Isra’ Mi’raj : Perintah Sholat Hingga Rasul Merasa Malu Menawarnya

Allah telah memilih Muhammad yang sudah terkenal akan kejujurannya sebagai Nabi dan Rasul. Sebelum beliau dibebani amanat membawa risalah, selama itu pula kaumnya belum pernah mendengar atau menyaksikan dan mendapati beliau berdusta. Atas prestasi luar biasa itu pula Nabi Muhammad diberi gelar oleh kaumnya dengan gelar al-Amin (orang yang terpercaya).

Jika kita baca sejarah kehidupan Rasulullah (Sirah Nabawiyah), sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi, Rasulullah mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam. Beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah yang setia menemani dan menghiburnya di kala orang lain masih mencemoohnya. Lalu beliau juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib yang (walaupun non muslim) tetapi dia sangat melindungi aktivitas Nabi Muhammad

Tahun itu disebut amul huzni atau lebi dikenal (tahun kesedihan). Sehingga orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan kejahatan kepada Nabi, sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas pundak Rasulullah SAW. Dalam keadaan yang duka cita dan penuh dengan rintangan yang sangat berat itu, menambah perasaan Rasulullah SAW semakin berat dalam mengemban risalah Ilahi.

Lalu Allah “menghibur” Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit ketujuh dan menemui Allah. Hingga kini, peristiwa ini seringkali diperingati oleh sebagian besar kaum muslimin dalam peringatan Isra Mi’ raj. Pada hakikatnya peringatan itu hanyalah untuk memotivasi dan penyemangat umat muslim, bukan dalam rangka beribadah (ibadah dalam artian ibadah ritual khusus). Namun peringatan tersebut juga terdapat beberapa pelajaran.

Sebuah perjalanan Nabi yang dimulai dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsha. Dan Mi’raj perjalanan Nabi Muhammad naik dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha (langit tertinggi). Peristiwa isra Mi’raj diabadikan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Allah menyebutkan peristiwa ini di dua tempat dalam Al-Qur’an, yaitu yang pertama dalam QS Al-Isra ayat 1

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلًا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat

Ibnu Ishaq berkata, seperti disampaikan kepadaku bahwa hadits tentang Isra Rasulullah berasal dari Abdullah bin Mas’ud, Abu Said Al-Khudri, Aisyah istri Rasulullah, Muawiyah bin Abi Sufyan, Al-Hasan bin Al-Hasan, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah dan Ummu Hani binti Abdul AlMuthalib. Mereka semua meriwayatkan dari Rasulullah SAW.

Dalam firman-Nya di atas, Allah benar-benar menginginkan kita mengetahui bahwa bahwa Isra Mi’raj merupakan perbuatan-Nya. Tidak terjadi oleh kekuatan Nabi Muhammad sebagai manusia biasa. Karenanya surat tersebut dimulai dengan dengan “subhaanalladzi asraa…” yang artinya, apapun yang akan terjadi sesudah itu dikaitkan pada kekuatan-Nya. Kedua peristiwa Isra Mi’raj ada dalam Firman Allah QS An-Najm ayat 13-18.

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ. عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ. عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ. إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ. مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ. لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda: Aku diberi Buraq, yaitu seekor hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih kecil dari keledai. Aku mengendarainya. Dia membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Lalu aku mengikatnya di tempat para nabi menambatkan.

Aku masuk ke Baitul-Maqdis dan shalat dua raka’at. Setelah itu aku keluar. Malaikat Jibril menghampiriku dengan membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah berisi susu. Aku memilih susu. Malaikat Jibril Alaihissalam berkata: “Engkau telah (memilih) sesuai dengan fithrah” setelah itu, ia membawaku naik ke langit.

Nabi Muhammad dibawa naik melewati beberapa langit. Pada setiap langit, Malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya: “Siapakah yang bersamamu?” Jibril menjawab “Ini Muhammad”. Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Adam, di langit kedua berjumpa dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya,

Di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yusuf, di langit keempat dengan Nabi Idris, di langit kelima dengan Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa, dan di langit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrahim yang sedang bersandar pada Baitul-Ma’mur.

Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanan sampai ke Shidratul-Muntaha (langit tertinggi). Di sinilah, Allah mewajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya untuk menegakkan shalat 50 kali sehari semalam. Akan tetapi dalam perjalanan kembali dari mi’raj ini, ketika sampai di tempat Nabi Musa beliau ditanya: “Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?”

Rasul menjawab pertanyaan ini, Nabi Musa meminta kepada Nabi untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan. Rasul melaksanakan saran itu, dan Allah pun berkenan memberi keringanan. Ketika Rasulullah hendak kembali dan berjumpa dengan Nabi Musa, beliau meminta Rasulullah agar meminta keringanan lagi, dan saran itu pun dilaksanakan sampai Allah berkenan memberi keringanan.

Hingga akhirnya, kewajiban shalat itu hanya lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musa meminta Nabi Muhammad memohon keringanan lagi, maka Rasulullah berkata: “Aku sudah memohon kepada Rabbku sehingga aku merasa malu” lalu terdengar suara: Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku.

Bagikan artikel ini ke :