Rukyat dan Istikmal, Cara Menentukan Awal Ramadhan

Dibaca normal 2 menit

Uniknya Ramadhan di Indonesia itu bukan hanya variasi tradisi dan budaya yang dilakukan masyarakatanya, seperti tarawih keliling, grebek sahur atau juga bagi-bagi ta’jil, sampai takbir keliling. Tapi juga yang unik dan khas Ramadhan di Indonesia adalah banyaknya perdebatan masalah agama khususnya puasa yang terjadi di antara sesama saudara muslim. Terlebih lagi jika dia menjadi eksponen bagi suatu ajaran atau aliran tertentu dalam Islam.

Bahkan puasa belum dimulai pun, perdebatan sudah terjadi di kalangan umat Islam Indonesia; yakni dalam masalah penentuan Ramadhan. Maklum saja, karena di Indonesia banyak sekali oraganisasi masyarakat Islam yang merasa punya wewenang dan kuasa untuk menentukan awal Ramadhan. Uniknya lagi, setiap ormas Islam itu punya metode sendiri-sendiri yang berbeda dengna ormas Islam lainnya terlebih lagi pemerintah pusat. Walhasil, tanggal 1 Ramadhan di Indonesia pun akhirnya bisa terjadi pada 2 atau 3 haris beruntun. Itu juga terjadi untuk Idul Fitri.

Untuk menentukan awal Ramadhan, ulama menetapkan dengan 2 cara, yakni dengan cara Rukyah atau biasa dengan sebutan yang lebih lengkap, rukyatul-Hilal. Dan juga dengan cara melengkapi bilangan Sya’ban menjadi 30 hari.

Ru’yat yang berarti melihat dengan mata, dan hilal yang berarti bulan sabit. Disebut bulan sabit karena yang dilihat adalah keberadaan bulan di awal yang bentuknya masih sabit, belum terlihat bulat dari bumi. Penentuan awal bulan Ramadhan adalah jika hilal sudah terlihat di tanggal 29 Sya’ban, sesaat setelah terbenamnya matahari. Melakukan ru’yatul hilal adalah cara yang disyariatkan di dalam agama dan diperintahkan oleh Rasulullah SAW.

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

Berpuasalah kamu saat melihatnya (hilal) dan berifthar (lebaran) saat melihatnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ikmal atau istikmal adalah menggenapkan hitungan bulan menjadi 30 hari, pada saat hilal tidak nampak di tanggal 29 Sya’ban itu. Ini diambil jika memang kondisi langit ketika itu tidak memungkinkan untuk kita melihat hilal. Entah karena awan gelap, cuaca mendung atau bahkan hujan lebat. Maka, yang dilakukan ketika itu adalah melengkapi bilangan bulan sya’ban sebanyak 30 hari.

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُم فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ

bila tidak nampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya’ban menjadi 30 hari. (HR. Bukhari dan Muslim).

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ حَال بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابَةٌ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالاً

Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru. (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)

Jadi bulan Sya’ban digenapkan bilangannya menjadi 30 hari. Dan inilah pendapat kebanyakan para ulama (jumhur) sepanjang masa. Dan memang bilangan bulan tidak mungkin lebih dari 30 hari; karena memang itu pun sudah diberitahu oleh Nabi s.a.w. dalam sabdanya

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا : يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةَ وَ عِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ

Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis atau berhitung. Satu bulan itu adalah ini dan ini, maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari. (HR. Bukhari dan Muslim)