Sakit Tidak Menggugurkan Kewajiban Sholat

Dibaca normal 5 menit

Ketentuan dalam masalah keringanan melaksanakan ibadah sholat, pada prinsipnya orang sakit tidak dicabut kewajiban sholatnya. Namun mendapatkan beberapa keringanan. Untuk itu dalam menetapkan bentuk-bentuk keringanan, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Yang paling dasar dan sangat penting adalah sakit tidak menggugurkan kewajiban sholat. Sebab banyak sekali orang yang keliru dalam memahami bentuk-bentuk keringanan, sehingga terlalu memudah-mudahkan hingga keluar batas.

Tidak mentang-mentang seseorang menderita suatu penyakit, lantas dia boleh meninggalkan sholat seenaknya. Kalau pun terpaksa harus meninggalkan sholat, karena alasan sakit yang tidak mungkin bisa mengerjakan sholat, tetap saja sholat itu menjadi hutang yang harus dibayarkan di kemudian hari.

Seseorang yang sakit tetap diwajibkan untuk mendirikan sholat dengan melakukan gerakan dan posisi-posisi sholat sebisa dan semampu yang dia lakukan, meski pun tidak sampai sempurna.

فَاتَّقُوا اللهَ مَا سْتَطَعْتُم

Dan bertaqwalah kepada Allah semampu yang kamu bisa (QS. At-Taghabun : 16)

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bila kalian diperintah untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakannya semampu yang bisa kamu lakukan. (HR.Bukhari)

Prinsipnya, apa pun gerakan dan bacaan sholat yang masih bisa dikerjakan, maka tetap wajib untuk dikerjakan. Dan apa yang sama sekali sudah mustahil bisa dilakukan, barulah boleh untuk ditinggalkan. Dalam konteks ini, kita tidak mengenal prinsip take it or leave it. Tapi yang berlaku adalah sebagaimana kaidah ini

مَالاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ

Apa yang tidak bisa didapat secara keseluruhannya, bukan berarti harus ditinggalkan semuanya

Orang sakit yang akan melaksanakan sholat dan mendapat keringan, keringanan tersebut tidak boleh mengarang sendiri. Tidak mentang-mentang mendapatkan keringanan, lantas kita boleh mengarang-ngarang sendiri bentuk keringanan seenak selera kita. Keringanan yang Allah SWT berikan kepada orang sakit bukanlah cek kosong yang boleh diisi seenaknya. Tetap saja ada banyak keterbatasan syariah yang mengiringi.

Misalnya, orang sakit tetap wajib sholat sejumlah rakaat yang telah ditetapkan, dan tidak boleh mengurangi jumlah rakaat. Yang tadinya sholat Dzhuhur empat rakaat, tidak boleh tiba-tiba dikurangi jadi tinggal 1 rakaat, dengan alasan lagi sakit. Begitu juga yang seharusnya sholat itu 5 waktu dalam sehari semalam, tidak boleh kita ubah jadi cuma 3 waktu saja.

Maka keringanan yang dijalankan harus bentuk-bentuk keringanan yang ada dalilnya dan tidak boleh keringanan yang seenak selera pribadi. Di antaranya adalah Wudhu atau mandi janabah boleh diganti dengan tayammum, tidak bisa berdiri boleh sholat sambil duduk atau berbaring, tidak bisa menghadap kiblat, gugurnya kewajiban sholat berjamaah dan juga gugurnya kewajiban sholat Jumat

Dalam perkara bersuci untuk mengangkat hadats, apabila tidak dimungkinkan bagi orang yang sedang sakit untuk menggunakan air, baik untuk berwudhu’ atau mandi janabah, maka para ulama menetapkan kebolehan bertayammum. Tidak boleh terkena air itu karena ditakutnya akan semakin parah sakitnya atau terlambat kesembuhannya oleh sebab air itu. Baik atas dasar pengalaman pribadi maupun atas petunjuk dari dokter atau ahli dalam masalah penyakit itu. Maka pada saat itu boleh baginya untuk bertayammum.

reserved by alchroniclez

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : خَرَجْنَا فيِ سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَر فَشَجَّهُ فيِ رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ هَلْ تَجِدُونَ ليِ رُخْصَةً فيِ التَّيَمُّم ؟ فَقَالُوا : مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلى المَاء فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلىَ رَسُولِ اللهِ أَخْبَرَ بِذَلِكَ فَقَالَ : قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ الله أَلاَ سَأَلُوا إِذَا لَم يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شِفَاءُ العَيِّ السُّؤَال إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

Dari Jabir radhiyallahuanhu berkata “Kami dalam perjalanan tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan pecah kepalanya. Namun (ketika tidur) dia mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada temannya “Apakah kalian membolehkan aku bertayammum ?”. Teman-temannya menjawab “Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air”.

Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati (akibat mandi). Ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu bersabdalah beliau “Mereka telah membunuhnya semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu ? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum. (HR. Abu Daud, Ad-Daruquthuny).

Selaint itu ada juga keringanan tidak bisa berdiri. Dalam kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir, berdiri merupakan rukun di dalam sholat fardhu, dimana seorang bila meninggalkan salah satu dari rukun sholat, maka hukum sholatnya itu tidak sah. Namun bila seseorang karena penyakit yang dideritanya, dia tidak mampu berdiri tegak, maka dia dibolehkan sholat dengan posisi duduk.

كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ رَسُول اللَّهِ فَقَال : صَل قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبِكَ

Dari Imran bin Hushain berkata,”Aku menderita wasir, maka aku bertanya kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda,”Sholatlah sambil berdiri, kalau tidak bisa, maka sholatlah sambil duduk. Kalau tidak bisa, sholatlah di atas lambungmu. (HR. Bukhari)

Photo by Rifky Nur Setyadi on Unsplash

Orang sakit yang tiidak bisa ruku juga mendapat keringanan. Sebagaimana kita ketahui bahwa ruku’ di dalam sholat adalah rukun yang bila tidak dikerjakan, maka sholat itu tidak sah hukumnya. Di dalam Al-Quran Allah SWT telah menetapkan

ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا

Ruku’ lah dan sujudlah (QS. Al-Hajj : 77)

Dan alasan sakit membolehkan seseorang tidak melakukan gerakan ruku’ yang seharusnya. Hanya saja para ulama agak sedikit berbeda tentang posisi yang menggantikan ruku. Menurut jumhur ulama dalam Al-Muhadzdzab, orang yang tidak bisa melakukan gerakan atau berposisi ruku’, dia harus berdiri tegak, lalu mengangguk kepala, namun masih tetap berdiri.

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Berdirilah untuk Allah dengan Khusyu’

Maksudnya, bila orang sakit tidak mampu melakukan gerakan ruku, maka dia mengambil posisi dasar yaitu berdiri. Ruku’nya hanya dengan mengangguk saja.

Namun menurut pendapat Al-Hanafiyah dalam Al-Hidayah, orang yang tidak mampu melakukan gerakan ruku’, secara otomatis tidak lagi wajib melakukan posisi berdiri. Sehingga dia sholat sambil duduk saja, rukunnya dengan cara mengangguk dalam posisi duduk, bukan dari posisi berdiri.

Ada juga keringanan bagi orang yang tidak bisa sujud. Posisi sujud adalah bagian dari rukun sholat yang apabila ditinggalkan akan membuat sholat itu menjadi tidak sah. Sebagaimana ruku’ yang juga merupakan rukun sholat

ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا

Ruku’ lah dan sujudlah (QS. Al-Hajj : 77)

Namun orang yang sakit dan tidak mampu untuk melakukan gerakan sujud, tentu tidak bisa dipaksa. Dia mendapatkan keringanan dari Allah SWT untuk sebisa-bisanya melakukan sujud, meski tidak sempurna. Dalam Ash-Syarhu Ash-Shaghir, orang yang bisa berdiri tapi tidak bisa sujud, dia cukup membungkuk sedikit saja dengan badan masih dalam keadaan berdiri. Dia tidak boleh berbaring, sambil menganggukkan kepala untuk sujud. Bila hal itu dilakukannya malah akan membatalkan sholatnya.

إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَسْجُدَ عَلَى الأْرْضِ وَإِلاَّ فَأَوْمِئْ إِيمَاءً وَاجْعَل سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ

Bila kamu mampu untuk sujud di atas tanah, maka lakukanlah. Namun bila tidak, maka anggukan kepala. Jadikan sujudmu lebih rendah dari ruku’mu. (HR. Ath-Thabrani)

Ada juga keringanan bolehnya tidak mengikuti sholat berjamaah. Meskipun jumhur ulama tidak mewajibkan sholat berjamaah, namun mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa sholat berjamaah di masjid bersama imam hukumnya fardhu ‘ain. Salah satu dalil yang dipakai untuk mewajibkan sholat berjamaah adalah bahwa Rasulullah SAW tetap mewajibkan Abdullah bin Ummi Maktum yang buta untuk ke masjid sholat berjamaah.

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال : أَتَى النَّبِيَّ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَال : يَا رَسُول اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَل رَسُول اللَّهِ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَال : هَل تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ قَال : نَعَمْ قَال : فَأَجِبْ

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata,”Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya,’Apakah kamu dengar adzan sholat?’. ‘Ya’, jawabnya. ‘Datangilah’, kata Rasulullah SAW. (HR. Muslim)

Namun dalam kasus seorang sedang mengalami sakit, kewajiban sholat berjamaah di masjid bersama imam menjadi gugur. Orang sakit boleh sholat sendirian di rumahnya. Lalu kenapa orang buta tetap wajib sholat berjamaah, bukankah dia termasuk orang cacat?

Jawabnya bahwa orang buta itu memang cacat dan tidak bisa melihat, namun badannya ttap sehat. Hal ini berbeda dengan orang sakit yang memang mendapat udzur syar’i untuk tidak berjamaah ke masjid. Ini adalah bentuk keringanan yang diberikan oleh mazhab Al-Hanabilah sebagai pendapat yang asalnya mewajibkan sholat berjamaah.

Dan juga seluruh ulama sepakat bahwa orang sakit termasuk mereka yang gugur kewajibannya untuk mengerjakan sholat Jumat. Namun demikian, dia tetap diwajibkan mengerjakan sholat Dzhuhur sendirian. Dalil bolehnya orang sakit tidak ikut sholat Jumat ada banyak,

وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ :الْجُمْعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌﻋﻠَﻰ ُﻛﻞ ُﻣﺴْﻠِﻢٍ ِفِي جَمَاﻋﺔٍ إِﻻﱠ أرﺑَـﻌﺔ : مَمْلُوكٌ وَامْرَأَةٌ وَصَبِيٌّ وَمَرِيضٌ

Dari Thariq bin Syihab radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sholat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang, yaitu budak, wanita, anak kecil dan orang sakit.” (HR. Abu Daud)

Bagikan artikel ini ke :