Jangan Sampai Bahagiamu Menjadikanmu Lupa Berbakti kepada Orang Tua!

Menghormati orang tua sangat ditekankan dalam Islam. Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang  menyatakan bahwa segenap mukmin mesti berbuat baik dan menghormati orang tua. Selain menyeru untuk beribadah kepada Allah dan tidak meyekutukan-Nya dengan apapun. Al-Qur’an juga menegaskan kepada kaum beriman untuk menunjukan rasa syukur kepada Allah untuk menghormati kedua orang tuanya. Begitupun dalam pepatah “;Surga berada di bawah telapak kaki ibu”. Al-Amiriy berkata maksud dari surga yaitu ukuran dalam berbakti dan khidmah pada para ibu bagaikan debu yang berada di bawah telapak kaki mereka, karena merekalah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui serta mendidik anak-anak mereka.

Islam telah mengajarkan umat muslim agar taat dan berbakti kepada orang tua, mengingat banyak dan besarnya pengorbanan serta kebaikan orang tua terhadap anaknya. Memelihara dan mendidik sejak kecil tanpa perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak mengharapkan balasan sedikitpun dari anak. Meskipun anak sudah mandiri dan berkecukupan tetapi orang tua tetap memperlihatkan kasih sayangnya. Oleh karena itu seorang anak memiliki kewajiban terhadap orang tuanya menempati urutan kedua setelah Allah, dan dilarang untuk durhaka kepada orang tua.

Ibu adalah orang yang telah mengandung, menyusui dan membesarkan kita. Sementara tugas seorang ayah adalah mencari nafkah dan juga sebagai pemimpin keluarga. Orangtua adalah perantara bagi kehadiran seorang anak di muka bumi. Berbakti pada orangtua adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang anak. Bahkan di dalam Al-Qur’an ayat yang memperintahkan untuk berbakti pada orangtua diulang sebanyak 16 kali. Selain itu, perintah berbakti pada orangtua disejajarkan dengan perintah beriman dan beribadah pada Allah.

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔا ۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًا وَبِذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالًا فَخُورًا

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,

Keutamaan berbakti pada orangtua tidak hanya dijelaskan dalam Al-Qur’an, akan tetapi dijelaskan juga dalam hadits Nabi. Bahkan di dalam Hadits berbakti pada orangtua lebih diutamakan daipada berjihad di jalan Allah. Hadist berbakti pada orangtua.

Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah selalu memerintahkan setiap muslim untuk memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik. Orang yang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya akan masuk neraka meskipun banyak melakukan amal kebajikan di dunia.

Sebagai contoh kisah dari Rasulullah SAW mengenai berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu jalan terdekat menuju syurga.Rasulullah SAW dilahirkan dalam keadaan yatim.Ayahnya meninggal dunia saat beliau masih berada dalam kandungan ibunya, Aminah binti Wahab. Kemudian ibunya meninggal ketika beliau masih kecil. Setelah itu, beliau diasuh kakenya, Abdul Mutholib bin Hasyim. Rasulullah SAW telah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya sejak kecil beliau merasakan semua kehilangan itu dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Sehingga kakenya berusaha keras menggantikannya mencurahkan segala kasih sayangnya. Setelah kakenya meninggal dunia, Nabi Muhammad SAW berada dalam asuhan pamannya, Abu Thalib yang amat mencintainya. Kemudian Abu Thalib pun meninggal dunia. Rasulullah SAW yang berperangai lembut dan perasaanya halus, harus kehilangan kakek, paman, dan istrinya. Semua itu sangat membekas dalam lubuk jiwanya.

Tatkala Allah SWT memuliakannya dengan risalah Islam dan menerima wahyu Al-Qur’an melalui perantaraan malaikat Jibril terdapat sejumlah ayat yang berisi perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua, mentaati perintahnya serta memperlakukannya dengan penuh kasih sayang dan hormat. Tidak hanya sebatas itu Allah SWT bahkan menempatkan keharusan berbakti kepada kedua orang tua setelah keharusan beriman kepada Allah SWT dan hari akhir.

Dalam tafsir Ahmad Mustofa dijelaskan bahwa Allah memerintahkan berbuat baik terhadap orang tua, karena kedua orang tualah yang memberikan belas kasih kepada anaknya, bersusah payah dalam memberikan kebaikan dan menghindarkan anaknya dari bahaya. Oleh karena itu, wajarlah orang tua diberi imbalan dengan kita harus berbuat baik dan syukur pada keduanya.

Kedua bahwa anak adalah belahan jiwa dari orang tua, sebagaimana di beritakan dalam sebuah kabar bahwa Nabi SAW pernah bersabda bahwa fatimah adalah belahan jiwaku. Yang ketiga bahwa kedua orang tua telah memberi kenikmatan kepada anak, ketika anak itu sedang dalam keadaan lemah dan tidak berdaya sedikitpun. Oleh karena itu, wajib hal itu di balas dengan rasa syukur, ketika ke dua orang tua itu telah tua.

Keutamaan Berbakti kepada kedua orang tua membuahkan banyak keutamaan diantaranya mudah terkabulkannya doa. Selain itu, berbakti orang tua menjadi sebab dihapuskannya dosa besar. Seorang laki-laki mendatangi Nabi lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar. Apakah ada taubat untukku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang ibu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki seorang bibi?” Ia menjawab, “Ya” Nabi bersabda, “Berbaktilah kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban)

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan penyebab keberkahan dan bertambahnya rezeki. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Ahmad)

Barangsiapa yang berbakti kepada bapak ibunya maka anak-anaknya akan berbakti kepadanya, dan barangsiapa yang durhaka kepada keduanya maka anak-anaknya pun akan durhaka pula kepadanya. Tsabit Al-Banany mengatakan, “Aku melihat seseorang memukul bapaknya di suatu tempat. Maka dikatakan kepadanya, ‘Apa-apaan ini?’ Sang ayah berkata, ‘Biarkanlah dia. Sesungguhnya dulu aku memukul ayahku pada bagian ini maka aku diuji Allah dengan anakku sendiri, ia memukulku pada bagian ini. Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakt kepada kalian.'”

Sesorang yang berbakti kepada kedua orang tua maka amalnya akan diterima. Diterimanya amal akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ibnu Umar mengatakan, “Kalau aku tahu bahwasanya aku punya shalat yang diterima, pasti aku bersandar kepada hal itu. Barangsiapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya, sesungguhnya Allah menerima amalnya.”

Bagikan artikel ini ke :