Puasa Bulan Rajab Adalah Sunnah

Dibaca normal 4 menit

Allah SWT menciptakan manusia dan memberikan keistimewaan kepada salah seorang di antara mereka yakni para Rasul dan NabiNya. Allah SWT juga memberikan satu hari di antara hari-hari yang ada, yakni hari jumat. Dan Allah SWT memberikan keistimewaan satu malam di antara malam-malam yang ada, yakni malam Lailtul Qadr.

Sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 197, Allah SWT juga mengistimewakan shalat al-Wustha di antara shalat fardhu yang lain, yang mana beberapa ulama menafsirkan bahwa shalat alWustha itu adalah shalat Ashar. Begitu juga pada perihal bulan-bulan yang ada, bahwa Allah SWT memberikan keistimewaan pada bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lainnya.

Imam al-Thabari dalam tafsirnya menukil perkataan sahabat Ibnu Abbas r.a, perihal kemuliaan yang Allah SWT berikan untuk bulanbulan haram ini :

خصَّ من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حُرُمًا، وعظّم حُرُماتهن، وجعل الذنبَ فيهن أعظم،والعمل الصالح والأجر أعظم

Allah SWT memberika keistimewaan untuk empat bulan haram di antara bulan-bulan yang ada, dan diagungkan kemuliaannya bulan itu, dan menjadikan dosa yang terbuat serta amal ibadah yang dilaksanakan menjadi lebih besar ganjaran dosa dan pahalanya. (Tafsir al-Thabari)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir surat yang sama, beliau menukil perkataan Imam Qatadah, ahli tafsir dari kalangan Tabi’in

إن الله اصطفى صَفَايا من خلقه، اصطفى من الملائكة رسُلا ومن الناس رسلا واصطفى من الكلام ذكرَه، واصطفى من الأرض المساجد، واصطفى من الشهور رمضانَ والأشهر الحرم، واصطفى من الأيام يوم الجمعة، واصطفى من الليالي ليلةَ القدر، فعظِّموا ما عظم الله، فإنما تعظم الأمور بما عظَّمها الله عند أهل الفهم وأهل العقل.

Allah SWT mensucikan makhluk-Nya di antaranya makhluk-makhluk ciptaany-Nya, mencusikan para rasul dari kalangan malaikat, mensucikan para Rasul di antara manusia yang lain, mensucikan dzikir dari perkataan makhlukNya, mensucikan masjid dari tanah-tanah lain, mensucikan bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lain,

Mensucikan hari jumat di antara hari-hari lain, mensucikan malam lailatul-qadr di antara malam-malam lain. Maka muliakanlah apa yang Allah SWT telah muliakan. Sesungguhnya memuliakan apa yang Allah SWT muliakan adalah yang dilakukan para ahli ilmu dan orang-orang berakal. (tafsir Ibnu Katsir)

Sunnah puasa di bulan-bulan haram. Ini adalah salah satu bentuk pemuliaan atau pernghormatan kepada bulan-bulan haram, yakni berpuasa di dalamnya. Selain untuk memuliakan apa yang Allah SWT muliakan, berpuasa dan memperbanyak amal di bulan Haram adalah upaya memanfaatkan waktu yang Allah SWT sediakan banyak pahala di dalamnya.

Selain karena memang bulan-bulan haram adalah bulan mulia, puasa di dalamnya juga disyariatkan karena memang ada riwayat yang secara eksplisit mensyaratkan itu. Imam Ahmad dalam musnad-nya, serta imam Abu Daud dan juga Imam Ibnu Majah dalam kitab sunan mereka meriwayatkan hadits dari salah seorang dari suku al-Bahilah

Sejarah Singkat Imam Malik

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ

Aku mendatangi Nabi SAW lalu aku berkata kepada beliau: “Wahai Nabi, aku adalah orang yang pernah datang kepadamu di tahun pertama”, Nabi kemudian bertanya: “Kenapa badan kamu menjadi kurus?”, ia menjawab: “Aku selama ini tidak makan dalam sehari kecuali malam saja”, Nabi bertanya: “Siapa yang menyuruhmu menyiksa tubuhmu seperti ini?”, al-Bahiliy menjawab: “Wahai Nabi, aku ini orang yang kuat bahkan lebih kuat”,

Nabi mengatakan: “Puasalah bulan sabar (Ramadhan) saja, dan sehari setelahnya!”, lalu aku menjawab: “Aku lebih kuat dari itu ya Nabi!”, Nabi menjawab: “kalau begitu, puasa ramadhan dan dua hari setelahnya!”, aku menjawab lagi: “Aku lebih kuat dari itu wahai Nabi!”, Nabi berkata: “Kalau begitu, puasa Ramadhan, kemudian tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan haram!”.

Puasa yang disebutkan adalah puasa secara mutlak, artinya puasa dengan waktu yang tidak tertentu, maka puasa di hari ke berapapun dalam bulan-bulan haram itu tidak masalah, karena memang itu disunnahkan. Jadi kalau ada yang melarang orang lain untuk puasa di bulan-bulan haram, bisa jadi ia tidak tahu kemuliaan bulan atau bisa jadi ia mengingkari kemuliaan bulan yang Allah SWT sudah muliakan. Naudzu Billah ini lebih buruk lagi.

Terkait puasa Rajab, jumhur ulama umat ini menghukumi bahwa puasa Rajab itu termasuk ke dalam kelompok puasa-puasa sunnah yang tentunya jika dikerjakan ada pahala yang diperoleh, dan tidak ada tanggungan dosa jika ditinggalkan. Walaupun ada salah satu pendapat bahwa madzhab al-hanabilah memakruhkan itu.

sangat disayangkan sekali jika ada saudara muslim kita yang terlalu gegabah dan terburu-buru menghukumi puasa Rajab itu sebagai perbuatan bid’ah, tanpa melihat dan meneliti dulu apa pendapat ulama umat ini perihal tersebut. Masalahnya menjadi rumit, karena konsekuensi vonis bid’ah kepada saudara muslim, sama saja memvonis sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka, sebagaimana bunyi haditsnya.

Tapi tidak ada satupun ulama salaf yang menghukumi bahwa puasa rajab itu sebagai perkara bid’ah, justru pendapat yang menyalahkan dan mengatakan puasa rajab itu sebagai bid’ah itulah yang mengada-ada, karena tidak ada sandarannya. Kesunahan puasa pada bulan Rajab disandarkan hadits dari salah seorang dari suku al-Bahilah terkait fadhilah bulan-bulan Haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab), serta kesunahan puasa Muthlaq.

Secara eksplisit hadits tersebut mendindikasikan bahwa puasa pada bulan Rajab itu termasuk amalan yang dibolehkan dan disunnahkan. Kalau seandainya terlarang, mana mungkin Nabi SAW memerintahkan orang ini untuk berpuasa pada bulan tersebut.

Selain puasa, ada amalan lain yang sangat dianjurkan dilakukan pada bulan Rajab. Berikut ini amalan-amalan di bulan Rajab di antaranya:

Membaca sebanyak 100 x setiap hari pada tanggal yang ditentukan:

سُبْحَانَ اللّٰهِ الْحَيِّ الْقَيُّومْ

(Subhanallahi al-hayyul qayyum)

Tanggal 1-10 baca 100X

سُبْحَانَ اللّٰهِ الْأَحَدِ الصَّمَدْ

(Subhanallahil ahadisshamad)

Tanggal 11-20 baca 100X

سُبْحَانَ اللّٰهِ الرَّؤُوفْ

(Subhanallahirra’uf)

Tanggal 21-30 baca 100X

Membaca istighfar Rajab pagi dan sore atau setelah salat Shubuh dan Isya’ caranya yaitu setelah salam tanpa merubah posisi duduk tahiyat akhir, langsung membaca doa di bawah ini sebanyak 70x

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَي

“Rabbigh firlii warhamnii watub ‘alayya”

Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah serta terimalah taubatku”

Fadhilah:
Barang siapa yang membaca doa ini selama bulan Rajab maka ia tidak akan tersentuh api neraka, diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT sebanyak apapun dan Akan memperoleh welas asih kasih sayang Allah SWT.

Membaca istighfar setelah Salat Dhuhur selama bulan Rajab sebanyak 70x

استغفر الله العظيم الذي لا اله الا هو الحي القيوم و اتوب اليه، توبة عبد ظالم لا يملك لنفسه ضرا و لا نفعا ولا موتا و لا نشو ر

“Astaghfirullah hal adzim alladzi laa ilaaha illallahual hayyul qoyyum wa atuubu ilaihi, taubata ‘abdin dzoolimin laa yamliku linafsihi dharran wala naf’an wala mautan wala hayatan wala nusyuura”.

Membaca istighfar setelah Salat Ashar selama bulan Rajab dibawah ini sebanyak 7x

استغفر الله العظيم الذي لا اله إلا هو الحي القيوم غفا ر الذ نوب ستار العيوب لن ولو الدينا و لجميع ا المسلمين و اسٔله التو بة والمغفره انك انت الغفور الرحيم التواب الحكيم

“Astaghfirullah hal adzim alladzi laa ilaaha illallahual hayyul qoyyum ghoffaru dzunuubi sattarul ‘uyubi lana waliwalidina wa lii jami’il muslimiina wa as aluhu taubata wal maghfirota innaka antal ghofuurur rohiimut tawwabul hakim”

5. Membaca doa berikut ini setiap selesai sholat fardhu selama bulan Rajab dan Sya’ban

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وقراءة القرآن

“Allahumma baariklana fii rojaba wa sya’bana wa ballighna romadzona wa a’inna ‘alash shiyami wal qiyaami wa qiroatil quraan”

(Dari berbagai hadits Nabi Muhammad Saw yang di kumpulkan dlm kitab Kanzun Najah was Surur Syekh ‘Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali al-Makkiy asy-Syafi’i)

Demikian, Insya-Allah manfaat