Melarang Puasa Rajab = Mengacak-Acak Syariah

Dibaca normal 5 menit

Kalau merujuk kepada statusnya hadits-hadits Nabi SAW yang menyatakan fadhilah atau keutamaan bulan-bulan Rajab serta puasa di dalamnya, kita bisa pastikan bahwa hadits-hadits tersebut adalah hadits yang lemah, bahkan maudhu’ (palsu). Ini diyakinkan dan diperkuat oleh pernyataan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang mana beliau menyusun kitab khusus yang memuat hadits-hadits tentang Rajab, yaitu kitab Tabyiin al-‘Ujbi fimaa Warada Syahri fi Rajaba

Tapi, mesti dibedakan antara hukum panstatusan hadits tersebut dengan hukum amal itu sendiri. Walaupun memang hadits-hadits puasa rajab itu tidak dalam derajat yang shahih, bukan berarti amalan puasa pada bulan ini menjadi haram dan terlarang.

Ulama sepakat memang menghukumi haditshadits rajab itu sebagai hadits yang tidak shahih, akan tetapi mereka juga sepakat bahwa kesunahan puasa pada bulan Rajab tetap ada, bukan dengan hadots-hadits yang lemah teersebut, melainkan dengan hadits-hadits umum yang menyatakan fadhilah puasa Rpada bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab).

Ketika menjelaskan tentang puasa pada bulan Haram yang mana di dalamnya ada bulan Rajab, Imam Syaukani (1250 H) menyatakan dalam kitabnya yang masyhur Nailul-Awthar

وَقَدْ وَرَدَ مَا يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ صَوْمِهِ عَلَى الْعُمُومِ وَالْخُصُوصِ. أَمَّا الْعُمُومُ فَالْأَحَادِيثُ الْوَارِدَةُ فِي التَّرْغِيبِ فِي صَوْمِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ وَهُوَ مِنْهَا بِالْإِجْمَاعِ

Banyak hadits-hadits yang menunjukkan bahwa puasa bulan Rajab itu disyariatkan, baik yang secara umum atau juga secara khusus. Adapun yang secara umum adalah hadits-hadits yang datang mengenai anjuran serta motivasi untuk berpuasa di bulan-bulan Haram, dan itu adalah sebuah Ijma’ (Nailul Awthar)

Sebelum menyatakan pernyataan di atas, beliau telah mengisyaratkan sebelumnya tentang kebolahan dan kesunahan puasa Rajab, bahwa itu adalah kebiasaan para sahabat.

فَائِدَةٌ: ظَاهِرُ قَوْلِهِ فِي حَدِيثِ أُسَامَةَ: ” إنَّ شَعْبَانَ شَهْرٌ يَغْفُلُ عَنْهُ النَّاسُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ صَوْمُ رَجَبٍ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّهُمْ يَغْفُلُونَ عَنْ تَعْظِيمِ شَعْبَانَ بِالصَّوْمِ كَمَا يُعَظِّمُونَ رَمَضَانَ وَرَجَبًا بِهِ.

Faidah: secara zahir, hadits Usamah yang mana Nabi SAW mengatakan ketika ditanya tentang puasa Sya’ban: ‘sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang antara Ramadhan dan Rajab’, ini juga indikasi kesunahan puasa Rajab, karena secara zahir maksud dari hadits ini bahwa para sahabat lalai akan mengagungkan Sya’ban dengan puasa sebagaimana mereka mengagungkan Ramadhan dan Rajab dengan puasa. (Nailul Awthar)

Maksud pernyataan Imam Syaukani ini adalah bahwa banyak dari kalangan sahabat itu lupa akan puasa bulan Sya’ban, dikarenakan bulan itu terjadi antara dua bulan yang mana mereka sering berpuasa, yakni puasa Rajab dan Ramadhan. Berarti memang puasa Rajab adalah salah satu kebiasaan Sahabat

Jadi memang sejatinya, puasa pada bulan-bulan haram yang di dalamnya ada bulan Rajab merupakan puasa yang dianjurkan oleh mayoritas ulama sejak zaman salaf. Sehingga ketika ada yang menyatakan bahwa puasa pada bulan Rajab itu terlarang hanya karena haditsnya dhaif, pendapat tersebut akhirnya dicela oleh para ulama.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami (974 H) dalam fatwanya yang terkumpul dalam kitab al-fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra justru mengecam keras para ahli agama yang melarang umat untuk berpuasa Rajab. Ketika beliau hidup, ternyata ada beberapa ahli agama ketika yang melarang umat Islam untuk berpuasa Rajab hanya karena haditsnya dhaif. Ketika ditanya seperti itu, Beliau mengatakan:

Photo by Adli Wahid on Unsplash

أَنِّي قَدَّمْت لَكُمْ فِي ذَلِكَ مَا فِيهِ كِفَايَة، وَأَمَّا اسْتِمْرَارُ هَذَا الْفَقِيهِ عَلَى نَهْيِ النَّاسِ عَنْ صَوْمِ رَجَب فَهُوَ جَهْلٌ مِنْهُ وَجُزَافٌ عَلَى هَذِهِ الشَّرِيعَةِ الْمُطَهَّرَةِ فَإِنْ لَمْ يَرْجِع عَنْ ذَلِكَ وَإِلَّا وَجَبَ عَلَى حُكَّامِ الشَّرِيعَةِ الْمُطَهَّرَةِ زَجْرُهُ وَتَعْزِيرُهُ التَّعْزِيرَ الْبَلِيغَ الْمَانِعَ لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ مِنْ الْمُجَازَفَةِ فِي دِينِ اللَّهِ تَعَالَى

Aku sudah menjelaska tentang kesunahan puasa Rajab, dan itu sudah cukup. Adapun seorang faqih yang terus menerus melarang orang-orang untuk puasa Rajab, itu adalah sebuah kebodohan dan bentuk pengacak-acakan terhadap syariah yang suci ini. kalau ia tidak merujuk fatwanya tersebut, wajib hukumnya bagi para hakim syariah yang suci untuk melarangnya dan memberikan hukuman yang keras baginya dan juga bagi orang-orang semisalnya karena mereka semua sudah mengacak-acak agama Allah SWT.

Selain itu, dalam kitab fatwa ini juga disertakan fatwa Imam ‘Izz bin Abdi-Salam yang menyatakan hal serupa bahwa melarang orang berpuasa pada bulan Rajab adalah kebodohan, karena tidak ada ulama yang melarang itu.

وَاَلَّذِي نَهَى عَنْ صَوْمِهِ جَاهِلٌ بِمَأْخَذِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَكَيْف يَكُونُ مُنْهَيَا عَنْهُ مَعَ أَنَّ الْعُلَمَاءَ الَّذِينَ دَوَّنُوا الشَّرِيعَةَ لَمْ يَذْكُر أَحَدٌ مِنْهُمْ انْدِرَاجَهُ فِيمَا يُكْرَه صَوْمُه

Yang melarang puasa Rajab adalah orang yang bodoh tentang sumber-sumber hukum syariah. Bagaimana bisa puasa rajab diharamkan, sedangkan para ulama yang mentadwinkan syariah ini tidak satu pun dari mereka yang membenci puasa rajab tersebut. (al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra)

Ulama al-Syafi’iyyah yang lain, Imam Ibnu Shalah (643 H) dalam fatwanya (Fatawa Ibn Shalah) menegaskan bahwa puasa Rajab itu disunnahkam walaupun haditsnya yang secara khusus menganjurkan tidak ada.

لَا إِثْم عَلَيْهِ فِي ذَلِك وَلم يؤثمه بذلك أحد من عُلَمَاء الْأمة فِيمَا نعلمهُ بلَى قَالَ بعض حفاظ الحَدِيث لم يثبت فِي فضل صَوْم رَجَب حَدِيث أَي فضل خَاص وَهَذَا لَا يُوجب زهدا فِي صَوْمه فِيمَا ورد من النُّصُوص فِي فضل الصَّوْم مُطلقًا والْحَدِيث الْوَارِد فِي كتاب السّنَن لأبي دَاوُد وَغَيره فِي صَوْم الْأَشْهر الْحرم كَاف فِي التَّرْغِيب فِي صَوْمه وَأما الحَدِيث فِي تسعير جَهَنَّم لصوامه فَغير صَحِيح وَلَا تحل رِوَايَته وَالله أعلم

Tidak berdosa bagi yang berpuasa Rajab, dan tidak ada satupun ulama umat ini yang mengatakan ia berdosa dari yang kami tahu. Memang benar banyak ahli hadits yang mengatakan hadits-hadits rajab tidak shahih. Dan ini tidak menjadikan puasa Rajab itu terlarang, karena adanya dalil-dalilnya anjuran puasa secara mutlak,

dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitab Sunannya juga ulama lain dalam anjuran puasa pada bulan Rajab, itu cukup untuk memotivasi umat ini untuk puasa Rajab. Sedangkan hadits nyalanya api neraka Jahannam untuk mereka yang sering berpuasa Rajab, itu hadits yang tidak shahih, dan tidak dihalalkan meriwayatkannya.

Keberkahan Doa Ali Bin Abi Thalib Terharap Imam Abu Hanifah

Imam al-Shawi dari kalangan al-Malikiyah dalam kitabnya Bulghatus Salik ketika menjelaskan tentang puasa-puasa sunnah, beliau memasukkan di dalamnya puasa Rajab. Beliau menyatakan

وَصَوْمُ رَجَبٍ : أَيْ فَيَتَأَكَّدُ صَوْمُهُ أَيْضًا وَإِنْ كَانَتْ أَحَادِيثُهُ ضَعِيفَةً لِأَنَّهُ يُعْمَلُ بِهَا فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ.

Puasa Rajab : yakni dikuatkan (untuk kesunahan) puasa Rajab juga walaupun hadits-haditsnya dhaif, karena hadits dhaif boleh diamalkan dalam hal fadhail a’mal.

Akan tetapi kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa dari kalangan ulama madzhab ada yang menyatakan puasa Rajab itu bukan sunnah, akan tetapi makruh. Dan perlu diperhatikan bahwa makruh itu bukan haram, apalagi bid’ah. Dalam beberapa literasi madzhab al-Hanabilah memang ulama mereka menyepakati atas kemakruhan puasa Rajab, akan tetapi tidak ada satu pun dari ulama al-hanabilah yang mengatakan itu haram, bid’ah dan sebagainya.

وَيُكْرَهُ إفْرَادُ رَجَبٍ بِالصَّوْمِ. هَذَا الْمَذْهَبُ، وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ، وَقَطَعَ بِهِ كَثِيرٌ مِنْهُمْ

Dan dimakruhkan ifrad (mengekslusif-kan) rajab dengan puasa, ini adalah pendapat madzhab, dan juga pendapat Ashab (pengikut) ma-Hanabilah, dan banyak dari mereka menguatkan ini. (Imam Al- Mardawi dalam Al-Inshaf)

Yang perlu diperhatikan juga bahwa madzhab alHanabilah sepakat yang namanya puasa pada bulanbulan haram itu termasuk puasa yang disunnahkan, yang mereka makruhkan adalah jika hanya bulan Rajab saja yang dijadikan bulan puasa, itu yang dimaksud dengan “Ifrad”.

Beberapa ahli agama memang ada yang menyatakan puasa Rajab itu haram karena memang ada hadits yang menyatakan secara gamblang bahwa Nabi melarang puasa Rajab. Akan tetapi hadits ini adalah hadits dhaif, yang tidak bisa dijadikan hujjah serta dalil atas keharaman puasa Rajab. Imam al-Buhuti dari kalangan al-Hanabilah dalam kassyaf al-Qina’ menyatakan

رَوَى ابْنُ مَاجَهْ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِهِ وَفِيهِ دَاوُد بْنُ عَطَاءٍ، وَقَدْ ضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW melarang puasa Rajab, dan di dalam sanadnya ada Daud bin ‘Atha, yang mana ia telah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan juga Imam Hadits yang lain

Imam al-Syaukani juga mengatakan hal serupa dalam Nailul Awthar

وَأَمَّا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ بِلَفْظِ: إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ رَجَبٍ فَفِيهِ ضَعِيفَانِ: زَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، وَدَاوُد بْنُ عَطَاءٍ

Sedangkan hadits Ibnu Abbas dalam riwayat Ibnu Majah dengan lafadz: “sesungguhnya Nabi melarang puasa Rajab”, ini adalah lemah, karena di dalamnya ada dua orang lemah, Zaid bin Abdul Hamid dan Daud bin ‘Atha.

Dengan demikian, sejatinya puasa Rajab adalah puasa yang dibolehkan dan termasuk dalam kategori puasa Sunnah. Karena tidak ada larangan untuk puasa bulan tersebut, karena tidak ada larangan, maka hadits-hadits yang menganjurkan puasa secara umum (pada bulan-bulan haram) itu tetap berdiri dan dilaksanakan karena tidak ada yang menyela hadits-hadits umum itu.

Namun madzhab al-Hanabilah menyatakan kalau hanya bulan Rajab diekslusifkan, itu termasuk perbuatan yang makruh yang sebaiknya ditinggalkan. Tapi tidak ada satu pun ulama baik salaf atau khalaf yang menyatakan puasa Rajab itu hukumnya haram apalagi bid’ah.