Pahala yang Dijanjikan Bagi Ibu yang Keguguran

Dibaca normal 5 menit

Allah telah menciptakan kehidupan dan kematian agar diantara kalian yang lebih baik amalnya. Termasuk kematian calon manusia yang masih dalam kandungan atau sering disebut janin. Hampir semua harapan seorang yang memiliki calon bayi tentu agar janinnya terlahir dengan selamat, sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun.

Tapi, manusia dengan segala ikhtiyarnya tentu akan kembali pada satu hal bahwa ketentuan itu datangnya dari Allah SWT. Tentu sabar dan syukur adalah hal yang harus selalu dimiliki oleh seorang mukmin, karena dengan itulah seorang mukmin disebut sebagai orang yang selalu baik.

Stillbirth atau bayi lahir mati adalah kematian janin didalam rahim atau selama persalinan. Ada beberapa perbedaan batasan stillbirth dibeberapa negara. Misalnya di Singapura menganggap stillbirth bila bayi lahir mati setelah usia kehamilan mencapai 28 minggu atau lebih. Namun di Indonesia, umumnya bayi dianggap lahir mati apabila mati setelah 20 minggu kehamilan. Apabila bayi atau janin meninggal sebelum 20 minggu kehamilan, maka dianggap keguguran.

Sedangkan dalam ilmu fiqih, akan kita dapati istilah “السقط”. Ada 3 cara membacanya: As-siqthu, As-Saqthu, dan As-Suqthu, yaitu anak-baik laki-laki maupun perempuan yang meninggal dari perut ibunya sebelum waktunya dia lahir dan sudah jelas bentuknya.

Adapun yang gugur dari rahim wanita mencakup beberapa hal diantaranya : Nuthfah (نطفة) atau air mani, dia tidak ada kaitan hukumnya kecuali jika sudah terproses dalam rahim. Kedua Alaqah (علقة) segumpal darah, sudah ada ketentuan hukumnya jika terjadi keguguran. Ketiga Mudzghoh (مضغة) segumpal daging dan keempat Janin Mukholaq (جنين مخلق) janin yang sudah sempurna

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang urutan penciptaan manusia. Diataranya Surat yang paling komplit adalah surat al-Mukminun: 12-14

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ. ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ. ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمًا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Q.S. al-Mukminun: 12-14).

Terkait penciptaan manusia, Kita juga bisa temukan dalam hadits Nabi. Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan dari Sahabat beliau Abdullah bin Mas’ud dalam hadits yang cukup panjang

إِذَا أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللّٰهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ، وَعَجَلُهُ، وَرِزْقُهُ، وَشَقِيٌ اَوْ سَعِيْدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلٍ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا اِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ اَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلٍ أَهْلِ الْجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا اِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ اَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ

Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari kemudian menjadi ‘alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, sengsara serta bahagianya, lalu ditiupkan ruh kepadanya.

Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu ia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka.

Tentu menjadi hal yang menjadikan sedih bagi orang tua, jika sesuatu yang telah dinanti-nantikan ternyata tak datang sesuai dengan yang diinginkan. Tapi begitulah kehidupan. Ada yang terlahir, ada yang meninggal, ada yang belum terlahir sudah meninggal.

Kesabaran dalam menghadapi ujian dan pengharapan pahala dari ujian itu adalah hal yang mudah diucapkan, tapi berat dalam realitanya. Tetapi bagi yang bisa melaluinya dengan baik, niscaya Allah SWT akan membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan.

Dalam kitab Sunan At-Tirmidzi bab keutamaan bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah, disebutkan sebuah hadits yang menjadi kabar gembira bagi orang tua yang Allah takdirkan kehilangan buah hatinya. Salah satu pahala yang dijanjikan untuk seorang yang baru ditinggal mati calon buah hatinya adalah dibuatkan rumah yang beralamat di surga dengan nama Baitul Hamdi atau rumah pujian

عَنْ اَبِى مُوْسَ الْاَشْعَرِيِّ، أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللّٰهُ لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي، فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ، قَيَقُوْلُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ، قَيَقُوْلُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ: حَمِدَكَ وَسْتَرْجَعَ، قَيَقُوْلُ اللّٰهُ، ابْنُوْا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، وَسَمُّهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwasannya Rasulullah bersabda: Apabila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada malaikat: “kamu telah mencabut (nyawa) hamba-Ku?”. Para malaikat menjawab: “ya”. Kemudian Allah berfirman: “Kamu telah mencabut (nyawa) buah hatinya?”. Para malaikat menjawab: “Ya”. Maka allah berfirman: “Apa yang dikatakan hamba-Ku?”. Para malaikat menjawab: “Ia memuji-Mu dan bersabar mengharapkan pahala-Mu”. Lalu Allah جل جلاله berfirman: “Bangunkanlah rumah disurga untuk hamba-Ku, dan berilah nama bait al-Hamdi”.

Ibnu Majah dalam kitab Sunannya bab bagi seseorang yang ditimpa musibah keguguran menyebutkan tiga hadits yang menunjukkan bahwa janin yang keguguran akan memberi syafaat bagi kedua orang tuanya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سِقْطٌ أُقَدِمُهُ بَيْنَ يَدَيَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَرِسٍ أُخَلِّفُهُ خَلْفِي

dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Seorang bayi yang meninggal dalam kandungan ibunya mendahuluiku, sungguh lebih aku sukai dari seorang penunggang kuda yang mengawalku di belakangku.” (HR. Ibnu Majah).

عَنْ عَلِيِّ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ السِّقْطَ لَيُرَاغِمُ رَبَّهُ، إِذَا أَدْخَلَ أَبَوَيْهِ النَّارَ، فَيُقَالُ: أَيُّهَا السِّقْطُ الْمُرَاغِمُ رَبَّهُ أَدْخِلْ أَبَوَيْكَ الْجَنَّةَ، فَيَجُرُّهُمَا بِسَرَرِهِ، حَتَّى يُدْخِلَهُمَا الْجَنَّةَ، قال أَبُو عَلِيٍّ: يُرَاغِمُ رَبَّهُ، يُغَاضِبُ

Dari Ali ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bayi yang meninggal dalam kandungan ibunya akan marah kepada Rabbnya jika Ia memasukkan kedua orang tuanya ke dalam neraka. Lalu dikatakan kepadanya, “Wahai bayi yang marah kepada Rabbnya, masukkanlah kedua orang tuamu ke dalam surga.” Maka ia menarik keduanya dengan tali pusarnya hingga masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Hibban)

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النّبيّ صلى الله عليه وسلم قال: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ، لَيَجُرُّهُ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَى الْجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ

“Dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh anak yang meninggal dalam kandungan ibunya akan menarik ibunya dengan talinya pusar ke surga jika ia sabar.” (HR. Ibnu Hibban).

Seorang anak yang meninggal, akan menjadi penghalang kedua orang tuanya dari api nereka. Sebagaimana hadits riwayat dari Ibnu Majah

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ قَدَّمَ ثَلَاثَةَ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ، كَانُوْا لَهُ حِصْنً حَصِيْنَ مِنَ النَّارِ. فقال أَبُو ذَرِّ: قَدَّمْتُ اثْنَتَيْنِ، قال: وَاثْنَيْنِ، فقال أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ سَيِّدُ الْقُرَّاءِ: قَدَّمْتُ وَاحِدًا: قال وَوَاحِدًا

Dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memberikan (ditinggal mati) tiga anak laki-laki yang belum berumur baligh, maka mereka akan menjadi benteng penghalang baginya dari api neraka.” Abu Dzar berkata, “Aku telah memberikan dua orang anak?” beliau bersabda: “Dan dua anak.” Ubai bin Ka’ab, tuannya ahli Qur’an, berkata, “Aku telah memberikan satu anak?” beliau bersabda: “Dan satu anak.”

Imam An-Nawawi mengatakan: “Meninggalnya salah satu anak seseorang, maka akan menjadi penghalang antara dirinya dan neraka, begitu pula janin yang keguguran”.

Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim, anak yang meninggal sebelum baligh, akan menarik orang tuanya masuk surga. Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dan Abu Hurairah

عَنْ أَبِي حَسَّانَ، قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: إِنَّهُ قَدْ مَاتَ لِيَ ابْنَانِ، فَمَا أَنْتَ مُحَدِّثِي عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِيثٍ تُطَيبُ بِهِ أَنْفُسَنَا عَنْ مَوْتَانَا؟ قَالَ: قَالَ: نَعَمْ صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ يتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ ، فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ أَوْقَالَ بِيَدِهِ ، كَمَا آخُذُ أَنَا بِصَنِفَةِ ثَوْبِكَ هَذَا، فَلَا يَتَنَاهَى أَوْ قَالَ فَلَ يَنْتَهِي حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ

“Dari Abu Hassan, dia berkata: aku berkata kepada Abu Hurairah: telah meninggal 2 orang putra saya, Adakah engkau bisa mengabarkan dari Rasulullah dengan suatu hadits tentang orang yang telah meninggal dunia yang bisa membuat hati kami menjadi tenang? Abu Hurairah berkata: “Iya”.

Rasulullah bersabda: Anak-anak kecil mereka adalah penghuni-penghuni kecil di surga. Salah seorang dari mereka menyambut Bapaknya atau kedua orang tuanya kemudian dia memegang pakaiannya atau tangannya seperti halnya aku memegang ujung pakaianmu ini, dia tidak akan meninggalkan orang tuanya sampai Allah memasukkannya dan orang tuanya ke dalam Jannah). (HR Muslim)

Seorang anak kecil yang meninggal sebelum baligh, pernah dilihat oleh Nabi sedang bersama dengan Nabi Ibrahim di Raudhah. Sebagaimana hadits yang cukup panjang berkaitan dengan Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad dalam shahih Bukhari dari Samurah bin Jundub

فَأَتَيْنَا عَلَى رَوْضَةٍ مُعْتَمَّةٍ، فِيهَا مِنْ كُلّ لَوْنِ الرَّبِيعِ، وَإِذَا بَيْنَ ظَهْرَيِ الرَّوْضَةِ رَجُلٌ طَوِيلٌ، لَاأَكَادُ أَرَى رَأْسَهُ طُولًا فِي السَّمَاءِ، وَإِذَا حَوْلَ الرَّجُلِ مِنْ أَكْثَرِ وِلْدَانٍ رَأَيْتُهُمْ قَطُّ “… وَأَمَّا الرَّجُلُ الطَّوِيلُ الَّذِي فِي الرَّوْضَةِ فَإِنَّهُ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَّا الوِلْدَانُ الَّذِينَ حَوْلَهُ فَكُلُّ مَوْلُودٍ مَاتَ عَلَى الفِطْرَةِ” قَالَ: فَقَالَ بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ: يَا رَسُولُ اللّٰه، وَأَوْلَدُ المشْرِكِينَ؟ فَقَالَ رَسُلُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَأَوْلََّدُ المشْرِكِينَ

Lalu kami mendatangi sebuah kebun yang secara merata berisi warna musim semi, diantara dua tepi kebun terdapat seseorang yang jangkung, yang nyaris aku belum pernah melihat manusia yang kepalanya memanjang di langit seperti itu, dan sekitar orang itu terdapat banyak anak-anak kecil yang pernah aku lihat. Saya bertanya, ‘Apa ini sebenarnya, mereka ini siapa?

Adapun laki-laki jangkung dalam taman, ia adalah Ibrahim ‘alaihissalam, adapun anak-anak di sekitarnya adalah bayi yang mati diatas fitrah.” Lantas sebagian sahabat bertanya, ‘ya Rasulullah, juga anak orang-orang musyrik? ‘ Rasulullah bersabda: “Juga anak-anak orang-orang musyrik! (HR. Bukhari)

Bagikan artikel ini ke :