Makna Kata ‘Sholat’ dalam Al-Qur’an

Dibaca normal 3 menit

Kata shalat (الصلاة) di dalam Al-Qur’an cukup banyak kita temukan, setidaknya ada sekitar 60-an kata. Namun demikian kata sholat itu tidak selalu bermakna sama karena tergantung konteks ayat itu. Sebagian dari kata sholat ada yang maknanya masih terkait dengan ibadah sholat, cuma dibedakan jenis atau nama sholatnya. Dan juga kata sholat ini bermakna agak jauh dari ibadah sholat.

Beberapa kata sholat ada yang menunjukkan jenis sholat yang berbeda, seperti sholat lima waktu, sholat Jumat dan sholat jenazah. Umumnya kalau disebut kata sholat memang berarti shalat lima waktu, seperti ayat

حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat dan sholat wusthaa (QS. Al-Baqarah : 238)

baca : Diterimanya Taubat Orang Mengolok-olok Ayat Al-Qur’an

Kadang kata sholat yang dimaksudkan berarti sholat lima waktu, namun kadang yang dimaksud adalah sholat Jumat. Seperti pada ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (QS. Al-Jumuah : 9)

Kadang kata sholat yang dimaksud adalah sholat adalah sholat jenazah, sebagaimana tertuang dalam ayat

وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلاَ تَقُمْ عَلَىَ قَبْرِهِ

Dan janganlah kamu sekali-kali sholat kepada yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. (QS. At-Taubah : 84)

Dan seringkali pula kata sholat sama sekali tidak menunjuk kepada perbuatan sholat sebagaimana yang kita kenal sekarang ini, yang terdiri dari berdiri, rukuk, sujud, dengan bacaan tertentu. Kadang maknanya sangat jauh dan nyaris tidak ada hubungannya sama sekali.

baca : Hadits Banyak yang Palsu, Gunakan Al-Qur’an Saja

Kadang kata sholat itu berarti memberi keberkahan, memohonkan ampunan, bershalawat, mendoakan, membaca Al-Quran, bahkan bermakna rumah ibadah baik milik orang yahudi, nasrani ataupun milik umat Islam berupa masjid, dan lainnya. Kadang kata sholat bermakna memberi keberkahan, sebagaimana di dalam ayat

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab : 56)

Makna istilah shalat di ayat ini tentu bukan shalat yang kita kenal, walaupun kata yang digunakan adalah yushalluna, dimana terjemahan harfiyahnya adalah shalat. Ketika pelaku dari pekerjaan ini Allah SWT, maka tidak masuk akal kalau Allah melakukan sholat kepada Nabi. Namun yang dimaksud tidak lain adalah memberikan keberkahan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dan hal yang sama juga kita temukan dalam ayat lain, dimana Allah ada orang-orang yang mendapatkan ‘shalawat’ dari Allah. Dan ternyata maksudnya tidak lain adalah mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 157)

baca : Cukup Dengan Al-Qur’an dan Sunnah, Tidak Perlu Harus Berijtihad?

Juga tidak mungkin kalau malaikat juga mengerjakan sholat kepada Nabi. Makna sholat kepada Nabi ketika yang melakukannya para malaikat adalah memohonkan ampunan. Dan buat kita sebagai umatnya, kata sholat di dalam ayat di atas juga bukan bermakna melakukan sholat atas jenazah Nabi SAW. Tetapi sholat yang dimaksud adalah membaca shalawat atas beliau SAW.

Kadang kata shoalat bermakna bisa bermakna doa dan bukan sholat seperti yang kita kenal. Allah SWT berfirman dalam ayat

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. (QS. At-Taubah : 103)

Bagaimana bisa Nabi melakukan sholat buat manusia? Tentu tidak masuk akal dan tidak bisa diterima logika. Namun ketika sholat yang disebutkan itu bermakna mendoakan, maka maknanya jadi benar. Kata sholat dengan makna mendoakan juga bisa kita temukan di ayat lain

وَمِنَ الأَعْرَابِ مَن يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَاتٍ عِندَ اللّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ

Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. (QS. At-Taubah : 99)

baca : Kata ‘Ulama’ di Dalam Al-Qur’an

Kadang kata shalat bermakna doa dan bukan shalat yang kita kenal. Allah SWT berfirman dalam ayat berikut ini :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. (QS. At-Taubah : 103)

Bagaimana bisa Nabi melakukan shalat buat manusia? Tentu tidak masuk akal dan tidak bisa diterima logika. Namun ketika shalat yang disebutkan itu bermakna mendoakan, maka maknanya jadi benar. Juga kata shalat dengan makna mendoakan juga bisa kita temukan di ayat lain,

وَمِنَ الأَعْرَابِ مَن يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَاتٍ عِندَ اللّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ

Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. (QS. At-Taubah : 99)

Kadang kata sholat bermakna tempat ibadah orang kafir, baik gereja merupakan rumah ibadah orang nasrani, ataupun sinagog yang merupakan tempat ibadah orang yahudi. Makna itu termuat di dalam ayat

وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا

Dan sekiranya Allah tiada menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (QS. AlHajj : 40)

baca : Hafal Al-Qur’an Tapi Tak Mengerti Hukum Agama

Al-Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) di dalam tafsirnya menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang makna kata shalawat di dalam ayat di atas. Menurut Ibnu Abbas, maknanya adalah kanaisu an-nashara atau gereja orang kristen. Sedangkan menurut Ikrimah, Adh-Dhahhak dan Qatadah, maknanya adalah kanaisul yahudi atau tempat ibadah orang yahudi.

Dan juga kata sholat bisa bermakna masjid atau bangunan masjid, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. An-Nisa’ : 43)

Al-Imam Al-Qurtubi (w. 671 H) di dalam kitab tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran menuliskan bahwa menurut pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i yang dimaksud dengan larangan ‘jangan mendekati shalat‘ di dalam ayat ini dilarang masuk ke dalam masjid. Sehingga makna shalat di dalam ayat ini maksudnya tidak lain adala tempat shalat, yaitu bangunan masjid itu sendiri.

baca : Bacaan Al-Qur’an Pada Shalat Tarawih

Kalau melihat penjelasan atas beberapa makna shalat di atas, kita jadi tahu bahwa ternyata Al-Qur’an itu harus dipahami lewat ilmu yang benar dan luas, tidak cukup hanya dibaca terjemahannya saja. Dan tentu tidak boleh hanya dipahami berdasarkan makna kata secara tekstual.

Dan kunci dari semua itu adalah ilmu yang diajarkan oleh para ulama. Dan ilmunya para ulama, maka setiap orang hanya akan mendapatkan makna harfiyah dari Al-Qur’an, yang ternyata tidak sesuai dengan maksud dan tujuan ayat itu diturunkan.

Bagikan artikel ini ke :