŽ ุงุนู’ุชูู‚ูŽุงุฏ ุฃูŽู† ุงู„ู’ููŽุงุนูู„ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‡ ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰.

Hadits ini (hadits orang buta yang bertawassul kepada Rasulullah) merupakan dalil tentang bolehnya menjadikan Rasulullah saw sebagai wasilah kepada Allah. Namun dengan tetap meyakini bahwa Allah-lah yang menjadi pemberi hajat.

Selaian itu, hakikatnya bertawassul dalam doa, bukanlah suatu keharusan. Sebagaimana terkabulnya do’a, tidaklah secara pasti ditentukan dengan wasilah tersebut. Justru inti dari tawassul adalah doa itu sendiri, yang ditujukan sebagai ibadah kepada Allah.

Doa Kepada Allah: Bisa Secara Langsung Ataupun Melalui Perantara

Para ulama sepakat bahwa doa merupakan ibadah yang agung di dalam Islam. Sebab, doa merupakan bentuk ketundukan seorang hamba kepada Allah. Karena itulah, Allah sangat senang kepada hamba-Nya yang senantiasa memohon kepadaNya, apakah dalam hal-hal yang besar maupun sepele. Bahkan doa merupakan bentuk kedekatan seorang hamba kepada Allah.

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฃูŽู†ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุธูŽู†ูู‘ ุนูŽุจู’ุฏููŠ ุจููŠ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุนูŽุงู†ููŠ. (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

Dari Abu Hurairah ra: Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-ku, Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku. (HR. Muslim)

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: ู„ููŠูŽุณู’ุฃูŽู„ู’ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฑูŽุจูŽู‘ู‡ู ุญูŽุงุฌูŽุชูŽู‡ู ูƒูู„ูŽู‘ู‡ูŽุง ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽ ุดูุณู’ุนูŽ ู†ูŽุนู’ู„ูู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุงู†ู’ู‚ูŽุทูŽุนูŽ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

Dari Anas ra: Rasulullah saw bersabda: Hendaklah salah seorang dari kalian memohon setiap kebutuhannya kepada Rabbnya, hingga tali sandal yang putus pun ia tetap memohon kepada-Nya. (HR. Tirmizi)

Sebagai ritual ibadah, metode berdoa kepada Allah dapat dibedakan menjadi dua metode: Doa secara langsung memohon kepada Allah. Doa memohon kepada Allah melalui perantara. Metode kedua inilah yang disebut dengan tawassul.

Bagikan artikel ini ke :