Sujud Syukur Agar Terhindar dari Bencana

Dibaca normal 3 menit

Sujud merupakan bentuk serapan dari bahasa arab. Kata tersebut sudah baku dalam KBBI, yang berarti berlutut serta meletakkan dahi ke lantai (misalnya pada waktu salat) sambil membaca tasbih dan pernyataan hormat dengan berlutut serta menundukkan kepala sampai ke tanah. Kata sujud dalam bahasa arab berasal dari tiga huruf yaitu “س ج د”. Secara bahasa, sujud berarti al-khudhu’ (الخضوع), at-tazallul (التذلل) yaitu merendahkan diri badan. dan al-mailu (الميل) yaitu mendoncongkan badan ke depan.

Secara syar’i, yang dimaksud dengan sujud menurut jumhur ulama adalah meletakkan 7 anggota badan ke tanah, yaitu wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua tapak kaki. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk melakukan sujud kepada Allah SWT

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه:ِ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ : عَلَى الجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas 7 anggota. (Yaitu) wajah (dan beliau menunjuk hidungnya), kedua tangan, kedua lutut dan kedua tapak kaki. (HR. Bukhari dan Muslim).Sedangkan kata syukur secara bahasa dalam Al-Mausu’ah al-Kuwaitiyyah berarti

الاِعْتِرَافُ بِالْمَعْرُوفِ الْمُسْدَى إِلَيْكَ وَنَشْرُهُ وَالثَّنَاءُ عَلَى فَاعِلِهِ

Mengakui kebaikan yang diberikan kepadamu, menyebarkannya dan memuji pelakunya

Dalam Bahasa Indonesia, syukur artinya rasa terima kasih kepada Allah dan untunglah (pernyataan lega, senang, dan sebagainya). Lawan dari kata syukur adalah kufur

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.(QS. Luqman : 12).

Sedangkan secara istilah syar’i, yang dimaksud dengan syukur menurut Syihabuddin ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj adalah

صَرْفُ الْعَبْدِ النِّعَمَ الَّتِي أَنْعَمَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْهِ فِي طَاعَتِهِ

Pengelolaan seorang hamba atas kenikmatan-kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadanya dalam ketaatan kepada-Nya.

Hakikat syukur adalah menampakkan pengaruh nikmat baik lewat lisan, hati maupun anggota badan. Lisan menyebutkan, mengakui dan memuji Allah, hati mengakui dan membenarkan, sedangkan anggota badan merealisasikan dengan mengerjakan hal-hal yang diridhai Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan sujud syukur secara istilah dalam kitab Asnalmathalib adalah sujud yang dilakukan karena mendapatkan nikmat yang besar atau terhindar dari bencana.

Sujud syukur di Indonesia sudah menjadi hal yang lumrah kita temui, baik pejabat jika menang pilkada, atlit ketika menang perlombaan, atau saat pengumuman kelulusan. Karena memang negara kita secara fiqih kebanyakan bermazhab Syafi’i, meski mereka tak begitu menyadarinya.

Padahal ternyata para ulama dahulu mereka berbeda pendapat tentang pensyariatan sujud syukur ini. Sebagian mengatakan bahwa sujud syukur memang disyariatkan, namun sebagian ulama lain mengatakan bahwa sujud syukur tidak disyariatkan

Mazhab Asy-Syafi’iyah, Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir, Ibnu Rajab al-Hanbali adalah ulama yang mengatakan bahwa sujud syukur ini disyariatkan. Abu Yusuf dan Muhammad, keduanya murid Imam Abu Hanifah, termasuk yang setuju dengan pendapat ini. Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitabnya al-Umm

وَنَحْنُ نَقُولُ: لَا بَأْسَ بِسَجْدَةِ الشُّكْرِ وَنَسْتَحِبُّهَا وَيُرْوَى عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ سَجَدَهَا، وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – وَهُمْ يُنْكِرُونَهَا يَكْرَهُونَهَا وَنَحْنُ نَقُولُ لَا بَأْسَ بِالسَّجْدَةِ لِلَّهِ تَعَالَى فِي الشُّكْرِ.

Kita berkata bahwa sujud syukur itu tak apa-apa dilakukan, bahkan kita mengatakan hukumnya mustahab (disukai). Hal itu karena telah diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau melakukan sujud syukur, Abu Bakar, Umar juga melakukannyaMazhab Hanbali dalam hal ini berpendapat sama dengan mazhab Syafii. Ibnu Qudamah al-Hanbali menuliskan dalam kitab al-Mughni

فَصْلٌ: وَيُسْتَحَبُّ سُجُودُ الشُّكْرِ عِنْدَ تَجَدُّدِ النِّعَمِ وَانْدِفَاعِ النِّقَمِ

Disunnahkan melakukan sujud syukur, ketika mendapatkan nikmat dan terhindar dari mara bahaya.Dasar dalil yang mereka gunakan adalah hadits Nabi shallaallahu alalihi wa sallam

عَن أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا أَتَاهُ أَمْرُ سُرُورٍ – أَوْ: بُشِّرَ بِهِ – خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ

Dari Abi Bakrah radhiyallahuanhu bahwa Nabi shallaallahu alalihi wa sallam bila mendapatkan hal-hal yang membuatnya bergembira atau diberi kabar gembira, beliau bersujud syukur kepada Allah. (HR. Abu Daud dan Tirmizy)

Hal yang demikian juga dilakukan oleh penerus beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu. Beliau melakukan sujud syukur ketika mendengar Musailimah Al-Kadzzab, orang yang mengaku menjadi nabi, mati terbunuh. Umar bin Khattab juga sujud syukur saat Mesir takluk dalam genggaman umat Islam. Ali bin Abi Thalib juga melakukan sujud syukur ketika menemukan Dza Tsudayyah mati di tengah korban dari pihak Khawarij.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ جِبْرِيل قَال لِلنَّبِيِّ : يَقُول اللَّهُ تَعَالَى: مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَسَجَدَ النَّبِيُّ شُكْرًا لِلَّهِ

Dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahuanhu bahwa Jibril berkata kepada Nabi SAW, “Allah telah berfirman, “Orang yang bershalawat kepadamu, maka Aku bershalawat kepadanya. Orang yang memberi salam kepadamu, maka AKu memberi salam untuknya”. Maka Nabi SAW melakukan sujud syukur.” (HR. Ahmad)

Selain itu juga ada hadits dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahuanhu tentang komentar Rasulullah SAW atas sujud syukur yang beliau kerjakan

سَجَدَهَا دَاوُدُ تَوْبَةً وَأَسْجُدُهَا شُكْرًا

Nabi Daud bersujud karena bertaubat. Sedangkan Aku bersujud karena bersyukur. (HR. An-Nasa’i)

Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa sujud syukur tidak disyariatkan, didukung oleh Ibrahim An-Nakhai. Al-Hanafiyah mengatakan bahwa sujud syukur itu hukumnya tidak disukai (karahah) dan tidak melahirkan pahala. Meninggalkan sujud syukur malah lebih utama. Sebagaimana tertulis dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyyah sebuah kitab yang menuliskan fatwa-fatwa madzhab Hanafi

وسجدة الشكر لا عبرة لها عند أبي حنيفة – رحمه الله تعالى – وهي مكروهة عنده لا يثاب عليها وتركها أولى

Sujud syukur itu tak dianggap menurut Abu Hanifah, bahkan hukumnya makruh, tidak mendapat pahala, dan lebih baik ditinggalkan.

Pendapat yang masyhur dalam mazhab Al-Malikiyah juga mengatakan bahwa sujud syukur itu makruh hukumnya. Dzahirnya, sujud syukur dalam pandangan mereka karahatu-tahrim. Ibnu al-Qasim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas (w. 179 H) tentang sujud syukur sebagaimana dijelaskan dalam al-Mudawwanah

قَالَ ابْنُ الْقَاسِمِ وَسَأَلْتُ مَالِكًا عَنْ سُجُودِ الشُّكْرِ يُبَشَّرُ الرَّجُلِ بِبِشَارَةٍ فَيَخِرُّ سَاجِدًا؟ فَكَرِهَ ذَلِكَ

Ibnu Qasim pernah bertanya kepada Imam Malik tentang sujud syukur ketika seseorang mendapatkan kabar baik, beliau tidak menyukainya.Meski ada 3 riwayat yang berkembang berkaitan dengan pendapat Imam Malik bin Anas tentang sujud syukur

(وَكُرِهَ سُجُودُ شُكْرٍ، أَوْ زَلْزَلَةٍ) ابْنُ عَرَفَةَ: فِي جَوَازِ السُّجُودِ لِلشُّكْرِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْعِهِ ثَلَاثُ رِوَايَاتٍ

Dimakruhkan sujud syukur atau sujud karena gempa. Ibnu Arafah menyebutkan bahwa dalam mazhab Maliki ada 3 riwayat dalam hal boleh tidaknya sujud syukur. (Muhammad bin Yusuf al-Maliki, at-Taj wa al-Ikli)

Dasar pengambilan kesimpulan mereka bahwa sujud syukur itu tak disyariatkan adalah bahwa begitu banyak terjadi kemenangan (futuhat) Islam dalam peperangan, namun Rasulullah shallaallahu alaihi wa sallam dan para shahabat tidak melakukan sujud syukur.

Bagikan artikel ini ke :