Tabarruk dengan Bekas Benda dari Nabi

Dibaca normal 3 menit

Tabarruk atau mencari berkah dari seseorang atau suatu benda menjadi pembahasan yang cukup hangat dibicarakan. Baik tabarruk kepada orang yang masih hidup, atau sudah meninggal, atau tabarruk terhadap barang-barang yang ditinggalkan oleh orang yang dianggap memiliki keshalehan dalam beragama.

Banyak sekali riwayat yang menerangkan tentang tabarruknya para shahabat Nabi kepada Nabi, baik terhadap sesuatu dari tubuh Nabi atau dari barang bekas dari Nabi. Tabarruk itu dilakukan sejak Nabi masih hidup maupun jauh setelah Nabi wafat. Jika tabarruk dianggap syirik karena meminta kepada Allah melalui perantara sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, apakah Nabi tidak menjadi orang pertama yang akan menentang akan hal itu?

Buktinya Nabi dan para shahabat Nabi tetap meminta sesuatu hal kepada Allah, karena tabarruk itu tidak meminta kepada suatu benda. Nabi memberkati orang sakit dengan mengusap kepala dan meminumkan air sisa wudhu’ beliau kepada si sakit. Hal tersebut dalam Shahih Bukhari dan Muslim

عن السَّائِب بْنَ يَزِيدَ، يَقُولُ: ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ، فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ

Al-Sa’ib bin Yazid berkata: “Bibiku pergi bersamaku kepada Rasulullah”. Bibiku berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya anak saudaraku sakit”. Lalu Rasulullah SAW mengusap kepalaku dan berdo’a keberkahan untukku. Kemudian beliau berwudhu, maka aku minum dari air sisa wudhu’nya. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Air wudhu Nabi untuk kesembuhan Jabir. Dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan

عن جَابِر بْنَ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: مَرِضْتُ فَأَتَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ يَعُودَانِي مَاشِيَيْنِ، فَأُغْمِيَ عَلَيَّ، فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَبَّ عَلَيَّ مِنْ وَضُوئِهِ

Dari Jabir bin Abdullah berkata: Ketika Saya sakit, Nabi dan Abu Bakar menjengukku dengan berjalan kaki. Saat Saya tak sadarkan diri, Nabi berwudhu, lantas menyiramkan air wudhu ke Saya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi (w. 676 H) berkomentar atas hadits diatas bahwa hal itu menunjukkan tabarruk dengan bekasnya orang shalih

وَفِيهِ التَّبَرُّكُ بِآثَارِ الصَّالِحِينَ وَفَضْلُ طَعَامِهِمْ وَشَرَابِهِمْ وَنَحْوِهِمَا

Dalam hadits diatas ada dalil tentang tabarruk terhadap atasnya orang shalih, sisa makanan dan minuman dan sebagainya.

Shahabat Nabi dahulu bahkan sampai berebutan air bekas wudhu Nabi. Dalam Shahih Bukhari

وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ

Jika Nabi berwudhu, maka shahabat Nabi berebut air wudhu’nya bahkan mereka hampir saling berantem. (HR. Bukhari).

عن عَوْن بْنُ أَبِي جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ وَهُوَ بِالْأَبْطَحِ فِي قُبَّةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ، قَالَ: فَخَرَجَ بِلَالٌ بِوَضُوئِهِ، فَمِنْ نَائِلٍ وَنَاضِحٍ

Dari Abu Juhaifah dia berkata: Saya mendatangi Nabi di Makkah, ketika itu beliau berada di Abthah, dalam jubah merah terbuat dari kulit. Sekonyong-konyong Bilal datang membawakan air wudhu untuk beliau. Dari sisa air itu ada orang yang mendapatkannya dan ada pula yang hanya mendapat percikannya saja. (HR. Muslim)

فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ

Nabi wudhu, lantas orang berebut mengambil air bekas wudhu Nabi dan mengusapkannya ke badan mereka. (HR. Bukhari)

Maka Imam an-Nawawi (w. 676 H) berkomentar

فَرَأَيْتُ النَّاسَ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَفِيهِ التَّبَرُّكُ بِآثَارِ الصَّالِحِينَ وَاسْتِعْمَالِ فَضْلِ طَهُورِهِمْ وَطَعَامِهِمْ وَشَرَابِهِمْ وَلِبَاسِهِمْ

Disini ada tabarruk dengan bekas barangnya orang shalih dan fadhilah menggunakan air bekas bersucinya, makanannya, minumannya dan pakaiannya.

Maka, fakta sejarahnya air bekas wudhu Nabi menjadi bahan rebutan dan tabarrukannya para shahabat Nabi. Apakah para shahabat Nabi itu punya keyakinan bahwa air bekas Nabi itu bisa memberi manfaat atau menolak madharrat? Apakah keyakinan itu menjadikan mereka syirik? Tentu tidak. Para shahabat Nabi tetap meminta keberkahan kepada Allah

Nabi Ya’kub a.s tabarruk dengan baju qamis anaknya, Nabi Yusuf untuk kesembuhan matanya, sebagaimana diceritakan Allah dalam surat Yusuf : 93

اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku (Q.S. Yusuf : 93)

Photo by Louis Maniquet on Unsplash

Mata Nabi Ya’kub sembuh seketika, pada saat wajah beliau menyentuh qamis Nabi Yusuf, sebagaimana kisah selanjutnya

فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui tentang Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.S. Yusuf : 96)

Dalam Tafsir al-Baidhawy Nabi Musa jika berperang membawa Tabut, maka jiwa Bani Israil menjadi tenang. Allah menjadi peninggalan dari keluarga Musa dan keluarga Harun sebagai tanda keberkahan dari kerajaan Thalut.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya tanda kerajaannya adalah datangnya Tabut kepadamu, yang di dalamnya terapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh Malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu, jika kamu orang beriman. (QS. Al-Baqarah: 248)

Ibnu Katsir meriwayatkan dari para mufassir bahwa maksud dari peniggalan keluarga Musa dan Keluarga Harun adalah tongkat Musa, dua sandal dan pecahan dari Taurat yang dahulu pernah dibanting oleh Nabi Musa

Para ulama mensunnahkan baca basmalah dalam mengawali segala sesuatu. Hal itu dalam rangka mendapatkan berkahnya basmalah. Hal itu bisa juga kita temukan di hampir semua kitab para ulama, selalu dimulai dengan basmalah. Termasuk dalam hal-hal yang lain, misalnya makan, minum, mandi, wudhu, baca Al-Qur’an, tayammum, naik kendaraan, belajar, tidur, dll.

Bagikan artikel ini ke :