Hanya Ada Bidadari di Surga, Masak Sih?

Dibaca normal 2 menit

Para ulama tafsir telah memberikan penjelasan tentang masalah penghuni surga. Yaitu bahwa Al-Qur’an memang seringkali memberikan gambaran-gambaran tentang surga dan berbagai kenikmatan dengan berbagai bentuk perumpamaan yang mudah dicerna oleh setiap orang.

Akan tetapi kalau sampai ada orang yang menuduh bahwa ada ayat Al-Qur’an menerangkan di dalam surga tersedia bidadari. Yang menandakan yang masuk surga hanya laki-laki bukan perempuan. Sungguh sebuah tuduhan yang menyakitkan, terutama kalau yang mengatakannya seorang muslim.

Seringkali dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa surga itu ada kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Namun tentu saja kebun dan sungai itu tidaklah seperti yang ada di dunia yang biasanya kita lihat. Kalau memang surga itu hanya kebun dan sungai seperti yang sekarang ada, buat apa orang harus beribadah mencari surga. Sekarang ini di alam dunia, kita bisa membuat taman yang indah dengan dialiri sungai.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman dan mata air-mata air. (QS Adz-Dzariyat: 15)

Begitu juga penjelasan tentang makan dan minuman di surga. Al-Qur’an menceritakan bahwa makanan penduduk surga itu bentuknya daging burung. Sedangkan minumannya adalah air, khamar, susu dan madu.

لَّا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنزِفُونَ . وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ

Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (QS. Al-Waqi’ah: 19-20)

مَّثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? (QS. Muhammad: 15)

Tentu yang dimaksud buah, daging burung, air, khamar, madu dan susu dikehidupan surga itu tidak sama dengan yang biasa kita konsumsi di kehidupan kita sehari-hari. Kalau sama, untuk masuk surga, sekarang pun bisa dinikmati. Semua yang disampaikan di dalam Al-Qur’an tentang surga, hanyalah sebuah iming-iming atau pendekatan dari Allah SWT. Agar manusia bisa dengan mudah mencernanya.

Sebab jika dijelaskan dengan jenis kenikmatan lainnya, di mana orang-orang pun belum pernah merasakannya, tentu menjadi tidak menarik. Padahal bisa jadi secara nilai atau skala kenikmatan, jauh lebih tinggi.

Misalnya kita ingin memberi janji hadiah yang menarik buat seorang anak kecil usia 3 tahun. Yang paling sederhana dan mudah dicerna adalah memberikan permen atau coklat. Sebab untuk kemampuan berpikir dan pemahaman anak seusia itu, yang mereka anggap kenikmatan, kemewahan dan kebahagiaan itu sebatas pada permen dan coklat.

Kalau ditawari kenikmatan dalam bentuk lain, misalnya menjadi ketua partai politik, yang umumnya jadi rebutan orang, atau jadi camat, bupati atau wali kota, buat anak sekecil itu, janji-janji itu justru sama sekali tidak menarik. Sebab anak sekecil itu justru tidak bisa memahami bahwa jadi pak camat itu enak, atau jadi ketua parpol itu nikmat. Anak kecil tidak bisa memahami jabatan-jabatan itu sebagai sebuah kenikmatan yang perlu didapat dan diperjuangkan.

Dan demikianlah, Allah SWT berfirman kepada manusia dengan bahasa dan logika manusia, bukan dengan bahasa dan logika yang lebih tinggi. Maka jadilah gambaran surga itu berupa kebun, sungai, makanan dan juga bidadari.

Khusus mengenai urusan bidadari ini, jangan dipahami secara sempit, apalagi sampai mengeluarkan tuduhan lucu yang tidak berdasar. Jangan dikatakan bahwa surga itu hanya untuk laki-laki saja, lantaran yang selalu disebut-sebut adalah bidadari. Tentu tidak sesederhana itu kita membuat tuduhan.

Kalau memang yang ada hanya bidadari saja, lalu apakah anak-anak kecil yang masuk surga pun akan disuguhi bidadari juga? Buat apa anak kecil diberi bidadari? Bukankah kenikmatan memiliki pasangan dan juga kenikmatan seksual bukan menjadi prioritas anak kecil?

Dalam beberapa riwayat digambarkan bahwa bidadari itu berkulit putih. Buat laki-laki dari peradaban tertentu seperti Afrika atau pedalaman benua Amerika, wanita berkulit putih justru tidak cantik. Wanita dengan warna kulit hitam atau merah justru cantik dalam pandangan mereka. apakah surga hanya buat laki-laki dengan selera perempuan berkulit putih saja? Tentu tidak.

Maka yang perlu kita pahami adalah bahwa Al-Qur’an menceritakan keadaan surga secara global dan umum, tidak terlalu detail untuk semua jenis penghuninya. Pasangan hidup buat para wanita yang secara bahasa sering disebut-sebut dengan ‘bidadari’, memang tidak pernah disebutkan secara eksplist ada di surga dalam Al-Qur’an. Tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali.

Demikianlah, seharusnya kita paham bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah brosur detail tentang surga. Apa yang digambarkannya di dalamnya lebih bersifat pendekatan untuk logika akal manusia, namun hakikatnya tidak selalu demikian. Sebab Rasulullah SAW bersabda bahwa kenikmatan yang diberikan kepada penduduk surga itu belum pernah dilihat, belum pernah didengar dan belum pernah terbetik dalam imajinasi manusia.