Pembukuan Al-Qur’an Tidak Pernah Dilakukan Dimasa Nabi

Tulisan tangan para shabat dalam aksara Arab dalam Al-Quran di masa itu belum seperti yang kita kenal saat ini. Namun bagi mereka para sahabat sama sekali tidak jadi masalah atas penulisan tersebut. Dan mereka tidak pernah keliru dalam membacanya. Pembukuan mushaf Al-Qur’an tidak pernah dilakukan di masa kenabian. Nabi SAW tidak pernah punya rencana membukukan Al-Qur’an. Beliau wafat 23 tahun setelah ayat pertama turun, sedangkan Al-Qur’an masih belum berbentuk buku.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari “Buku Pertama dalam Sejarah Islam”

Secara fisik masih tertulis di atas empat macam media, yaitu kulit, pelepah kurma, batu dan tulang. Dalam keadaan berserakan, tiap satu benda itu belum disusun sesuai urutan ayat, dan juga belum terkumpul berdasarkan kelompok surat.

Baca : Al-Qur’an Ada Dua Macam?

Setelah wafatnya Nabi SAW di masa Khalifah Abu Bakar, muncul kemudian usulan dari Umar bin Al-Khattab untuk mengumpulkan ayat-ayat yang berserakan itu dalam satu ikatan atau bundelan. Usulan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh khalifah Abu Bakar. Alasannya sangat masuk akal, yaitu perkara tersebut merupakan bid’ah bahwa Nabi SAW tidak pernah memerintahkan, juga tidak pernah mencontohkan, bahkan juga sama sekali tidak permah mengisyaratkan.

Namun pada akhirnya Abu Bakar setuju dan menugaskan Zaid untuk menggarap proyek pembukuan tersebut. Catatan penting bahwa Zaid tidak menyalin atau menulis ulang, beliau hanya mengumpulkan keping-keping puzzle. Setiap keping ayat dikelompokkan sesuai suratnya, serta diurutkan sesuai urutannya. Belum ada nomor ayat saat itu. Tapi urutannya sudah seperti yang kita kenal saat ini.

Bundelnya dibuat jadi per surat yang diikat satu per satu. Jadi secara fisik, ikatan kulit berlapis-lapis itu tidak bisa dibuka lembar demi lembar seperti layaknya buku. Secara fisik, lembaran-lembaran kulit itu hanya diikat jadi satu. Jadi hanya disusun untuk disimpan, bukan untuk dibaca.

Pengerjaan proyek itu selesai cukup singkat, hanya dua tahun saja sudah selesai. Ketika khalifah Abu Bakar wafat dua tahun setelah beliau jadi khalifa. Karena memang bukan menyalin ulang, hanya sekedar menyusun puzzle yang gambar imaginernya sudah ada di dalam kepala para shahabat, bahkan secara teknis tiap hari mereka baca ulang secara rutin. Setiap khatam mereka ulangi lagi dari awal dan begitu berulang-ulang.

Baca : Al-Qur’an Terjamin Keasliannya

Ketika Abu Bakar wafat, bundelan mushaf berjumlah 114 surat itu diserahkan kepada Umar bin Al-Khattab. Lalu disimpan oleh puteri Umar, Sayyidatina Hafshah, yang juga berstatus ibunda mukminin, karena beliau adalah salah satu dari istri-istri Nabi SAW. Selama 10 tahun mushaf itu tersimpan, tidak mengalami proses yang berarti, sekedar disimpan saja sebagai arsip dokumen penting, hingga datang masa kepemimpinan Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu. Sampai disini, secara fisik mushaf Al-Qur’an masih belum berwujud buku seperti yang kita kenal sekarang.

baca juga sambungan tulisan ini pada “Mushaf Dibukukan Dimasa Khalifah Utsman

Bagikan artikel ini ke :