Tarawih adalah Sholat Malam

Dibaca normal 4 menit

Diantara kekhasan bulan Ramadhan adalah bulan dimana malam-malamnya diisi dengan dua sholat sunnah yang sangat agung, itulah sholat sunnah Tarawih dan Witir. Saking agungnya maka ada sebagian dari kita yang kadang salah prioritas, demi terlaksananya dua sholat ini bahkan rela tidak melaksanakan sholat duhur atau ashar lantaran sibuk menabung energi dengan cara tidur disiangnya, padahal duhur dan ashar adalah sholat wajib yang harusnya secara prioritas harus didahulukan keimbang sholat sunnah.

Atau banyak juga yang sengaja sholat maghrib dan isyak di rumah agar fokus berbuka nanti setelah isyak baru hadir berjamaah dimasjid, ini semua walaupun sah secara fiqih namun secara prioritas harusnya tetap priorotas maksimal untuk sholat wajib.

Ramainya pelaksaan kedua sholat ini bahkan sampai membuat penuh masjid-masjid yang ada, setiap masjid yang ada juga berlomba untuk menarik perhatian masyarakat dengan cara menghadirkan ragam kultum dan ceramah agama, juga sengaja mendatangkan imam-imam yang tilawahya bagus, tidak hanya itu demi menarik perhatian masyarakat ada yang tarawihnya dilaksanakan 20 rakaat dan ada juga yang tarawihnya 8 rakaat saja, dan ada juga masjid yang sengaja menghabiskan bacaan satu juz untuk satu kali tarawih sehingga diharapkan malam terakhir tarawih bisa khatam Al-Quran tiga puluh juz.

Secara umum ibadah sholat sunnah itu mempunyai keutamaan yang besar, diantaranya adalah terdapat dalam beberapa hadits

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah sholat. Allah berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, Lihatlah pada sholat hamba-Ku. Apakah sholatnya sempurna ataukah tidak? Jika sholatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna.

Namun jika dalam sholatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya. Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini. (HR. Abu Daud)

Ada dua hadits yang masyhur berkaitan dengan keutamaan sholat tarawih, diantaranya dari Abu Hurairah

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Bukhari dan Muslim)

Terkait keutamaan sholat witir bisa terlihat dari dua hadits

. اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Jadikanlah sholat malammu yang terakhir adalah sholat witir. (HR. Bukhari dan Muslim)

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ وَهِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ وَهِيَ الْوِتْرُ فَجَعَلَهَا لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan bagi kalian sebuah sholat yang dia lebih baik bagi kalian dari pada unta merah, yaitu sholat witir, dan telah menjadikannya berada diantara sholat Isya hingga terbit fajar. (HR Abu Dawud)

Qiyamul Lail / sholat malam adalah sholat yang dikerjakan setelah sholat isya’ hingga terbit fajar, baik sholat tersebut dikerjakan pada bulan Ramadhan atau pada selainnya, demikian makna umumnya. Untuk sholat malam pada bulan ramadhan juga sering disebut dengan istilah qiyam Ramadhan. Dahulu, awal mulanya Rasulullah saw yang memulai untuk melaksanakan sholat malam pada malam-malam bulan ramadhan, berikut Aisyah ra bercerita seperti dalam riwayat Imam Al-Bukhari

صَلىَّ النَّبِيُّ r فيِ المَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلىَّ بِصَلاَتِهِ نَاسُ ثُمَّ صَلىَّ مِنَ القَابِلَةِ وَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ الله فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ : قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنيِ مِنَ الخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنيِّ خَشِيْتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ ـ قال: وَذَلِكَ فيِ رَمَضَان

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam pernah melaksankan sholat kemudian orang-orang sholat dengan sholatnya tersebut, kemudian beliau sholat pada malam selanjutnya dan orang-orang yang mengikutinya tambah banyak kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau keempat

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar untuk sholat bersama mereka. Dan di pagi harinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (sholat) bersama kalian kecuali aku khawatir bahwa sholat tersebut akan difardukan. Rawi hadits berkata, Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari).

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw keluarnya pada jauf al-lail (tengah malam), itu artinya kebiasaan sholat malam pada selain ramadhan juga dikerjakan oleh Rasulullah saw pada bulan ramadhan. Jadi sholat malam itu adalah nama umum untuk setiap sholat yang dikerjakan pada malam hari setelah sholat isya’ hingga terbit fajar.

Sepertinya belum ada istilah tarawih pada zaman Rasulullah, karenanya dalam teks hadits diatas Aisyah diatas memakai redaksi sholat secara umum, atau hadits-hadits tentang sholat di bulan ramadhan diungkap dengan redaksi Qiyam Ramadhan bukan dengan tarawih.

Setelah Rasulullah saw wafat, ibadah malam dibulan ramadhan dilaksanakan sendiri-sendiri oleh para sahabat, sehingga datanglah masa Umar bin Khattab, dan beliau mengintruksikan agar ibadah malam yang sering dilakukan sendiri-sendiri itu dirubah menjadi berjamaah dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab.

Sahabat Umar mengumpulkan jamaah sholat malam ramadhan dalam jumlah 20 rakaat, dimana pada setiap selesai empat rakaat (dua kali salam) mereka semua istirahat dari sholat dan melakukan thawaf, dan thawaf ini juga ibadah. Seperti inilah akhirnya yang dilakukan oleh penduduk Makkah kala itu, dan tidak terdengar ada sahabat yang menentang pendapat Umar ini.

Istirahat dari setiap selesainya empat rakaat inilah yang dikenal dengan istilah tarwihah/istirahat, demikian Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menuliskan. Karena ada banyak tarwihah dalam sholat tersebut sehingga disebut dengan tarawih. Dari sinilah muncul istilah tarawih, dan sholat malam yang sering dikerjakan oleh ummat Islam setelah sholat isyak akhirnya disebut dengan Sholat Tarawih, selebihnya sholat ini juga disebut dengan sholat malam atau ia adalah bagian dari sholat malam.

Tahajjud juga sholat malam, berdasarkan arti dari tahajjud itu sendiri, maka sholat ini adalah sholat sunnah yang dikerjakan setelah bangun dari tidur malam.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji(QS. Al-Isra’ : 79).

Sholat ini juga bagian dari Qiyamul Lail/sholat malam

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً

Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sholat) pada malam hari kecuali sedikit, yaitu setengahnya atau kurang dari itu sedikit. (QS. Al-Muzzammil : 1-3)

Umumnya para ulama membolehkan untuk melaksanakan sholat tahajjud setelah sholat tarawih. Baik sendirian maupun berjamaah, di rumah maupun di masjid. Terlebih bahwa akhir malam adalah waktu yang paling baik untuk beribadah kepada Allah SWT dan berdoa. Walaupun sebagian tetap menganjurkan untuk menyelesaikan sholat tarawih dan witir bersama imam di masjid, merujuk kepada keutamaannya yang disebutkan oleh Rasulullah bahwa:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

Siapa saja yang ikut sholat berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti sholat semalam suntuk. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Witir juga sholat malam, berdasarkan waktu pelaksanaannya maka sholat witir juga masuk dalam katagori sholat malam. Rasulullah bersabda terkait kapan pelaksanaan sholat witir ini:

فَصَلُّوهَا مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ

Lakukanlah sholat witir itu di antara sholat Isya’ dan sholat shubuh. (HR. Tirmizy)

Persamaan sholat tarawih dengan witir ada pada hukumnya, hukumnya sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama, namun kesunnahannya berada pada level yang sangat dianjurkan. Sholat malam itu aslinya sunnah dikerjakan sendiri-sendiri namun khusus untuk sholat tarawih dan witir karena keduanya dilakukan di malam bulan Ramadhan maka hukumnya sunnah dikerjakan berjama’ah. Secara waktu pelaksanaan kedua sholat ini adalah bagian dari sholat yang dikerjakan di malam hari, lebih tepatnya dikerjalan mulai dari waktu isyak datang hingga sebelum fajar (subuh)

Perbedaan yang paling mencolok ada pada jumlah rakaatnya, shalat tarawih dikenal dengan jumlah rakaat yang genap, sedangkan shalat witir dikenal dengan shalat dengan jumlah rakaat ganjil.