Pembagian Tajalli Ketika Fana Menurut Kitab Insan Al-Kamil Karya Imam Abdul Karim Al-Jilli

√. Tingkat Ke-1: TAJALLI AF-‘AL

تجلى سبحانه وتعالى في افعاله عبارة عن مشهد يرى فيه العبد جريان القدرة في الأشياء فيشهده سبحانه وتعالى محركها ومسكنها ينفي الفعل عن العبد واثباته للحق

“Tajallinya AllAh SWT dalam Af-‘alnya, ialah ibarat penglihatan dimaba seorang hamba Allah melihat padanya berlaku Qudrat Allah pada sesuatu. Ketika itu, ia melihat Tuhan, maka tiadalah fiil (perbuatan) lagi bagi hamba. Gerak dan diam serta itsbat (ketetapan) adalah bagi Allah semata”.

Jadi Tajalli Af’al ialah nafinya atau lenyapnya fiil (perbuatan) daripada seseorang hamba dan itsbatnya yang ada ialah Fiil Allah semata. Sebagaimana firman Allah;

(وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ)

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. [Surat As-Saaffat: 96].

لا فاعل الا الله 

(Tiada fail/pelaku perbuatan kecuali Allah)

√. Tingkat Ke-2: TAJALLI ASMA’

من تجلى له سبحانه وتعالى من حيث اسمه الظاهر فكشف له عن سر ظهور النور الالهى في كثائف المحدثات ليكون طريقا الى معرفة ان الله هو الظاهر ، فعند ذلك تجلى له بانه الظاهر ، فبطن العبد ببطون فناء الخلق في ظهور وجود الحق .

“Siapapun baginya Tajalli Allah SWT dari segi Asma-Nya yang disebut, maka terbukalah baginya dari nampaknya Nur Ilahiy dalam keadaan biasa, maksudnya adalah agar ia mendapatkan jalan kepada Makrifat, bahwa sesungguhnya Allah adalah Yang Nyata (terlihat). Maka pada saat itu Tajallilah Allah baginya, karena sesungguhnya Allah adalah Adz-Dzhahir. Dan ketika itu bertempatlah hamba pada tempat yang bathin (tidak tampak) karena fana’/leburnya sifat-sifat kebaharuannya ketika nampaknya Wujud Al-Haqqu Ta’ala yang Qadim”.

Jadi Tajalli Asma’ adalah fana’nya hamba daripada dirinya sendiri dan bebasnya hamba dari genggaman sifat-sifat kebaharuan dan lepasnya ikatan dari dirinya atau tubuh kasarnya. Ketika itu ia fana’ dalam Baqa’nya Allah karena sucinya ia dari sifat-sifat kebaharuan. Bahwa sesungguhnya Tajalli Asma’ sebenarnya tiada yang dilihat kecuali Dzatussharfi dan bukannya melihat Asma’. Dalam hal ini bisa diambil perumpamaan sebagai berikut:

(وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ)

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. [Surat Al-A’raf: 143].

مثال ذلك بقوله تعالى: لن ترانى يا موسى يعنى لانك اذا كنت موجودا فانا مفقود عنك، وان وجدتنى فانا مفقود. ولا يمكن للحادث ان يثبت عند ظهور القديم، وعند ذلك، فعدم موسى وصار العبد كأن لم يكن ويبقى الحق كأن لم يزل.

“Perumpamaan untuk itu ialah dengan firmana Allah kepada Nabi Musa, “Kamu tidak dapat melihat Aku (لن ترانى)”, artinya bahwa sesungguhnya kamu Musa, selama kamu admma pada dirimu, maka Aku (Allah) sirna (tak terlihat) dari pandanganmu Musa. Dan ketika kamu melihat Aku, maka ketika itu engkaupun tiada (fana’)”. Tidaklah mungkin bagi yang baharu ada ketika nampaknya yang Qadim. Jadi pengertiannya adalah,” Maka dengan fana’nya Musa, jadilah ia bersifat tiada, dan Baqa’lah Allah yang bersifat kekal.

√. Tingkat Ke-3: TAJALLI SIFAT

تجلى الصفات، عبارة عن قبول ذات العبد الأتصاف بصفات الرب قبولا اصليا حكميا قطعيا.

“Tajalli Sifat adalah ibarat penerimaan tubuh seorang hamba Allah berlaku sifat dengan sifat-sifat Ketuhanan, suatu penerimaan asli dan ketentuan pasti.”

Artinya, manakala Allah SWT menghendaki terjadinya Tajalli atas hambanya dengan namaNya atau sifatNya, maka dalam keadaan itu lenyaplah (Fana’) seorang hamba dari dirinya dan ketika itu berubahlah daripada wujudnya. Manakala telah hilang cahaya keinsanannya dan telah fana’ ruh kebaharuannya, disitulah Al-Haqqu Ta’ala mengambil tempat pada hambanya tanpa hulul daripada Dzat-Nya sebagai ganti dari perubahan hamba itu dari wujudnya, karena sebenarnya Tajallinya Allah itu terhadap hambanya adalah sebagai karunia dari Allah semata.

√. Tingkat Ke-4: TAJALLI DZAT

Tajjali ketika Fana’ fidz-Dzat adalah sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

“Tiada wujud secara muthlaq melainkan Allah”.

Sebelum pada pengertian ta’rif dari Tajalli Dzat saya berikan sedikit uraian agar lebih mudah dipahami.

Pada fana’ tingkat ini (Tajalli Dzat) seseorang akan memperoleh perasaan batin pada suatu keadaan yang tak berarah, tidak ada lagi kanan atau kiri, depan atau belakang, atas atau bawah. Intinya ia berada pada suatu keadaan tak terbatas dan tak bertepi. Dan dalam keadaan ini juga seseorang yang fana’ fi Dzat mencapai derajat “Syuhudul Haqqi bil Haqqi”, dia telah lenyap dari dirinya sendiri dan dalam situasi ia hanya berada dalam baqo’nya Allah semata, atau sebagai kesimpulannya bahwa ia telah hancur lebur kecuali wujud yang muthlaq, yaitu wujudullah.
Adapun hikmah dari fana tingkat ini, adalah pengakuan atas ke Esa an Allah dengan semurni-murninya, bukan sekedar pengakuan atas ke Esa an dengan ucapan syahadat, dalil-dalil atau pendapat-pendapat akal saja, dan pengakuan secara murni ini hanya dapat disaksikan dengan kemakrifatan saja.
Abu Manshur Husein Al Hallaj, mengatakan dalam syairnya;

قلوب العاوفين لها عيون, ما لا يرى للناظرين

“Hatinya orang ‘Arif itu mempunyai mata memandang, matanya itu dapat melihat apa yang tak dapat dilihat pandangan mata biasa.”

كان الله ولا شيئ معه وهو الآن على ما عليه كان

“Adalah wujud Allah itu baqa’ dan tidak ada sesuatupun besertanya, Allah tetap pada wujudnya sebagaimana keadaannya kekal semula.”

Maka mencapai makrifah billah dengan jalan akal pikiran itu mustahil, para Ahlut Tashawwuf berkata;

وللعقول حدود لا تجاوزها, والعجز عن الادراك ادراك

“Bagi jalan pikiran itu terbatas, maka dengan jalan pikiran tidaklah Dia (Allah) bisa dicapai, bila telah mengakui kelemahan diri untuk mencapai Dia, itulah tandanya Dia sudah dicapai”.

Didalam Al-Quran sudah diisyaratkan oleh Allah untuk mencapai puncak fana’ fidz Dzat tersebut, coba kita perhatikan rahasia yang diisyaratkan dari ayat ini;

(كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa”. [Surat Ar-Rahman: 26]. Dan ayat selanjutnya;

(وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ)

“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. [Surat Ar-Rahman:27].

Kemudian kita perhatikan bagaimana nabi Musa bermunajat kepada Allah dengan kata-katanya yang masyhur dikalangan para Sufi dalam menuju kefana’an;

قال موسى عليه السلام : يا رب كيف اصل اليك ؟ قال عز وجل : فارق نفسك وتعال

Nabi Musa berkata kepada Allah ,”Wahai Allah, bagaimana agar aku sampai kepadaMu. Allah ‘ azza wa jalla menjawab ,” Tinggalkan (lenyapkan) dirimu hai Musa, baru datanglah kepadaKu.”

Apa yang diucapkan Nabi Musa tersebut adalah sebuah permintaannya kepada Allah agar Allah “menampakkan Diri” dihadapannya, sebagaimana yang dituturkan pada ayat;

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” [Surat Al-A’raf: 143].

Sebagai catatan akhir tentang Fana’ Fi-Dzat sebagaimana disebutkan dalam kitab Insan al-Kamil:

فاعلم ان الذات عبارة عمن كانت اللطيفة الالهية اذا تجلى علي عبده وافناه عن نفسه قام فيه اللطيفة الالهية فتلك اللطيفة قد تكون ذاتيةً وقد تكون صفاتيةً فاذا كانت ذاتية كان ذلك الهيكل الانساني هو الفرد الكامل

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Dzat itu adalah ibarat dimana bertempat anugerah Ketuhanan. Ketika Allah menghendaki terjadinya Tajalli (penjelmaan) atas hamba-Nya, dimana hambaNya telah mem fana’ kan dari dirinya sendiri, maka bertempatlah hamba itu pada Karunia Ketuhanan. Demikianlah karunia itu, adakalanya sebagai karunia Dzat dan adakalanya karunia Sifat. Apabila terjadi karunia Dzat, maka disitulah terjadi “Tunggal Yang Kamil/Sempurna”. Maka dengan fana’nya diri hamba maka yang tinggal adalah yang Baqa’ atau Dzatullah. Dan dalam keadaan ini hamba telah berada pada situasi “Maa siwallah” (tiada apapun selain Allah) yaitu pada wujud Allah semata.”

Disinilah pengertian dari Fana’ fidz-Dzat sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

“Tiada wujud secara muthlaq melainkan Allah.”

Bagikan artikel ini ke :