Ketika Amal Baik Hilang Bagai Debu

Dibaca normal 2 menit

Agama dibangun dengan 2 pondasi. Keyakinan dan perbuatan. Keyakinan yang kuat saja tidak cukup untuk menjadikan manusia mencapai tujuan agama. Perbuatan pun akan sia-sia jika tidak didasari oleh keimanan yang kuat.

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أُولَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu peng-huni surga. Mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah 82)

Kata iman selalu bergandengan dengan kata amal. “Mereka yang beriman dan beramal sholeh”, begitu firman Allah. Dua kata ini selalu hadir bersamaan untuk menunjukkan bahwa satu dan lainnya tak boleh berpisah.

Keimanan harus selalu disertai dengan perbuatan. Allah selalu mengajak manusia untuk beramal soleh di dunia. Karena masih ada perjalanan panjang setelah kematian. Dia butuh bekal yang cukup untuk menyambut kehidupan abadinya di akhirat.

Tapi agama tidak pernah mengajarkan untuk merasa cukup dalam berbuat. Ketika kita telah selesai melakukan amal kebaikan, segera sambung amalan itu dengan kebaikan yang lain. Jangan pernah berhenti untuk beramal.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah berbuat (untuk urusan yang lain).” (QS Al-Insyiroh 7)

Hati-Hati dengan Amal Baik !

Perbuatan baik sering diiringi dengan perasaan bangga diri. Sebanyak apapun masjid yang kita sumbang, anak yatim yang kita asuh, saudara yang kita bantu dan sebanyak apapun kebaikan tidak menjadikan kita layak untuk berbangga. Kenapa? Bukankah saya memang banyak berbuat baik?

Ya, mungkin kita setiap hari selalu berlomba untuk berbuat baik, tapi siapa yang menjamin perbuatan itu diterima oleh Allah ? Bukankah Allah sering mengingatkan tentang amalan baik yang gugur sia-sia? Seperti pahala sodaqoh yang luntur ketika diungkit dihadapan si penerima.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima). (QS Al-Baqarah 264)

Bukankah Allah berjanji akan membalas orang yang datang ke akhirat dengan tetap membawa kebaikan, bukan hanya melakukan kebaikan lalu dia membakarnya dengan dosa-dosa?

Mengapa kita tidak boleh merasa cukup dan berbangga dengan amal baik kita? Karena Al-Qur’an memperingatkan, akan banyak manusia yang merasa telah berbuat baik namun sampai di akhirat dengan tangan kosong.

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

Dan Kami akan Perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan Jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al-Furqon 23)

Selain itu, Allah menyifati orang mukmin adalah mereka yang banyak beramal tapi hatinya selalu khawatir akan keselamatan dirinya di Hari Akhir. Mereka tidak pernah bangga dan merasa mulia dihadapan Allah.

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan-nya. (QS Al-Mu’minun 60)

Teringat kisah Ali bin Abi tholib ketika ditegur oleh sahabatnya, “Sampai kapan engkau akan menyedekahkan hartamu? Kapan engkau akan berhenti memberikan semua yang kau miliki kepada orang lain?” Ali menjawab, “Jika aku mengetahui satu saja amalan baikku diterima Allah swt, mungkin aku akan berhenti.”

Disini Ali ingin mengajarkan untuk jangan pernah merasa cukup. Jangan pernah berbangga diri dengan perbuatan baik. Karena tidak ada yang tau, apakah amalan itu masih ada di Hari Akhir. Atau telah hilang seperti debu yang beterbangan. Semoga amalan kita di terima oleh Allah dan akhir hidup kita ditutup dengan Husnul Khotimah.

Bagikan artikel ini ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.