Hukum-hukum Yang Terkait Keguguran Janin

Dibaca normal 5 menit

Hukum-hukum yang terkait dengan janin yang meninggal dalam perut ibunya diantaranya adalah wajibkan dimandikan, dikafani dan dishalatkan? Apakah ada kesunnahan diberi nama dan diaqiqahkan? Apakah ibunya nifas? Apakah jika seorang hamil ditinggal mati suaminya atau diceraikan lantas keguguran, selesai iddahnya atau belum? Apakah berlaku hukum waris untuk janin itu?

Seorang janin itu ada yang lahir dengan membawa tanda kehidupan seperti menangis. Ada pula yang meninggal sejak dalam perut ibunya, lantas lahir. Janin yang keluar dalam keadaan meninggal juga ada yang sudah 4 bulan keatas, ada pula sebelum 4 bulan kehamilan.

Janin yang telah lahir dengan tanda kehidupan seperti menangis atau mengeluarkan suara, lantas meninggal, maka mayoritas ahli fiqih bersepakat janin tadi dianggap seperti manusia pada umumnya, maka wajib dimandikan dan dishalatkan. Ijma’ (kesepakatan) tersebut dinukil oleh Ibnu Mundzir dan Ibnu Qudamah dalam al Mughni

Dalilnya adalah hadits riwayat Imam an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إذَا اسْتَهَلَّ السِّقْطُ غُسِّلَ وَصُلِّيَ عَلَيْهِ وَوَرِثَ وَوُرِثَ

Ketika janin yang dilahirkan mengeluarkan suara, maka ia dimandikan dan disholatkan (bila meninggal), ia mewarisi dan diwarisi.

Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ (5/210): “Kafan yang digunakan sama dengan kafannya orang baligh yaitu dengan tiga helai kain”.

Janin yang telah meninggal dalam perut ibunya, lantas lahir itu ada yang sudah berusia 4 bulan keatas, adapula yang belum berusia 4 bulan. Jika janin keluar belum berusia 4 bulan, maka para ulama sepakat untuk tidak dishalatkan. Dalam kitab Raudhotu At-Tholibin, Tidak ada perbedaan pendapat juga dari para ulama bahwa janin yang keguguran apabila telah nampak bentuknya maka wajib dikuburkan.

Selain itu, para ulama berbeda pendapat. Menurut Madzhab Hanafi dalam kitab Rad Al-Muhtar, janin tetap wajib dimandikan, sebagai bentuk penghormatan bagi anak Adam kemudian dikuburkan tanpa dikafani dan tidak dishalatkan. Sedangkan menurut Madzhab Maliki makruh dan tidak perlu dimandikan dan dishalatkan sebagaimana yang tercantum dalam kitab Ad-Dasuqi.

Madzhab Syafi’i membedakan apakah janin telah berumur empat bulan atau belum. Apabila janin belum berumur empat bulan maka langsung dikuburkan tanpa dimandikan dan dishalatkan. Namun apabila janin telah berumur 4 bulan lebih, maka ada dua riwayat dari Imam Syafi’i. Pertama, dalam Madzhab qadim disebutkan bahwa janin tetap dishalatkan dan dimandikan, karena telah ditiupkan atasnya ruh.

Kedua, dalam kitab Al-Umm disebutkan bahwa janin tidak dishalatkan namun tetap dimandikan. Namun Al-Buwaithy ulama madzhab Syafi’i dalam kitab l-Majmu mengatakan bahwa tidak perlu dimandikan, karena dia seperti orang yang mati syahid yang tidak perlu dishalatkan dan dimandikan

Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab Al-Muhadzab mengatakan bahwa janin yang meninggal dan umurnya sudah lebih dari empat bulan maka tetap wajib dimandikan dan dishalatkan. Sebagaimana sabda Nabi والسقط يصلى عليه (Dan bayi yang keguguran disholatkan). Alasan yang dikemukakan oleh Imam Ahmad adalah bahwa dia adalah jiwa yang telah memiliki ruh

Salah satu takbir dalam shalat jenazah berisi doa agar mayit diampuni dosanya oleh Allah SWT. Sedangkan bayi atau anak kecil yang belum baligh belum memiliki dosa karena belum mulai dicatat amalnya

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلََثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّغِيْرِيْ حَتَّى يَكْبَرَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ، أَوْ يُفِيقَ. سنن ابن ماجه سنن أبى داود

Catatan amal diangkat dari tiga orang; dari anak kecil sampai ihtilam atau baligh, dari orang tidur sampai bangun, dan dari orang dungu (setengah gila) sampai berakal sempurna. (HR. Ibnu Majah, Abu Daud).

Lantas bagaimana jika yang meninggal adalah bayi atau anak kecil yang belum memiliki dosa? Apakah tetap dimintakan ampunan? Para ulama menyebutkan doa khusus untuk sholat jenazahnya yang berbeda dari doa sholat jenazah orang dewasa, sebab janin atau bayi belum mempunyai dosa. Imam an-Nawawi (w. 676 H) menyebutkan

قَالَ أَصْحَابُنَا فَإِنْ كَانَ الْمَيتُ صَبِيًّا أَوْ صَبِيَّةً اقْتَصَرَ عَلَى حَدِيثِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا إلَى آخِرِهِ وضم إليه اللهم اجعله فرطا لأبويه وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا وَأَفْرِغْ الصَّبْرَ عَلَى قُلُوبِهِمَا وَلَا تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَا تَحْرِمْهُمَا أَجْرَهُ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.

Ashab Syafi’iyyah berkata: Jika yang dishalatkan adalah anak kecil, maka bisa memakai doa “Semoga Allah mengampuni orang yang hidup diantara kita dan orang yang mati… Sampai selesai. Ditambah doa: “Allahummaj’alhu faratan li abawaihi wa salafan wa dzukhro wa’idhotaw wa’tibaaraw wa syafii’an wa tsaqqil bihii mawaa ziinahuma wa-afri-ghish-shabra ‘alaa quluu bihimaa wa laa taf-tin-humaa ba’dahu wa laa tahrim humaa ajrahu”

“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa’at bagi orangtuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu-bapaknya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepeninggalnya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya. Wallahu a’lam.

Doa lain yang hampir mirip juga dituliskan oleh Ibnu Qudamah (w. 620 H). Beliau menyebutkan

وَإِنْ كَانَ الْمَيتُ طِفْلَا، جَعَلَ مَكَانَ الْاِسْتِغْفَارِ لَهُ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِوَالِدَيْهِ، وَذُخْرًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا، اللَّهُمَّ ثَقِلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فِى كَفَالَةِ إبْرَاهِيمَ وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَأَجِرْهُ بِرَحْمَتِك مِنْ عَذَابِ الْجَحِيمِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَسْلَافِنَا وَأَفْرَاطِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِلْاِيمَانِ

Jika mayyitnya adalah anak kecil, maka istighfar kepada mayyit (takbir ketiga shalat jenazah) diganti: Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan dan sebagai pahala. Dan beratkanlah timbangan ibu-bapaknya karenanya, dan berikanlah pahala yang melimpah untuk kedua orang tuanya.

Ya Allah, jadikanlah dia dalam penjagaan Nabi Ibrahim. Kumpulkanlah dia dengan orang saleh dari para mukmin. Selamatkanlah dengan rahmatmu dari siksa neraka. Gantilah kepadanya rumah yang lebih baik dari rumahnya terdahulu, berilah keluarga dengan keluarga yang lebih baik dari yang terdahulu. Ya Allah, ampunilah orang terdahulu kami, dan orang setelah kami serta orang beriman yang mendahului kami.

Ketika bayi lahir dalam keadaan hidup, kemudian meninggal, maka mayoritas ulama menganjurkan untuk diberi nama, kecuali beberapa ulama madzhab Maliki yang berpendapat bahwa apabila meninggal sebelum tujuh hari maka tidak diberi nama. Hal ini dikarenakan menurut Madzhab Maliki kewajiban memberi nama anak adalah ketika hari ketujuh kelahirannya setelah disembelih hewan aqiqah. Namun apabila bayi tidak diaqiqahkan karena ketidak mampuan walinya, maka pemberian nama terserah kapan saja.

Dalam nihayah Al-Muhtaj kitab Madzhab Syafi’i disebutkan bahwa sunah untuk memberi nama janin yang meninggal apabila telah ditiupkan ruh. Sedangkan menurut madzhab Hambali, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Qudamah: Apabila belum diketahui apakah laki-laki atau perempuan, maka diberi nama dengan nama yang sesuai dengan nama laki-laki dan perempuan. Sebagaimana riwayat dari Nabi

سَوا أسقاطكم، فإنهم أسلَفكم

Berilah nama untuk anak-anak kalian yang keguguran, sebeb mereka telah mendahului kalian

Sebab janin yang meninggal setelah berusia lebih dari 4 bulan maka sudah dianggap sebagai manusia, diberi nama karena kelak diakhirat akan dipanggil dengan nama-nama mereka.

Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah sesungguhnya dia menyuruh untuk menyolatkan janin yang keguguran, dia berkata: berilah mereka nama, mandikanlah, kafanillah, dan berilah wewangian, sebab Allah memuliakan dengan islam anak-anak dan orang dewasa

فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٍ

Maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna (QS Al-Hajj: 5)

Ulama bersepakat bahwa janin yang keguguran kurang dari 4 bulan maka tidak perlu diaqiqahkan. Sebagaimana jika lahir lantas meninggal. Sedangkan apabila janin telah berusia lebih dari 4 bulan, terdapat perbedaan pendapat diantara ulama. Sebagian dari ulama Syafi’iyyah Ibnu Hajar al-Haitami tetap mensunnahkan aqiqah. Mayoritas ulama tidak mensunnah aqiqah jika belum lahir dalam keadaan hidup.

Terkait darah yang keluar dari wanita yang keguguran, mayoritas ahli fiqih madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali sepakat bahwa darah yang keluar dari rahim wanita yang mengalami keguguran dan usia kehamilannya kurang dari 4 bulan maka dianggap darah istihadhoh dan bukan darah nifas. Sedangkan menurut Madzhab Maliki darah yang keluar tetap dianggap sebagai darah nifas.

Janin yang lahir dalam keadaan hidup kemudian meninggal maka berlaku hukum waris atasnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Musu’ah al-Fiqhiyyah. Begitu juga sebaliknya, apabila bayi lahir dalam keadaan meninggal maka tidak berlaku hukum waris atasnya, sebagaimana sabda Nabi

إذا استهل الصب ورث وصلي عليه

Jika seorang bayi dilahirkan dan terdengar suara tangisannya kemudian meninggal maka dia bisa mewariskan dan disolatkan

Tanda-tanda kehidupan seorang bayi ketika dilahirkan adalah dengan menangis, atau haus, atau bergerak, atau bernafas. Al-Qurthuby berkata: “Istihlal adalah pekikan suara yang biasanya terdengar dari bayi yang baru lahir, atau gerakan , atau gerakan, atau kehausan, atau bernafas, maka bayi ini mewariskan, yang mana hal ini menunjukkan bahwa dia hidup.

Ini juga pendapat Sufyan At-Tsauri, Al-Auza’I dan As-Syafi’I”. Sedangkan Imam Malik berkata: ” bayi tidak mewariskan ketika tidak bersuara walaupun dia bergerak atau bernafas”. Imam Malik meriwayatkan dari Muhammad Bin Sirin, Qatadah, dan Az-zuhri”.

Jika seorang wanita dicerai suaminya atau suaminya meninggal sedang dia dalam keadaan hamil, maka wajib untuk menunaikan masa iddah menunggu hingga melahirkan

وَأُوْلَٰتُ ٱلۡأَحۡمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّ

sedangkan perempuan- perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya (QS. At-Thalaq ayat 4)

Namun apabila wanita ini keguguran apakah sudah dianggap selesai masa iddahnya? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini: Menurut Madzhab Maliki apabila sudah berupa Alaqah maka sudah dianggap selesai masa iddahnya. Sedangkan menurut Madzhab Syafi’i dan Hambali ialah jika sudah jelas bentuknya dan ada detak jantungnya, yaitu setelah 4 bulan atau setelah 81 hari baru dianggap selesai masa iddahnya dengan lahirnya janin.

Bagikan artikel ini ke :