Tabarruk dengan Rambut Nabi

Dibaca normal 3 menit

Rambut Nabi merupakan salah satu objek tabarruk oleh para shahabat Nabi. Bahkan ulama salaf dahulu, lebih memilih memilik satu rambut Nabi daripada dunia dan seisinya. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan

عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَبِيدَةَ «عِنْدَنَا مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَبْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ» فَقَالَ: لَأَنْ تَكُونَ عِنْدِي شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dari Ibnu Sirin berkata, Aku berkata kepada Abidah, Kami memiliki rambut Nabi yang kami dapat dari Anas, atau keluarga Anas. Ia lalu berkata, Sekiranya aku memiliki satu helai rambut Rasulullah, maka itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya. (HR: bukhari)

Sahahabat Nabi pun dengan setia menunggu Nabi bercukur, agar rambut yang jatuh dari Nabi tak sampai ke tanah, tapi ke tangan para shahabat Nabi.

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ، وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ، فَمَا يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إِلَّا فِي يَدِ رَجُلٍ

Sungguh aku melihat Rasulullah bersama tukang cukur yang mencukur rambutnya sementara para shahabatnya mengelilinginya, mereka tidak ingin rambut beliau sehelaipun jatuh kecuali ditangkap tangan salah seorang (dari mereka). (HR. Muslim)

Setelah Nabi wafat, para shahabat Nabi masih menyimpan rambut Nabi. Ummu Salamah termasuk istri yang masih menyimpan rambut Nabi. Jika ada shahabat Nabi lain yang sakit atau terkena ain, maka mereka mengirimkan wadah yang berisi air untuk dicelupkan kepadanya rambut Nabi sebagai obat. Hal ini sebagaimana riwayat dari Imam Bukhari dalam kitab shahihnya

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ، قَالَ: أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلاَثَ أَصَابِعَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعَرٌ مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ إِذَا أَصَابَ الإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَثَ إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ، فَاطَّلَعْتُ فِي الجُلْجُلِ، فَرَأَيْتُ شَعَرَاتٍ حُمْرًا

Dari Utsman bin Abdullah bin Mauhab berkata; Keluargaku pernah menyuruhku menemui Ummu Salamah isteri Nabi dengan membawa mangkuk berisi air, sementara Isra’il memegang mangkuk tersebut menggunakan tiga jarinya yang didalamnya terdapat beberapa helai rambut Nabi yang diikat. Apabila ada seseorang yang terkena penyakit ‘ain atau sesuatu, maka mereka mengirimkan tempat air mereka kepada Ummu Salamah. Lalu aku mendongakkan kepala ke wadah yang menyerupai lonceng, aku melihat rambut beliau sudah berubah merah. (HR: Bukhari).

Diceritakan dalam kitab Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushtafa oleh Qadhi Iyaadh bin Musa al-Yahshabi, bahwa topi (helm) Khalid bin Walid berisi beberapa helai rambut Nabi. Ketika itu topi (pelindung kepala) jatuh di medan perang, ia mulai mencarinya, ketika Sahabat banyak mati syahid dalam pertempuran itu, orang orang binggung tentang (apa yang di lakukan khalid).

Kemudian dia berkata: Aku tidak mencari hanya sekedar tutup pelindung kepala, sebenarnya itu berisi rambut Nabi saw dan saya takut bahwa rambut ini mungkin akan jatuh ke tangan orang musyrik dan aku akan kehilangan Barakah atas rambut tersebut. Bahkan Khalid bin Walid sering mendapatkan kemenangan saat berperang ketika memakai topi pelindung kepala itu

Tak hanya itu, Ad-Dzahabi Syamsuddin Abu Abdilla dalam kitab Tarikh Islam menceritakan di zaman Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), anak beliau yaitu Abdullah menceritakan tentang tabarruknya Imam Ahmad bin Hanbal terhadap rambut Nabi yang beliau punya. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) mencium rambut Nabi, memasukkannya ke dalam air lalu meminum air itu agar selalu sehat. Hal ini diceritakan oleh Imam ad-Dzahabi (w. 748 H)

قال عبد الله بن أحمد: رأيت أبي يأخذ شعرةٌ مِنْ شَعْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيضعها على فيه يُقبّلها، وأحسب أنّي رأيته يضعها على عينه ويغمسها في الماء ويشربه يستشفى به

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Saya melihat bapakku mengambil rambut Nabi lalu diletakkan di mulut lantas beliau menciumnya. Saya melihat beliau meletakkan rambut Nabi di mata bapakku, lantas dicelupkan ke air dan meminum air itu agar sehat.

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) memang memiliki 3 helai rambut Nabi yang diberi oleh anak dari al-Fadhl bin Rabi’. Dalam Mir’at az-Zaman fi Tarikh al-A’yan, Imam Ahmad ketika sebelum wafat, Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) berwasiat agar 3 helai rambut Rasulullah itu diletakkan di kedua mata dan mulut Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Hal yang sama juga dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, agar rambut Nabi yang beliau punya, diletakkan di mata beliau saat beliau wafat.

Kuku Nabi Muhammad juga termasuk barang yang menjadi objek tabarruk oleh para salaf. Sala satunya oleh Umar bin Abdul Aziz. Saat akan meninggal, beliau berpesan agar kuku dan rambut Nabi yang beliau punya, dimasukkan ke kain kafan agar nanti dikubur bersamanya. Sebagaimana penuturan dari Ibnu Saad (w. 230 H) dalam at-Thabaqat al-Kubra

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: أَوْصَى عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عِنْدَ الْمَوْتِ فَدَعَا بِشَعْرٍ مِنْ شَعْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَظْفَارٍ مِنْ أَظْفَارِهِ وَقَالَ: إِذَا مُتُّ فَخُذُوا الشَّعْرَ وَالأَظْفَارَ ثُمَّ اجْعَلُوهُ فِي كَفَنِي. فَفَعَلُوا ذَلِكَ

Dari Abdurrahm bin Muhammad bin Abdullah berkata, Umar bin Abdul Aziz berwasiat sebelum meningga, dia meminta agar rambut dan kuku Nabi itu dimasukkan ke kain kafannya saat meninggal nanti.

Pakaian Nabi merupakan objek tabarruk para shahabat Nabi setelah Nabi meninggal. Para shahabat Nabi mencuci jubah Nabi, lantas airnya diberikan sebagai obat untuk orang-orang yang sakit. Ini adalah pernyataan dari Asma dalam hadits Shahih Muslim

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُهَا، فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا

Nabi dahulu memakainya (jubah). Kami mencucinya untuk diberikan kepada orang yang sakit agar sembuh. (HR. Muslim)

Nabi sendiri pernah memberikan baju untuk menjadi kain kafan putrinya yang telah wafat. Nabi meminta agar baju itu diletakkan pada bagian paling bawah sehingga menempel ke tubuh putrinya.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: تُوُفِّيَتْ بِنْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَنَا: اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا، أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ، فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَنَزَعَ مِنْ حِقْوِهِ إِزَارَهُ، وَقَالَ: أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ

Dari Ummi Athiyyah berkata: Putrinya Nabi wafat. Lantas Nabi berkata: Mandikanlah dia 3 kali, atau 5 kali atau lebih banyak. Jika kalian sudah selesai, kabari Saya. Setelah selesai, kita kabarkan kepada Nabi. Lantas Nabi melepas baju sarungnya dan berkata: Jadikanlah baju ini sebagai baju yang menempel di badannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal itu tak lain agar baju Nabi menjadi lapisan paling dalam yang menempel ke kulit putrinya, dan itulah asal dari tabarruk. Sebagaimana penuturan dari Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari, juz 3

أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ أَيِ اجْعَلْنَهُ شِعَارَهَا أَيِ الثَّوْبُ الَّذِي يَلِي جَسَدَهَا… الْحِكْمَةُ فِي تَأْخِيرِ الْإِزَارِ مَعَهُ إِلَى أَنْ يَفْرُغْنَ مِنَ الْغُسْلِ وَلَمْ يُنَاوِلْهُنَّ إِيَّاهُ أَوَّلًا لِيَكُونَ قَرِيبَ الْعَهْدِ مِنْ جَسَدِهِ الْكَرِيمِ حَتَّى لَا يَكُونَ بَيْنَ انْتِقَالِهِ مِنْ جَسَدِهِ إِلَى جَسَدِهَا فَاصِلٌ وَهُوَ أَصْلٌ فِي التَّبَرُّكِ

Jadikanlah baju ini sebagai baju yang menempel kulit, agar baju itu dekat dengan jasab putrinya. Disinilah asal dalil dari tabarruk.

Persis seperti komentar dari Imam an-Nawawi bahwa hikmah dari kejadian itu adalah bertabarruk dengan atsar atau bekas suatu barang orang shalih

وَالْحِكْمَةُ فِي إِشْعَارِهَا بِهِ تَبْرِيكُهَا بِهِ فَفِيهِ التَّبَرُّكُ بِآثَارِ الصَّالِحِينَ وَلِبَاسِهِمْ

Hikmahnya adalah pemberian baju itu sebagai bentuk tabarruk dengan bekas barangnya orang shalih dan pakaiaannya

Tak mau ketinggalan, Abdullah bin Ubay bin Salul, salah seorang munafiq ketika meninggal, anaknya yaitu Abdullah datang kepada Nabi untuk meminta baju gamis Nabi. Agar baju itu menjadi kain kafan untuk bapaknya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ جَاءَ ابْنُهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُ أَنْ يُعْطِيَهُ قَمِيصَهُ أَنْ يُكَفِّنَ فِيهِ أَبَاهُ، فَأَعْطَاهُ

Dari Ibnu Ibnu Umar, beliau berkata: Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul mati, maka anaknya yaitu Abdullah datang kepada Nabi meminta baju gamisnya, agar bisa menjadi kain kafan bapaknya. Dan Nabi memberikannya. (HR. Muslim).