Perbedaan Qiraat, Tidak Ada Kaitannya dengan Lahjah dan Dialek

Banyak sekali generasi muda dan aktifis dakwah yang tidak paham konsep perbedaan qiraat dalam Al-Qur’an. Dikiranya perbedaan qiraat itu semata karena kasihan ada suku-suku di Arab zaman Nabi SAW yang tidak mampu melafazkan ayat tertentu, sehingga diberi keringanan boleh baca Al-Qur’an sesuai dengan dialek masing-masing kabilah.

Padahal duduk masalahnya tidak demikian. Perbedaan qiraat ini sebenarnya adalah urusan Allah semata, dimana Dia berkehendak menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan beragam qiraat. Tidak ada kaitannya dengan lahjah dan dialek. Sebab yang berbeda dalam qiraat itu bukan semata lahjah atau dialek saja, melainkan perbedaan lafadz dan kata. Perbedaan kata ini kemudian berakibat pada perbedaan makna. Lalu perbedaan makna pasti juga berakibat pada perbedaan hukum. Sebagai contoh batalkah sentuhan pria pada wanita?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُمۡ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci), usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. (QS An-Nisa’: 43)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِ ۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُواْ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur. (QS Al-Ma’idah 6)

Dibaca panjang laa-mas-tum (لامستم) jauh berbeda dengan dibaca pendek la-mas-tum (لمستم). Padahal dua-duanya bagian dari qiraat yang diakui. La-mas-tum itu artinya menyentuh, misalnya suami menyentuh istri. Sedangkan laa-mas-tum itu maknanya ‘saling menyentuh’, suami istri saling sentuh di antara mereka. Al-Mawardi, Al-Qadhi Husein, dan Al-Mutawalli menjelaskan begini : Bila dibaca panjang laa-mas-tum, maka yang menyentuh dan yang disentuh sama-sama batal wudhu’nya. Sebaliknya kalau dibaca pendek, maka yang batal wudhu’nya hanya yang menyentuh, sedangkan yang disentuh tidak batal.

Contoh yang kedua terkait dengan kapan boleh jima’ pasca haidh? Selama haidh memang tidak boleh jima’, sebagaimana dilarang dalam surah Al-Baqarah ayat 222

وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِ ۖ قُلۡ هُوَ أَذًى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلۡمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

Yang jadi masalah, sampai kapan kah larangan ini berlaku? Apakah hingga darah berhenti atau kah hingga mandi janabah? Masalahnya ada dua qiraat yang berbeda, yaitu yath-hur-na (يَطْهُرْنََ ) menurut riwayat riwayat Nafi’, Abu Amr, Ibnu Katsir, Ibnu Amir, dan Ashim lewat jalur Hafsh yang mempunyai arti mereka suci. dan yath-thah-har-na (يَطَّهَّرْنََ ) menurut riwayat Hamzah, Al-Kisa’i, Ashim dari jalur Abu Bakar yang artinya mereka bersuci. Bahkan dalam mushaf Ubay, Abdullah dan Anas bin Malik tertulis ya-ta-thah-har-na (يَتَطَهَّرْنََ ) yang artinya mereka menyucikan dirinya.

Suci dan bersuci ternyata berbeda maknanya. Kalau dibilang sampai suci, berarti asalkan darah sudah tidak keluar, sudah boleh jima’. Tapi kalau dibilang sampai dia bersuci, berarti baru boleh jima’ kalau su-dah mandi hadtas besar setelah darah berhenti.

Bagikan artikel ini ke :