Rebutan Sedekah, Tradisi Keliru di Bulan Ramadhan

Memperbanyak shadaqah sangat disunnahkan saat kita sedang berpuasa, termasuk diantaranya adalah memberi keluasan belanja pada keluarga, berbuat ihsan kepada famili dan kerabat serta memperbanyak shadaqah. Rasulullah adalah orang yang paling bagus dalam kebajikan. Dan menjadi lebih baik lagi saat bulan Ramadhan ketika Jibril as. mendatanginya.

أَنَّهُ كَانَ أَجْوَدُ النَّاسِ بِالخَيْرِ وَكاَنَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فيِ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيل

Rasulullah SAW itu orang yang sangat murah dengan sumbangan. Namun saat beliau paling bermurah adalah di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tradisi yang sudah baik ini kadang juga dicemari dengan fenomena yang merusak keberkahan bersedekah, yaitu budaya untuk berebutan uang sedekah. Seolah-olah keberkahan itu akan bertambah kalau orang-orang miskin berebutan uang sedekah, yang kadang sampai memakan korban jiwa.

Padahal budaya ini tidak datang dari tradisi Islam. Sebab dalam syariat Islam, ada petugas zakat yang memang ditugaskan untuk mendata orang-orang miskin, lalu kepada mereka diserahkan harta zakat. Dan bukan dilakukan dengan cara rebutan massal, seperti dalam tradisi keraton kuno.

Kita tentu masih ingat peristiwa naas pada September 2008, yang memakan korban jiwa 21 orang meninggal dunia akibat pembagian sedekah yang tidak profesional. Semua terjadi akibat berjejalnya sekitar 5.000 fakir miskin calon penerima di depan mushalla milik keluarga H Saikhon di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Kelurahan Purutrejo, Kec. Purworejo, Kota Pasuruan.

Meski mushalla itu menjadi pusat pembagian uang, namun pintu gerbang halamannya hanya dibuka untuk satu per satu orang saja. Akibatnya, ribuan orang yang terkonsentrasi di gang depan mushalla tak bisa bergerak. Bahkan orang yang pingsan pun tidak bisa keluar dari kerumunan.

Selain 21 korban tewas, terdapat 14 korban luka-luka dalam insiden yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB itu. Semua korban adalah wanita, yang berusaha mendapatkan sedekah berupa uang sekitar Rp 30.000/orang.

Kalau dikatakan bahwa bulan Ramadhan itu bulan yang kita dianjurkan banyak mengeluarkan sedekah, maka yang dimaksud adalah sedekah sunnah. Sedekah sunnah itu memang tidak ada ketentuan yang baku. Dari jenis harta apa saja, kalau kita ingin bersedekah, silahkan saja. Tidak ada ketentuan batas nishab, haul dan juga bebas diserahkan kepada siapa saja, tanpa harus terikat dengan jenis asnaf tertentu.

Namun semua itu justru berbanding terbalik dengan zakat. Zakat adalah bagian dari ibadah maliyah (dengan harta). Namun ketentuan zakat sangat unik dan penuh dengan berbagai aturan yang ketat. Sehingga kita tidak bisa mencampur-aduk antara sedekah sunnah dengan zakat.

Dan yang lebih parah, jangan sampai kita serius bersedekah sunnah, namun membayar zakat yang hukumnya wajib, malah tidak terlaksana. Hal seperti ini kalau ibarat orang berpakaian, pakai dasi tapi tidak pakai celana. Akibatnya seperti mencari jarum tapi mobil hilang.

Adapun membayar zakat di bulan Ramadhan, sebenarnya tidak ada kewajiban secara khusus. Kalau pun ada zakat yang kita bayarkan di bulan Ramadhan, sebenarnya hanya zakat al-fithr. Dimana aslinya, zakat al-fithr itu dibayarkan kepada fakir miskin di hari Raya Idul Fithr, maksimal sebelum shalat Idul Fithr usai. Namun para ulama membolehkan bila dibayarkan sebelumnya, sejak malamnya, atau bahkan sejak beberapa hari sebelumnya.

Selebihnya, tidak ada kewajiban membayar zakat harta di bulan Ramadhan. Sebab jadwal untuk membayar zakat harta tergantung dari kapan jatuh tempo satu haul. Dan tidak boleh dengan keliru dijatuhkan begitu saja di bulan Ramadhan. Orang yang terhitung uang tabungannya mencapai jumlah nishab pada tanggal tertentu, maka dia wajib membayar zakat uang tabungannya itu setahun kemudian, terhitung sejak hari pertama hartanya mencapai nishab.

Sebagai ilustrasi, misalnya pak Budi pada tanggal 15 Rabiul Awwal 1432 H menjual tanah dengan nilai 100 juta. Uangnya kemudian disimpan di bank. Maka sejak hari itu tercatat bahwa uang itu akan mulai terhitung hitungan hari pertama untuk haul. Setahun ke depan, tepat pada tanggal 15 Rabiul Awwal 1433 H, bila uangnya masih di atas nishab, yaitu seharga 85 gram emas, maka wajiblah pak Budi membayar zakat atas uang tabungan.

Nishab uang tabungan sama dengan dengan nishab emas. Kalau harga 1 gram emas setara dengan 500 ribu, maka nishab uang tabungan adalah 42,5 juta rupiah. Kalau uang pak Budi masih di atas 42,5 juta rupiah, katakanlah misalnya menjadi 80 juta, maka kewajiban membayar zakat uang tabungannya adalah 2,5% x 80 juta, sama dengan 2 juta.

Namun bila uang pak Budi di tabungan setelah setahun kemudian menjadi berkurang, tinggal 35 juta misalnya, maka pak Budi tidak wajib membayar zakat atas uang tabungannya. Pelajaran yang paling penting dari masalah ini adalah, kapan pak Budi wajib mengeluarkan zakat? Jawabnya adalah ketika uang tabungannya yang mencapai nishab itu telah dimiliki selama masa satu tahun qamariyah. Dan jatuh temponya tidak ada kaitannya dengan bulan Ramadhan.

Nah, pada titik inilah kita sering menyaksikan orang-orang dengan lugunya membayar zakat mal, tetapi tidak mengindahkan aturan main yang telah Allah SWT tetapkan, yaitu masalah jadwal pembayaran zakat.

Sebenarya para amil zakat wajib meluruskan kekeliruan pandangan yang terlanjur menyebar ini. Sayangnya, justru para petugas di berbagai konter zakat yang menyebar itu, malah tidak tahu urusan ilmu syariah zakat ini. Dan tidak memiliki niat baik untuk mengedukasi umat Islam. Yang lebih ditonjolkan adalah bagaimana menarik uang umat melalui cara apa saja, yang penting setoran besar, tanpa mengindahkan aturan dan ketentuan zakat itu sendiri. Sungguh amat disayangkan.

Bagikan artikel ini ke :