Nabi Muhammad Seorang Suami dan Pendidik Terbaik

Selain karena beliau menusia, Allah menjadikannya sebagai contoh dan panutan untuk umat manusia sejagad alam raya ini karena sebab memang Muhammad adalah manusia dengan talenta yang komplit. Dalam artian bahwa beliau adalah pribadi yang bisa dicontoh oleh semua kalangan dari berbagai latar belakang pendidikan dan juga pekerjaan. Siapapun kita, apapun profesi kita, pastinya Nabi punya dan bisa menjadi panutan baik bagi kita.

Dan sulit untuk menemukan manusia sesempurna Nabi, itu sebabnya Allah jadikan beliau contoh bagi kita semua. Karena memang beliau punya banyak sisi yang bisa diambil. Itu yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 21

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูุณู’ูˆูŽุฉูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ ู„ูู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฑู’ุฌููˆ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽ ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง

Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi mereka yang menginginkan (pertemuan dengan) Allah dan juga (datangnya) hari akhir, serta berdikir kepada Allah dengan banyak. (al-Ahzab 21)

Kalau ada seorang pengajar ingin mencontoh Nabi, dia akan mendapatinya, karena Nabi pun mengajari para sahabatnya. Dan beliau mendapat gekar “Our Master” dari banyak kalangan para pendidik. Kalau ada seorang tentara yang ingin mencontoh Nabi, dia juga pasti akan mendapati itu, karena Nabi pun juga meju ke medan perang, dan memimpin pasukan. Dan beliau juga tahu bagaimana cara memperlakukan tawanan dengan baik.

Jika ada seorang pedagang ingin mempelajari sifat Nabi dalam hal niaga sebagai contoh, dia pasti mendapati itu dari Nabi, karena Nabi juga seorang pedagang. Bahkan saking pandai dan baiknya beliau menjadi pedagang, beliau digelari sebagai “al-Amin” (sang terpercaya), dimana banyak pedagang lainnya yang berusaha memanipulasi demi keuntungan.

Jika ada seorang politisi ingin juga mengikuti bagaimana Nabi berdiplomasi dan berpolitik, dia juga pasti mendapati itu dari pribadi Nabi, karena beliau pun memimpin Negara dan sistem. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau sudah menjadi juru damai dan lobi yang baik sehingga seluruh suku dan qabilah Jazirah ketika itu enggan berseteru dalam hal pemindahan Hajar Aswad.

Jika ada seorang kepala rumah tangga ingin mengambil contoh dari Nabi s.a.w. bagaimana memimpin keluarga dengan baik, dia pasti akan mendapatinya dari Nabi, karena Nabi jyga punya anak dan punya istri. Dan beliau lah orang yang terbaik dalam kepemimpinan keluarga. Ada sebuah riwayat yang masyhur sekali, ketika Nabi memberikan nasehat kepada anaknya Amr bin al-Ash, yakni Abdullah. Beliau mengatakan:

ูŠูŽุง ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ูŽ ุนูŽู…ู’ุฑููˆุŒ ู„ูŽุง ุชูŽูƒูู†ู’ ู…ูุซู’ู„ูŽ ููู„ูŽุงู†ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ูŽุŒ ููŽุชูŽุฑูŽูƒูŽ ู‚ููŠูŽุงู…ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ู

Wahai Abdullah, jangan jadi seperti fulan, dia itu bangun di malam hari akan tetapi tidak shalat malam. (HR al-Bukhari)

Hadits ini sejatinya mengandung banyak nilai-nilai pengaran dan pendidikan yang sangat tinggi. Yang tentunya menjadi teladan bagi kita yang memang berprofesi sebagai pengajar juga pendidik. Saat itu, Nabi sedang mengajarkan kepada Abdullah bin Amr tentang anjuran bagi muslim untuk melaksanakan shalat malam, dan tercelanya mereka yang meninggalkan shalat malam, padahal mereka sudah bangun di malam itu. Dan ada orang yang memang seperti itu, bangun tengah malam akan tetapi tidak melakukan. Dan Nabi tahu siapa yang berbuat begitu.

Tapi, dalam pengajaran, Nabi tidak menyebut siapa nama orang tersebut. Nabi hanya mengatakan kepada Abdullah bahwa perbuatan macam itu tidak baik. Karena memang poin pelajaran ada pada bangun dan tidak shalat. Maka tidak perlu disebut siapa nama orang yang melakukan seperti itu.

Jika pun disebut nama orang tersebut, itu namanya merendahkan orang lain. Dan Nabi tidak mau melakukan perendahan kepada siapapun. Padahal jika pun Nabi menyebut nama orang tersebut, pastilah ia tidak akan marah, toh Nabi yang menyebut. Tapi tak jua Nabi lakukan. Sebagai bentuk pengajaran bahwa bukan berarti jika kita benar kita boleh merendahkan orang lain. Ini adalah pelajaran dan pendidikan yang sangat baik bagi para pendidik.

Pribadinya sebagai suami pun menjadi pribadi yang sangat spesial dan layak dicontoh. Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, sayyidah Aisyah pernah ditanya oleh seseorang tentang bagaimana kegiatan Nabi jika berada di rumah.

ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ: ุฃูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ู†ูŽุนูŽู…ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุฎู’ุตููู ู†ูŽุนู’ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูŽุฎููŠุทู ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู

Seseorang bertanya kepada sayyidah Aisyah r.a.: apakah Nabi juga berkerja di rumah?, sayyidah Aisyah menjawab: Ya! Nabi itu(di rumah) menggosok sendalnya sendiri, menjahit bajunya sendiri dan mengerjakan sesuatu di rumah sebagaimana kalian bekerja di rumah. (HR Imam Ahmad)

Hadits ini memberikan gambaran yang utuh kepada kita bahwa Nabi bukanlah suami yang acuh dengan apa yang ada di rumah. Beliau walaupn sebagai kepala rumah tangga, akan tetapi posisinya tidak beliau gunakan untuk berleha-leha dan memebratkan istrinya. Prinsipnya apa yang bisa beliau kerjakan, beliau kerjakan tanpa harus menyuruh orang lain.

Padahal dengan kedudukannya sebagai kepala keliarga, terlebih lagi beliau Nabi, beliau bisa saja memerintahkan siapapun untuk bekerja di rumahnya sepanjang waktu. Dan rasanya tidak akan ada yang menolak untuk berkhidmat kepada Nabi di rumah beliau. Tapi tidka beliau lakukan itu. Beliau mengerjakan sendiri apa yang memang bisa dikerjakan sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.

Ada lagi hadits dalam hal kaitannya Nabi s.a.w. di keluarga. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฃูู…ูู‘ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: ุฐูŽุงุชูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุง ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูุŒ ู‡ูŽู„ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽูƒูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุกูŒุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ููŽู‚ูู„ู’ุชู: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ู…ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽุฅูู†ูู‘ูŠ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ

Dari Aisyah Ummuml-Mukminin r.a. beliau berkata: suatu hari rasul pernah bertanya kepada: wahai Aisyah, apakah ada makanan yang bisa dimakan? Aku menjawab: “tidak ada ya Rasul!”, lalu Nabi menjawab lagi: “ya kalau gitu saya puasa saja”

ุซูู…ูŽู‘ ุฃูŽุชูŽุงู†ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุขุฎูŽุฑูŽ ููŽู‚ูู„ู’ู†ูŽุง: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฃูู‡ู’ุฏููŠูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ุญูŽูŠู’ุณูŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽุฑููŠู†ููŠู‡ูุŒ ููŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุตู’ุจูŽุญู’ุชู ุตูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽุฃูŽูƒูŽู„ูŽ

Lalu di hari lain, Nabi datang kepada ku lalu aku berkata: “ya Rasul, aku diberikan hadiah acar roti.” Kemudian Nabi mengatakan: “perlihatkan kepadaku. Sebenarnya aku sudah berniat puasa sejak pagi”, lalu beliau memakan hidangan tersebut. (HR Muslim)

Hadits ini memberikan gambaran yang sangat jelas Nabi adalah pribadi yang tidak pemarah dan tidak suka menyulitkan orang lain, terlebih lagi itu adalah istrinya. Padahal pada potongan hadits pertama, Nabi pada posisi yang sangat layak kalau ia marah kepada istrinya yang tidak menyiapkan hidangan selepas Nabi berkegiatan di luar dan pulang ingin istirahat.

Alih-alih mendapat sajian makan pelepas dahaga dan penat, justru sayyidah Aisayh tidak menyiapkan itu. Dan respon Nabi bukan marah justru malah memilih ibadah puasa. Sunguh suami idaman.

Begitu juga di potongan kedua. Ketika beliau sejak pagi sudah berpuasa dan ternyata di rumah sayyidah Aisyah ada hidangan yang tersaji dari hadiah tetangganya. Guna untuk tidak mengecewakan pemberi hadiah dan juga tidak membuat usaha sayyidah Aisyah yang telah menyiapkan sajian sia-sia, beliau membatalkan puasa sunnahnya tersebut dan memilih untuk makan.

Padahal jika pun beliau ingin meneruskan puasa dan menolak sajian tersebut, itu tidak masalah. Sayyidah Aisyah pun rasanya tidak akan marah juga, toh beliau adalah suami dan nabi. Tapi beliau memilih untuk tidak mengecewakan orang yang telah berbuat baik kepada beliau

Bagikan artikel ini ke :