Nasihat Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari Untuk Penuntut Ilmu

Seberapa penting sih adab bagi para pelajar? Khususnya adab bagi para pelajar yang mendalami ilmu agama atau dalam istilah lain di sebut santri.

Adab sendiri begitu penting bagi semua orang. Bukan hanya bagi para pelajar saja melainkan semua umat manusia juga harus memiliki adab dalam kehidupan sehari hari. Mulai dari bangun tidur dipagi hari hingga menjelang tidur di malam hari, semua itu memiliki tata krama atau aturan-aturan yang harus di lakukan. Akan tetapi kita umat manusia sering kali lalai akan hal itu. Lantas, apa yang harus kita lakukan agar semua aturan aturan itu dapat di laksanakan dengan baik?

jawabanya hanya satu yaitu dengan membiasakan diri untuk melakukan semua kegitan sesuai dengan aturan yang telah di tentukan. Lalu apa hubungannya adab dan pelajar?

Ada maqolah yang bebunyi ( Al-‘adabul fauqol ‘ilmi) yang artinya adab itu ada diatas ilmu. Dari maqolah di atas kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa adab lebih penting dari pada ilmu. Oleh karna oleh itu para ulama zaman dahulu mendahulukan belajar tata krama sebelum mempelajari ilmu. Bahkan ada beberapa dari mereka yang mempelajari adab selama 30 tahun dan baru memperdalam ilmu selama 20 tahun.

Ilmu adalah perkara yang suci, oleh karena itu orang yang mempelajarinya juga harus memilik jiwa yang suci. Akhir ini tidak jarang kita dapati ada orang yang memiliki banyak ilmu namun tidak merasakan kemanfaatan dari ilmu tersebut, mengapa demikian? Hal tersebut terjadi karena terkadang ada beberapa hal kecil yang berkaitan dengan adab yang mereka lewatkan. Oleh karena itu, saat kita mencari ilmu, sepatutnya kita benar-benar harus memiliki dan memperaktikan adab dengan baik.

Bagi para penuntut ilmu sebenarnya ada dua perkara yang harus diketahui mengenai adab dalam belajar, diantaranya adab lahir dan adab batin. adab lahir misalnya : memakai pakain rapi dan wangi-wangian saat akan belajar, dawaimul wudhu, menghadap kiblat serta diusahakan duduk dengan tenang. Kemudian contoh adab batin murid diantarnya tadabbur dan tawadhu’

Selain memiliki adab lahir dan batin, murid juga harus memiliki adab kepada guru, teman dan dirinya sendiri. Tidak sedikit kasus murid yang berani melawan bahkan sampai ada yang menyakiti dan menganiaya gurunya.

Beberapa waktu belakangan ini mungkin kita sudah sering mendengar beberapa kasus perseteruan yang terjadi antara guru dengan muridnya, atau orangtua murid dengan guru anaknya yang berakhir ricuh. Bahkan penulis sendiri pernah mengalami kejadian miris, dimana ustadz kami di pesantren mau dipenjarakan oleh wali murid setelah guru kami menegur kerapian siswa dalam kelas. Naudzu billah

Krisis akhlak menjadi penyebab utama mengapa tindakan negatif tersebut bisa terjadi. Pribadi yang tak beradab menjadi salah satu faktor mengapa ilmu yang diperoleh murid menjadi tidak bermanfaat dalam hidupnya.

Dalam Islam, orang yang berilmu memiliki derajat yang mulia dan terhormat. Para ulama sangat memperhatikan adab atau etika para murid dalam proses mencari ilmu. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa menjaga adab terhadap guru adalah salah satu kunci agar ilmu berkah dan bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

KH. Hasyim Asy’ari memberikan beberapa nasihat agar seorang menjadi murid yang beradab. Pertama seorang murid haruslah menghormati guru, Para ulama salaf sebagai suri teladan untuk manusia setelahnya telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara (HR. Bukhari)

medua Memperhatikan adab-adab ketika berada di depan guru. Pada umumnya, seorang murid belajar dalam keadaan duduk. Dalam posisi duduk pun, ada adab yang perlu diperhatikan. Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah Tolibil Ilm mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.”

Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.

Foto oleh Pok Rie dari Pexels

Selain itu murid harus tau adab berbicara dengan guru. Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang juga pada waktu itu menjadi muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di depan Rasulullah. Bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan mendengar suara Umar jika berbicara. seperti yang telah diungkapkan pada hadits Abu Sa’id Al-Khudri ra di atas

Dan juga seorang murid harus mengerti adab bertanya pada guru

فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS. An Nahl: 43).

Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah di ayat ini, dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kerancuan, serta mendapat keilmuan. Tidak diragukan bahwa bertanya juga mempunyai adab di dalam Islam. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

by Medi Irawan

Bagaimana rasanya jika kita berbicara dengan seseorang tapi tidak didengarkan? Sungguh jengkel dibuatnya hati ini. Maka bagaiamana perasaan seorang guru jika melihat murid sekaligus lawan bicaranya itu tidak mendengarkan? Sungguh merugilah para murid yang membuat hati gurunya jengkel. Oleh karena itu seorang murid itu haruslah tahu adab dalam mendengarkan pelajaran

Ada juga adab seorang murid kepada temannya diatnyaranya adalah memuliakannya dan tidak menghinanya. Menolong teman yang sedang kesusahan dalam pelajaran, jangan menghalangi-halangi teman yang hendak berbicara atau bertanya kepada gurunya

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat: 10)

Itulah beberapa adab menuntut ilmu terhadap guru dalam sudut pandang Islam. Semoga para pembaca semua dapat mengamalkannya dan memperoleh hikmat darinya. Serta menjadi pribadi yang senantiasa istiqomah dalam Islam. Aamiin.

Bagikan artikel ini ke :