Memakan Bangkai Saudara Tanpa Sadar

Nabi bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” tanya Rasulullah kepada para sahabatnya. Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi berkata, “Yaitu engkau menyebutkan (menggunjing) sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”. Kemudian ada yang bertanya kepada Nabi, “Bagaimanakah pendapat engkau bila yang disebutkan itu memang benar ada padanya? Nabi menjawab, “Kalau memang ia benar begitu berarti engkau telah menggunjingnya. Tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya.” (H.R Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتًا فَكَرِهۡتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Rasulullah bersabda (yang artinya), “Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan (seperti ghibah, -pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu, bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukuran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil, kemudian dibebankan kepadanya.” (H.R. Bukhari no. 2449, hadis Abu Hurairah).

Betapa besar bahaya dosa ghibah ini. Di samping menginjak-injak harga diri saudaranya sesama muslim tanpa hak, juga akan menjadi beban berat di hari kiamat kelak (bila orang yang dighibahi tidak memaafkan). Di saat pahala yang dimilikinya sedikit, amat dibutuhkan untuk menambah beratnya timbangan amal kebaikan. Namun, tiba-tiba datang orang yang pernah Anda ghibahi, kemudian dia menuntut untuk mengambil pahala kebaikan Anda, sebagai tebusan atas kezaliman yang pernah Anda lakukan kepadanya. Bila amalan kebaikan Anda tidak mencukupi sebagai tebusan, maka amalan buruknya akan dibebankan kepada Anda. Na’udzu billahi min dzaalik.

Anda bisa bayangkan, betapa ruginya. Anda yang susah payah beramal, namun orang lain yang memetik buahnya. Orang lain yang berbuat dosa, sedang Anda yang merasakan pahitnya. Dan Allah tidak pernah berbuat zalim sedikitpun terhadap hamba-Nya. Namun ini adalah disebabkan kesalahan manusia itu sendiri. Ini dalil betapa tingginya harkat martabat seorang muslim, dan betapa besar bahaya dosa ghibah.

Rasulullah mengingatkan (yang artinya), “Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. Mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Aku bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?”. Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia (menggunjing) dan mereka menginjak-injak kehormatan manusia.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud, shahih).

Riba memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya.” (H.R. Ath-Thabrani. Lihat silsilah shahihah no. 1871).

Beberapa model ghibah terselubung

Ternyata banyak model ghibah yang sering terjadi dan tidak disadari. Padahal sejatinya itu adalah ghibah. Hanya saja dipoles lebih halus dan kreatif, sehingga tidak disadari sebagai ghibah. Diantara contohnya adalah Menggunjing saudaranya untuk memeriahkan obrolan, atau sebagai bahan candaan.

Dia menyadari kalau ghibah ini tidak diteruskan, orang yang dia ajak bicara akan bosan, obrolan menjadi hambar. Untuk itu, dia jadikan ghibah sebagai pemeriah obrolan, agar orang-orang tertawa, dan tahan lama obrolannya. Dan lebih parah lagi, bila yang dijadikan bahan candaan adalah kekurangan guru atau ustaznya. Barangkali dia berkilah untuk memupuk keakraban dan membahagiakan saudaranya (yang sedang dia ajak ngobrol). -Nas alullah as-salaamah wal ‘aafiyah-.

Ghibah dalam bentuk ucapan keheranan, yang terselipkan motif menjatuhkan kedudukan orang lain. Semisal ucapan, “saya heran sama dia dari tadi dijelaskan oleh ustaznya tapi tidak faham-faham”, atau ucapan lainnya yang semisal.

Menggunjing dengan ungkapan yang seakan-akan mengesankan rasa kasihan. Orang yang mendengarnya menyangka bahwa dia sedang merasa kasihan dengan orang yang ia maksudkan. Padahal, sejatinya dia sedang menggunjing saudaranya. Seperti ucapan, “Saya kasihan sama dia. Sudah miskin, tapi tidak mau ikut gotong royong. Kalau ada pengajian juga ndak pernah datang”.

Menggunjing saat sedang mengingkari suatu maksiat. Seperti perkataan seorang ketika melihat anak-anak muda yang sedang main gitar di poskamling, “Kalian ini masih muda. Gunakanlah waktu kalian untuk hal-hal yang bermanfaat dan produktif. Supaya masa depan kalian lebih cerah. Jangan seperti anaknya pak X itu, kerjaannya hanya main kartu, gitaran, minum-minuman” atau ucapan yang semisal.

Menggunjing saudaranya di hadapan orang lain, untuk mengesankan bahwa dirinya adalah orang yang tidak suka ghibah, padahal sejatinya dia sedang menghibahi saudaranya.

Sebagai contoh adalah perkataan ini, “Bukan tipe saya suka ngomongin aib orang. Saya nda’ biasa ngomongin orang kecuali yang baiknya saja. Cuma, saya ingin berbicara tentang dia apa adanya Sebenarnya dia itu orangnya baik, cuma yaa itu.. dia itu begini dan begini (dia sebutkan kekurangannya).”.

Padahal, sejatinya ia bermaksud untuk menjatuhkan harga diri saudaranya yang ia gunjingi. Sungguh ironi, apakah dia kira Allah akan tertipu dengan tipu muslihat yang seperti ini, sebagaimana ia telah berhasil menipu manusia?! Maha Suci Allah dari sangkaan ini.

Menyebutkan kekurangan saudaranya, dengan niatan untuk mengangkat martabatnya dan merendahkan kedudukan orang yang dia gunjingi. Semisal, “Dari kelas satu SMA sampai kelas tiga, rapornya selalu merah. Kalau saya alhamdulillah, walaupun ngga pernah ranking satu, tapi masuk tiga besar terus.”

Padahal ada maksud terselubung dari ucapan itu, yaitu untuk mengangkat martabatnya dan menghinakan kedudukan orang lain. Orang yang seperti ini sudah jatuh tertimpa tangga pula, dia sudah melakukan ghibah, di samping itu, dia juga berbuat riya’ (beramal agar orang lain bisa melihatnya, kemudian memuji dirinya).

Menggunjing saudaranya karena dorongan hasad (dengki). Setiap kali ada orang yang menyebutkan kebaikan saudaranya, dia pun berusaha untuk menjatuhkannya dengan menyebutkan kekurangan-kekurangannya. Orang seperti ini telah terjurumus ke dalam dua dosa besar sekaligus: dosa ghibah dan dosa hasad.

Sejatinya pemaparan poin-poin di atas, merujuk kepada pengertian asal dari ghibah, yang telah digariskan oleh Rasulullah dalam hadis yang disebutkan di awal. Saudaraku yang kami muliakan, demikianlah beberapa praktek ghibah yang sering terjadi, namun tidak disadari. Semoga Allah menyelamatkan kita dari dosa ini. Dan senantiasa menambahkan taufik dan hidayah-Nya untuk kita semua.

Bagikan artikel ini ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *