Ijtihad Imam Syafi’i vs Imam Nawawi

Imam syafiโ€™i merupakan mujtahid mutlaq sekaligus pendiri Mazhab Syafi’i sedangkan Imam Nawawi adalah seorang ulama besar yang bermazhab Syafi’i sekaligus ulama yang memfilter mazhab (Muharrir Mazhab). Walaupun beliau seorang pengikut Mazhab Syafi’i, namun ada beberapa ijtihad beliau yang menyelisihi Ijtihadnya sang pendiri mazhab. Kendatipun demikian, hal tersebut tidaklah mengeluarkan beliau dari barisan pengikut Imam Syafi’i.

Hukum Menggunakan Air Musyammas

Sebelum menyebutkan perbedaaan ijtihad antara Imam Syafi’i dengan Imam Nawawi dalam masalah ini, alangkah baiknya saya menjelaskan terlebih dahulu apa itu air musyammas.? Air Musyammas adalah air yang di panaskan oleh sengatan matahari. Para ulama telah menjelaskan beberapa syarat air musyammas,

Air itu terletak di daerah yang panas seperti timur tengah. Sedangkan daerah tropis seperti indonesia, itu tidak termasuk katagori air musyammas. Air tersebut dipanaskan didalam wadah yang terbuat dari selain emas dan perak, seperti: besi dan kuningan. Sedangkan air yang berada dalam danau, waduk, kolam, dan lain-lain, itu tidak termasuk air musyammas.

Ulama sepakat atas kesucian air musyammas dan sah bersuci dengan mengunakan air tersebut. Mereka juga sepakat bahwa tidak makruh mengunakan air musyammas pada selain badan, seperti mencuci baju, wadah dan menyiram tanaman. Mereka berselisih pendapat mengenai hukum menggunakannya pada badan, seperti wudhu dan mandi.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa makruh menggunakan air musyammas untuk berwudhu dan mandi karena dapat menyebabkan penyakit Barash (kusta). Berdasarkan hadist aisyah r.a,

ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช : ูˆู‚ุฏ ุฃุณุฎู€ู€ู†ุช ู…ุงุก ููŠ ุงู„ุดู…ุณ, ูู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ { ู„ุง ุชูุนู„ูŠ ูŠุง ุญู…ูŠุฑุงุก ุ› ูุฅู†ู‡ ูŠูˆุฑุซ ุงู„ุจุฑุต } [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ]

Dari Aisyah r.a ia berkata: saya memanaskan air dengan sinar matahari, kemudian Rasullah saw bersabda: jangan engkau lakukan itu wahai Humaira (pipi yang kemerah-merahan) karena hal itu dapat menyababkan penyakit Barash (kusta) [HR. Baihaqi]

Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada kemakruhan dalam mengunakan air musyammas baik untuk berwudhu ataupun untuk mandi karena hadist yang digunakan oleh Imam Syafi’i adalah hadist dhaif menurut kesepakatan ulama hadist.

Adapun pernyataan bahwa mengunakan air yang dipanaskan dengan cahaya matahari dapat menyababkan penyakit kusta, hal tersebut dijelaskan dalam kitab Ikhtiyarat nawawi Fil majmu’ al-Mukhalafah lilmazhab karya Ali muhammad Audah. Imam Nawawi mengatakan sama sekali tidak dapat dibuktikan berdasarkan ilmu kedoktoran. Oleh karena itu, hukum mengunakan air musyammas kembali kepada prinsip asal yaitu tidak ada kemakruhan.

Bersiwak Bagi Orang Berpuasa

Ulama sepakat bahwa sunnah mengunakan siwak pada setiap waktu dan keadaaan kecuali bagi orang yang sedang berpuasa setelah tergelincirnya matahari. Berdasarkan hadist Nabi SAW,

ุงู„ุณูู‘ูˆูŽุงูƒู ู…ูŽุทู’ู‡ูŽุฑูŽุฉูŒ ู„ูู„ู’ููŽู…ู ู…ูŽุฑู’ุถูŽุงุฉูŒ ู„ูู„ุฑูŽู‘ุจูู‘

Siwak dapat membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Allah. (HR. Nasai)

Ulama berselisih pendapat mengenai hukum bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa setelah tergelincirnya matahari, Imam Syafi’i berpendapat bahwa makruh mengunakan siwak bagi orang yang sedang setelah tergelincirnya matahari. Berdasarkan hadist Nabi saw

ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุจููŠูŽุฏูู‡ูุŒ ู„ูŽุฎูู„ููˆูู ููŽู…ู ุงู„ุตูŽู‘ุงุฆูู…ู ุฃูŽุทู’ูŠูŽุจู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฑููŠุญู ุงู„ู…ูุณู’ูƒู [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ]

Demi zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada wangi Kasturi [HR.Bukhari]

Siwak dapat menghilangkan bau mulut orang yang sedang berpuasa, padahal bau mulut tersebut lebih disukai oleh Allah daripada bau Kasturi. Oleh karena itu, makruh hukumnya menghilangkan bau mulut tersebut baik dengan bersiwak maupun dengan yang lainya (Ikhtiyarat nawawi Fil majmu’

Di kitab yang sama Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada kemakruhan untuk bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa walaupun setelah tergelincirnya matahari. Berdasarkan keumuman hadist Nabi

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู: ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุดูู‚ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูู…ูŽู‘ุชููŠ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ู„ูŽุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชูู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ุณูู‘ูˆูŽุงูƒู ู…ูŽุนูŽ ูƒูู„ูู‘ ุตูŽู„ุงูŽุฉู

Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Seandainya tidak memberatkan umatku dan manusia, maka sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap menunaikan shalat [HR. al-Bukhari]

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa bersiwak dapat menghilangkan bau mulut orang yang sedang berpuasa, itu sama sekali tidak benar karena bau mulut orang yang sedang berpuasa itu berasal dari perut yang kosong bukan dari mulut.

Permulaan Waktu Mengusap Khuf

Apabila seorang muslim telah berwudhu dengan sempurna kemudian dia memakai sepatu, apabila wudhunya batal, maka diberikan keringanan baginya untuk mengusap bagian atas sepatu tersebut tanpa harus membasuh kaki.

Para ulama sepakat mengenai disyariatkannya mengusap sepatu dengan beberapa syarat: Sepatu yang diusap harus dalam keadaan suci. Memakai sepatu setelah sempurnanya wudhu. Sepatu tersebut harus menutupi kedua mata kaki. Sepatu tersebut layak dan kuat digunakan untuk berjalan.

Para ulama berbeda pendapat apakah mengusap sepatu ada batasan waktu tertentu ataukah tidak.? Mayoritas ulama dari kalangan Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali mengatakan: mengusap sepatu ada batasan waktu tertentu yaitu sehari semalam bagi yang muqim (bukan musafir) dan tiga hari tiga malam bagi musafir. Landasan mereka adalah sabda Nab

ุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ูˆูŽู„ูŽูŠูŽุงู„ููŠูŽู‡ูู†ูŽู‘ ู„ูู„ู’ู…ูุณูŽุงููุฑูุŒ ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูˆูŽู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู‹ ู„ูู„ู’ู…ูู‚ููŠู…ู [ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…]

Rasulullah saw menentukan masa mengusap sepatu bagi musafir (orang dalam perjalanan) selama 3 hari 3 malam, dan bagi Muqim (orang yang menetap) selama 1 hari 1 malam (HR.Muslim)

Ulama dari kalangan Mazhab Maliki mengatakan: mengusap sepatu tidak ada batasan waktu tertentu. Imam Nawawi berselisih pendapat dengan Imam Syafi’i mengenai kapan mulai di hitungnya masa mengusap, Imam Nawawi berpendapat bahwa masa mengusap mulai di hitung pada usapan pertama setelah berhadast. Imam Syafi’i berpendapat bahwa masa mengusap mulai di hitung setelah berhadast

Bagikan artikel ini ke :