Khadijah Al-Kubra, Menikah Diawali dengan Bisnis

Dibaca normal 8 menit

Khadijah Al-Kubra radhiyallahuanha, begitu buku kecil ini Penulis beri judul. Al-Kubra adalah gelar yang datang kemudian, ketika kita bicara tentang daftar para istri Nabi Muhammad SAW yang ada sebelas orang itu. Khadijah adalah istri yang paling agung, al-kubra, the greates, posisinya jauh lebih agung dari semua istri Rasulullah SAW. Beliau merupakan istri pertama Nabi SAW yang tidak pernah diduakan sepanjang hidupnya dengan wanita lain. Sepanjang masa 25 tahun pernikahan itu, cinta Nabi SAW kepada Khadijah adalah cinta tak bercabang, cinta tak berbagi, cinta yang tidak dishare kepada wanita lain.

Kalau diibarat dengan koneksi internet lewat provider internet (ISP), pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah ini adalah langganan dengan sistem dedicated list line, satu jalur untuk sendirian saja, jalurnya tidak dishare kepada para pengguna lain pengguna lain, yang kadang bisa bikin lemot koneksi dan loading melulu. Itu resikonya kalau berlangganan secara broad-band. Kalau mau stabil harus pakai jalur dedicated, karena satu jalur hanya digunakan sendirian. Ibarat orang punya jalan tol milik pribadi, mobil lainnya tidak boleh lewat jalan itu.

Pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah adalah pernikahan yang fokus hanya setia kepada satu istri saja. Tidak ada malam-malam pergiliran dan pergantian antara satu istri dengan istri lain. Setiap malam adalah waktu untuk satu wanita saja, yaitu istri tercinta dan satu-satunya : Khadijah radhiyallahuanha. Dalam banyak kitab Sirah Nabawiyah salah satunya karya dari Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa ketika menikah dengan Khadijah, saat itu Nabi SAW masih perjaka dengan usia 25 tahun. Sedangkan Khadijah janda dua kali, punya anak, dan sudah berusia 40 tahun.

Buat ukuran wanita kita di masa kini, menikah di usia 40 tahun agak jarang kasusnya. Apalagi untuk pernikahan yang ketiga buat pengantin perempuan yang sudah dua kali bersuami dan punya anak pula. Dan lebih jarang lagi pernikahan di usia 40 tahun itu menghasilkan 6 orang anak. Sebenarnya sudah agak beresiko menurut ukuran zaman kita.

Profil Khadijah

Nasab

Khadijah radhiyallahuanha adalah puteri seorang tokoh terkenal dari Bani Asad yaitu Khuwailid bin Naufal bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab. Qusyah bin Kilab ini kalau kita telusuri ternyata juga merupakan nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW. Perhatikan bahwa Nabi Muhammad SAW itu putera Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab.

Khadijah adalah seorang puteri keturunan dari Bani Asad, sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah seorang keturunan dari Bani Abdi Manaf. Khadijah dilahirkan di Mekkah Al-Mukarramah 15 tahun sebelum tahun Gajah atau sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW. Ibunda Khadijah bernama Fatimah binti Zaidah bin Al-Aham Al-Qurasyiyah, seorang wanita berparas cantik yang terkenal di seantero jagad Mekkah.

Tiga Pernikahan

Buat ukuran kita di Indonesia, wanita menikah sampai tiga kali dalam hidup pastinya kasus yang jarang terjadi. Kalau pun suaminya wafat, kebanyakan memutuskan untuk tidak menikah lagi. Meskipun ada saja yang tetap menikah lagi hingga nikah berkali-kali. Mungkin buat sebagian orang, sosok wanita menikah hingga beberapa kali dalam hidupnya dianggap kurang positif, seolah-olah dikesankan tidak setia menjadi janda dari mendiang suaminya dan mengubah garis nasab

Namun kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang positif, tentu akan menjadi lain cerita. Kita bisa mengatakan bahwa wanita yang menikah berkali-laki dalam hidup adalah wanita yang teramat tangguh. Dia sangat matang dalam menghadapi asam garam manis sepat kehidupan. Apalagi dalam kasus pernikahan Khadijah ini. Beliau bukan tipe wanita yang doyan kawin cerai, namun perpisahan dengan suaminya terjadi karena faktor kematian suami. Lalu bisa kembali bangkit menata kehidupan dengan suami baru tentu bukan perkara yang mudah. Bagaimana caranya melupakan kenangan indah masa lalu yang terenggut begitu saja, tentu butuh energi tersendiri.

Setidaknya orang semacam Khadijah bukan tipe orang yang terjebak dengan kenangan masa lalu, tetapi bisa menatap ke depan dan menerima kenyataan. Bahkan siap menerima resiko cibiran orang dengan tuduhan yang bukan-bukan. Lalu siapakah dua laki-laki yang pernah menjadi suami Khadijah radhiyallahuanha sebelum dinikahi Nabi SAW

Pernikahan Pertama

Pernikahan pertama ketika Khadijah berusia 15 tahun. Suaminya seorang laki-laki kaya raya dari Bani Tamim bernama Abu Halah Hind bin An-Nabbasy bin Zurarah Al-Asadi. Dari pernikahan itu lahirlah dua anak laki-laki yang diberi nama Hind dan Halah.

Namun ketiga keduanya masih kecil-kecil, Abu Halah wafat dan meninggalkan kekayaan yang teramat berlimpah buat mereka. Jadilah Khadijah janda kembang kota Mekkah yang kaya raya dengan dua anak. Sehingga banyak terjadi persaingan di antara laki-laki kota Mekkah, baik yang masih single atau pun yang sudah beristri, untuk mempersuntingnya.

Pernikahan Kedua

Pemenangnya adalah seorang laki-laki dari Bani Makhzum bernama ‘Atiq bin Abid bin Abdullah bin Umar Al-Mahzumi. Namun ada dua riwayat yang berbeda tentang perpisahan mereka. Sebagian kitab sirah menyebutkan bahwa mereka bercerai tanpa anak. Namun sebagian lainnya menyubutkan bahwa Khadijah kembali menjadi janda karena Atiq meninggal dunia. Dua kali menikah dan dua kali menjadi janda membuat Khadijah matang dalam memandang kehidupan. Sehingga kalau pun akan menikah lagi untuk yang berikutnya, tentu pertimbangannya menjadi sangat matang.

Pernikahan Ketiga

Setelah itu barulah kemudian Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad SAW. Sehingga pernikahan dengan Nabi SAW merupakan pernikahan yang ketiga kalinya. Namun meski jadi pernikahan ketiga, cinta yang tumbuh di antara keduanya bukan main dahsyatnya. Bahkan pernikahan ketiga ini malah membuahkan keturunan. Setidaknya pernikahan itu memberikan 6 orang anak.

Pernikahan Dengan Nabi SAW

Diawali Kerja-sama Bisnis

Dalam banyak kitab Sirah Nabawiyah banyak disebut-sebut bahwa pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah ini diawali dari kerja sama bisnis. Jadi bukan semata-mata Khadijah mencari pendamping hidup dan calon suami. Awalnya terjadi tanpa niat untuk hal-hal seperti itu. Dua pernikahan sebelumnya sudah cukup bagi Khadijah. Namun ketika Allah SWT menggariskan hal yang lain, tentu saja bukan berarti harus ditolak.

Usaha Yang Sukses

Sepeninggal dua suaminya, Khadijah meneruskan usaha bisnis keluarga. Ternyata bisnisnya malah berkembang dan semakin maju. Jadilah Khadijah sosok wanita pebisnis bermodal kuat yang dengan ruang lingkup bisnis yang cukup besar. Bahkan Khadijah terbiasa membantu sesama pengusaha untuk bisa ikut maju. Salah satunya dengan meminjamkan modal berdagang buat para saudagar Mekkah. Kala itu sudah lazim akad pinjam meminjam, dimana pengembaliannya harus dengan tambahan alias bunga. Namun hal itu wajar dan tidak jadi masalah, karena sudah jadi kebiasaan dalam bisnis, yaitu pinjam modal buat usaha lalu waktu pengembaliannya harus dengan tambahan

Masih Sistem Ribawi

Hanya saja yang jadi sasaran kritik apabila usaha seseorang sedang tidak baik, tidak untung malah rugi, baik karena faktor alam, dirampok di jalan, bencana, dan lainnya, maka penyelesaiannya agak kurang manusiawi. Si pedagang tetap diharuskan bayar hutang itu tanpa pertimbangan. Jadi orang sudah rugi lalu dizhalimi pula. Kalau sudah begini, maka ujung-ujungnya bermuara kepada perbudakan

Karena terlilit hutang yang hanya bisa dibayar dengan harga dirinya, alias jadi budak. Konon Nabi SAW saat itu masih termasuk meniti karir jadi pedagang, yang butuh suntikan modal sebagaimana umumnya saudagar lainnya. Maka beliau pasti butuh pihak yang mau meminjamkan modal seperti Khadijah. Dan nyaris semua pedagang juga butuh peranan Kadijah.

Bagaimana Khadijah Bisa Tertarik?

Nabi SAW Masih Perjaka

Para saudagar itu biasanya pria-pria mapan yang sudah berkecukupan ekonominya. Dan pastinya pria mapan itu sudah beristri. Bahkan sesuai adat kebiasaan kala itu, istri tidak cukup satu tapi bisa puluhan jumlahnya. Wajar kalau harus memilih, Khadijah akan memilih laki-laki yang masih single, alias tidak beristri. Sehingga akan jadi istri satu-satunya yang disayangi. Ada dua tipe laki-laki yang tidak beristri, yaitu duda atau perjaka. Kalau disuruh memilih, tentu saja perjaka lebih dipilih ketimbang duda. Apalagi duda banyak anak dan cucu, urusannya bisa panjang karena rebutan warisan.

Jadi sangat manusiawi buat Khadijah untuk menikah lagi, karena hidup jadi wanita janda sebatang kara itu tidak mudah, bahkan untuk ukuran zaman segitu. Dan kalau menikah dan cari suami, amat wajar dan masuk akal kalau beliau lebih memilih yang single ketimbang yang sudah beristri. Dan kalau pilihannya single duda atau single perjaka, masuk akal sekali kalau yang perjaka itulah yang dipilih. Ini baru logika dasarnya, sebelum mempertimbangkan faktor realita orangnya.

Bicara sosok orang yang dipilih Khadijah, wajar kalau Beliau memilih calon suami yang merupakan pengusaha juga, biar jelas kemapanannya. Sudah perjaka, masih muda, tanpa istri dan ini yang paling penting : mapan pula. Lengkap lah kriterianya. Segitu saja seharusnya sudah cukup alasan buat Khadijah menikah dengan Muhammad. Tapi kita menemukan banyak bonus-bonus lainnya.

Kerjasama Bisnis Saling Menguntungkan

Pinjaman modal dari Khadijah yang diusulkan Muhammad itu unik, kita di zaman sekarang menyebutnya sebagai pinjaman bebas riba. Sebenarnya sistemnya bukan pinjam uang atau pinjam modal, tapi join kerjasama bagi hasil. Muhammad bermodal otak dan tenaganya dan Khadijah bermodal dananya. Lalu bisnis itu milik berdua, bukan milik Muhammad saja atau milik Khadijah saja. Maka kalau untung dibagi dua dan kalau rugi pun ditanggung bersama.

Mungkin buat ukuran di zaman modern sekarang, model kayak gitu biasa-biasa saja. Namun untuk ukuran di masa mereka, ini model bisnis yang masih asing. Setidaknya join usaha di masa itu masih dianggap aneh. Dan di masa kini pun aneh juga, kecuali memang ada saling kepercayaan yang lebih. Dan memang dalam hal ini Muhammad punya modal yang jarang diliki orang lain yaitu beliau bergelar Al-Amin yaitu orang yang sangat dipercaya.

Sikap Jujur dan Amanah

Nabi Muhammad SAW memang sejak masih muda sudah dikenal sebagai orang yang jujur dan amanah. Beliau secara resmi dan tanpa perdebatan diberi gelar Al-Amin, yaitu orang yang paling dipercaya. Bersikap jujur dan amanah ini memang sudah bawaan orok, sehingga menjadi akhlaq yang berurat dan berakar, sehingga tidak bisa dipisahan dari jati dirinya.

Maka ketika berdagang atau berbisnis, sikap jujur dan amanah ini pula yang menjadi modalnya. Bukan bermodal uang, juga tidak bermodal warisan tujuh turunan, melainkan modal kejujuran dan amanah. Di masa yang mana pun modal kejujuran dan amanah ini yang mahal harganya, jarang-jarang ditemukan. Sikap jujur dan amanah inilah sifat yang banyak dicari orang, khususnya dalam dunia usaha yang sifatnya berpartner. Dan tidak ada sikap yang lebih menyakitkan dari pada dikhianati oleh rekan bisnis sendiri.

Maisarah

Meski Khadijah percaya dengan gelar Al-Amin yang disandang Muhammad, namun usaha dan ikhtiyar tetap dijalankan. Khadijah tidak melepas Muhammad begitu saja membawa modalnya. Tapi tetap ada kontrol dan pengawasan. Maka sepanjang perjalanan bisnis Muhammad yang bawa modal miliknya, Khadijah menitipkan orang kepercayaannya bernama Maisarah. Maisarah inilah terus menguntit Muhammad siang malam kemanapun pergi. Bahkan jadi teman perjalanan selama berniaga ke berbagai tempat. Nama Maisarah ini kadang bikin penasaran sekaligus pertanyaan usil. Memangnya boleh Maisarah ini kemana-mana runtang-runtung berdua-duaan dengan Muhammad yang bukan muhrim?

Jawabannya boleh dan boleh. Sebab Maisarah itu kumisan dan jenggotan. Ya Maisarah itu laki-laki, bukan perempuan. Memang kuping kita kadang suka keliru mengira nama Maisarah itu cocok buat nama perempuan. Padahal di Arab sana yang namanya Maisarah itu brewokan.

Nilai Mahar

Ibnu Hisyam menuliskan dalam kitabnya

وَأَصْدَقَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِشْرِينَ بَكْرَةً

Nabi SAW memberi mahar kepada Khadijah sebanyak 20 bakrah.

Yang maksud dengan bakrah adalah unta yang muda betina. Anggaplah harga seekor unta sedikit di atas harga sapi, misalnya 30 juta rupiah seekor. Maka setidaknya nilainya menjadi kurang lebih 600 juta rupiah. Lalu pertanyaannya : dari mana Nabi SAW punya modal sebanyak itu?

Ada riwayat menyebutkan bahwa paman-paman Beliau dalam hal ini ikut turun tangan membantu, sehingga peran keluarga dalam hal ini lumayan besar. Nilai mahar 20 ekor unta ini tentu saja jauh berbeda dengan apa yang disebutkan oleh Aisyah sekian puluh tahun kemudian.

كانَ صَدَاقُهُ لأَزْوَاجِهِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً وَنَشًّا، قالَتْ: أَتَدْرِي ما النَّشُّ؟ قالَ: قُلتُ: لَا، قالَتْ: نِصْفُ أُوقِيَّةٍ، فَتِلْكَ خَمْسُمِئَةِ دِرْهَمٍ، فَهذا صَدَاقُ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ لأَزْوَاجِهِ

Aisyah berkata,”Mahar Rasulullah kepada para isteri beliau adalah 12 Uqiyah dan satu nasy”. Aisyah berkata,”Tahukah engkau apakah nash itu?”. Abdur Rahman berkata,”Tidak”. Aisyah berkata,”Setengah Uuqiyah”. Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mahar Rasulullah SAW kepada para isteri beliau. (HR. Muslim)

Tentu yang diceritakan Aisyah disini hanya sebatas istri-istri Nabi SAW setelah Aisyah. Sedangkan untuk mahar kepada Khadijah, jelas sekali Aisyah tidak tahu, karena di masa itu Aisyah memang belum dilahirkan. Maka jelas sekali perbedaan nilai mahar yang Nabi SAW berikan kepada Khadijah itu sesuatu yang spesial dan istimewa. Sebab selain istri pertama dan yang paling dicintainya, mungkin juga karena Khadijah itu wanita yang kaya raya, hartanya berlimpah. Jadi kalau hanya diberi mahar 500 dirham, sama sekali tidak ada nilainya, bahkan bisa juga dianggap menghina.

Lalu pertanyaannya : berapa sih 500 dirham itu kalau kita konversi dengan uang rupiah kita? Tentu ada banyak sistem konversi, salah satunya lewat perbandingan harga komoditas yang ada di masa itu. Ada sementara kalangan memberi saran bahwa harga 1 Dinar emas itu setara kambing, sedangkan 1 Dirham itu setara seekor ayam.

عَنْ عُرْوَةَ البَارِقِيّ أَنَّ النَّبِيَّ بَعَثَ مَعَهُ بِدِيْنَارٍ يَشْتَرِي لَهُ أُضْحِيَّةً فَاشْتَرَى لَهُ اثْنَتَيْنِ فَبَاعَ وَاحِدَةً بِدِيْنَارٍ وَأَتَاهُ بِالأُخْرَى . فَدَعَالَهُ بِالبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ فَكاَنَ لَوِ اشْتَرَى التُّراَبَ لَرِبَحَ فِيْهِ

Kalau kita pakai ukuran ayam, sebutlah harganya 50 ribu rupiah. Jadi 500 dirham itu tinggal dikalikan dengan 50 ribu, sama dengan 25 juta. Angka ini rasanya masih bisa diterima buat banyak kalangan di negeri kita. Sedangkan 600 juta tentu terlalu tinggi. Maka bisa kita bandingkan bagaimana penghargaan Rasulullah SAW kepada Khadijah dari sisi nilai maharnya yang terpaut jauh sekali nilainya.

Putera-puteri

Dari pernikahan ketiga dengan Nabi Muhammad SAW di usia 40 tahun, ternyata Khadijah melahirkan 6 putera puteri, empat perempuan dan dua laki-laki.

  • Zainab : menikah dengan Abul Ash dan punya anak perempuan bernama Umamah.
  • Ummu Kultsum: menikah dengan Utsman bin Al-Affan, namun wafat setelah itu.
  • Ruqayyah : sepeninggal ruqayyah, Utsman pun menikahi adiknya, Ummu Kaltsum.
  • Abdullah : wafat ketika masih kecil
  • Qasim : wafat ketika masih kecil. Kun-yah Nabi Muhammad SAW dinisbatkan kepadanya sehingga sebutannya adalah Abul Qasim.
  • Fathimah : anak bungsu dan menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Mereka punya keturunan lagi yaitu Hasan, Husein, Ummu Kaltsum, Muhsin dan Zaenab

Meskipun nantinya Rasulullah SAW sepeninggal Khadijah menikah dengan banyak wanita, namun tak satupun dari mereka yang memberikan anak keturunan. Boleh dibilang Nabi SAW hanya punya keturunan justru dari pernikahan dengan Khadijah. Sebab meskipun Maria Al-Qibthiyah, budak hadiah raja Mesir, memberikan anak laki-laki satu-satunya, namun anak itu sejak kecil sudah wafat. Oleh karena itu yang memberikan keturunan anak dan cucu hanya pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah.

bersambung …. Cinta Pertama Cinta Abadi Nabi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *