Tantangan Dalam Memahami Al-Qur’an

Dibaca normal 2 menit

Al-Qur’an merupakan kitab yang asli dan original kalamullah (perkataan Allah). Turun ke muka bumi dibawa oleh Malaikat Jibril alaihissalam kepada Nabi Muhammad SAW dalam Bahasa Arab. Salah satu hikmah Al-Qur’an turun dalam Bahasa Arab adalah untuk menantang bangsa Arab pada saat itu untuk membuat sastra yang tinggi dan mampu menandingi keindahan sastra dari Al-Qur’an. Dan nyatanya sampai hari ini pun tantangan itu tidak pernah bisa dijawab.

Namun di balik keistimewaan sastra Arab yang tidak ada tandingannya itu, ternyata juga menyisakan sedikit masalah, yaitu kita termasuk kalangan orang islam yang bukan orang Arab, yang sama sekali tidak paham ketika membaca Al-Qur’an. Kita bangsa Indonesia yang jumlahnya 200 jutaan ini, ditambah lagi dengan sejumlah besar umat Islam di negeri lain, ternyata rata-rata tidak menguasai Bahasa Arab.

Statistik menunjukkan angka yang teramat tinggi. Ternyata ada sekitar 300 jutaan saja bangsa yang ada di dunia ini mampu menguasai Bahasa Arab. Hanya ada 25 negara saja yang menggunakan Bahasa Arab sebagai Bahasa resmi di negaranya. Padahal jumlah umat Islam di dunia ini tidak kurang dari 1,5 milyar. Berarti 1,2 milyar muslim di dunia ketika membaca Al-Qur’an, tidak paham apa yang dia baca.

baca : Mengapa Makna Ayat Al-Qur’an Sering Berbeda Antar Ulama?

Oleh kebanyakan umat Islam, ternyata Al-Qur’an hanya dijadikan sekedar kitab peribadatan. Memang itu salah satu fungsi dari Al-Qur’an, yaitu bila dibaca huruf-hurufnya bernilai ibadah. Paham atau tidak paham, pokoknya setiap satu huruf dibalas dengan 10 kebajikan.

Oleh karena itulah di masa modern ini muncul ide untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke berbagai Bahasa di dunia. Sesuatu yang sebenarnya juga masih jadi perdebatan para ulama. Sebab menerjemahan Al-Qur’an itu juga tidak sesederhana yang kita bayangkan. Sebab Al-Qur’an bukan novel popular yang mudah dicerna. Al-Qur’an juga bukanlah film berbahasa Inggris yang cukup diberi sub-title maka penontonnya langsung mengerti.

Bangsa Arab sendiri pun tidak otomatis jadi ahli Al-Qur’an, walaupun Al-Quran itu berbahasa Arab. Dikarenakan kitab suci Al-Qur’an bukan lah buku popular yang asalkan pembacanya mengerti Bahasa Arab, lantas dia bisa paham isinya. Tidak sesederhana itu, Ferguso.

Kalau saya boleh buat perbandingan, kira-kira mirip dengan buku tentang pemrograman computer berbahasa Inggris. Tidak mentang-mentang Anda punya nilai TOEFL 500, lantas begitu baca buku itu tiba-tiba anda paham algoritme, pintar ngoding dan jago bikin aplikasi computer.

Mengerti Bahasa Inggris itu satu hal, sedangkan menguasai ilmu pemrograman computer, algoritme dan coding adalah hal yang lain lagi. Maka kalau ada seruan untuk kembali kepada Al-Qur’an, saya malah balik bertanya : bagaimana cara kembalinya, lha wong situ ndak paham apa yang dibaca? Jangan ngomong kalau pakai terjemahan, karena terjemah itu tidak pernah mampu menjelaskan apa yang dimaksud Allah SWT di balik tiap kata dan ayatnya. Terjemah hanya mampu memberi makna secara umum, namun tidak boleh dijadikan pegangan Utama terkait konten hukum dalam Al-Qur’an.

baca : Kenapa Al-Qur’an Memakai Bahasa Arab?

Slogan sih boleh keren : kembali kepada Al-Qu’ran, tapi kalau ujung-ujungnya masih mengandalkan terjemahan, apalagi main tafsir-tafsir sendiri, menggunakan ilmu gothuk-gathuk, maka namanya bukan kembali kepada Al-Qur’an, tetapi kembali kepada ketidak-jelasan. Ayat-ayat Al-Qur’an hanya digunakan sebagai bamper dan tameng. Ngakunya ini Quran, padahal sebenarnya itu hasil ngarang saja.

Lalu dengan cara apa kita dapat memahami Al-Qur’an? Lewat ilmu-ilmu yang secara khusus didesain untuk memahaminya. Jumlahnya cukup banyak, As-Suyuthi (w. 911 H) di abad ke-10 hijiryah telah menuliskan 80-an cabang ilmu itu dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Sebagian kecil dari ilmu-ilmu itu diajarkan di pondok pesantren mupun di bangku perkuliahan, baik untuk S1, S2 atau S3. Nama prodinya : Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT).

Bagikan artikel ini ke :