Hukum Hadiah Sebelum Pelunasan Hutang

Dibaca normal 2 menit

Misal seseorang memiliki hutang kepada pak Abdullah, kemudian sebelum hutangnya lunas orang tersebut memberi hadiah kepada pak Abdullah. Atau sebelum melunasi hutangnya ia menjadi sering membantu pak Abdullah. Bagaimana hukumnya tambahan atau manfaat di atas? Ulama telah berbeda pendapat mengeni hukumnya.

Perndapat pertama mengatakan tidak diperbolehkan menerima manfaat atau tambahan dari debitur (pemberi hutang) jika belum dipastikan bahwasanya tambahan tersebut tidak ada kaitanya dengan hutang. Namun jika tambahan tersebut dipastikan tidak ada kaitanya dengan hutang maka tidak masalah.

Misalnya pak Hasan memiliki hutang kepada pak Abdullah, di tengah-tengah masa hutang tersebut pak Hasan memberikan oleh-oleh untuk pak Abdullah. Oleh-oleh diberikan karena memang pak Hasan dan pak Abdullah bertetangga yang memang sudah terbiasa saling memberi sebelum terjadinya akad hutang piutang antara keduanya. Maka Oleh-oleh tersebut tidak masalah dan tidak dianggap sebagai riba.

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلا يَرْكَبُهَا وَلا يَقْبَلْهُ ، إِلا أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

Apabila salah satu dari kalian meminjami (kepada orang lain) suatu pinjaman, kemudian (orang yang dipinjami) memberi hadiah kepadanya atau memberikan tumpangan atas kendaraannya, maka janganlah dia menaikinya dan jangan (pula) menerimanya (HR. Ibnu Majah).

Pendapat ini dijelaskan oleh kalanagan madzhab Maliki dan Madzhab Hambali.

هدية المديان حرام إلا أن يتقدم مثل الْدية بينهما قبل المداينة وعلم أنها ليست من أجل الدين

Dalam kitab Syarh al kharasyi, menurut madzhab Maliki hadiah dari seorang yang berhutang haram, kecuali jika sebelumnya sudah terbiasa saling memberikan hadiah antara keduanya. Dan diketahui bahwa hadiah tersebut tidak ada kaitanya dengan hutang.

وإن فعل ذلك من غير شرط قبل الوفاء، لم يقبله، ولم يجز قبوله، إلا أن يكافئه، أو يحسبه من دينه، إلا أن يكون شيئا جرت العادة به بينهما قبل القرض

Sedangakan menurut kalangan hanafi dalam kitab al-Mughni, Jika ia melakukan itu (memberi hadiah) sebelum pengembalian tanpa disyaratkan, maka tidak boleh menerimanya. Kecuali jika ia membalasnya atau menghitungnya sebagai cicilan hutang. Atau jika memang sebelumnya terbiasa untuk bertukar hadiah sebelum adanya hutang.

Pendapat kedua mengatakan bolehnya menerima manfaat atau hadiah dari orang yang hutang sebelum pelunasan hutang jika tida tidak disyaratkan.

لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَى ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ

Kalau aku diundang untuk menghadiri undangan yang di situ disajikan dziro’ (paha), aku hadir sebagaimana pula ketika disajikan kuro’ (kaki). Kalau aku diberi hadiah dziro’ (paha), aku terima sebagaimana ketika diberi hadiah kuro’ (kaki)(HR. Bukhari)

Ibn Hazm mengomentari hadist ini dalam kitab Al-Muhalla dengan berkata:

فهذا عموم لم يخص عليه السلام من ذلك غ ريما من غيره

(Anjuran menerima hadiah) ini berlaku umum, dan tidak dikecualikan dari seorang yang berhutang dan juga selainya.

Selain itu juga ada pendapat yang dikemukakan oleh madzhab Syafii. Sebagaimana dituliskan oleh as-Syirbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj

ولا يكره للمقرض أخذه ولا أخذ هدية المستقرض بغيرشرط. قال الماوردي: والتنزه عنه أولى قبل ردالبدل

Tidak dimakruhkan bagi pemberi hutang mengambil tambahan atau hadiah dari penerima hutang jika tidak disyaratkan. Al-Mawardi berkata: Namun berhati-hati (tidak mengambilnya) lebih baik jika hadiah tersebut sebelum pelunasan hutang

وهدية الذي عليه الدين إلى الذي له عليه الدين حلال وكذلك ضيافته إياه مالم يكن شْيئ من ذلك عن شرط

Hadiah dari orang yang hutang untuk pemberi hutang halal hukumnya. begitu pila jamuan jika tidak disyaratkan.

Bagikan artikel ini ke :