Hakikat Puasa Adalah Hidup Sederhana

Dibaca normal 3 menit

Tahukah kita berapa biaya yang dikeluarkan oleh bangsa Indonesia yang muslim ini dalam meraih kebahagiaan seiring datangnya Hari Raya Idul Fithri tahun 2010? Angkanya sangat fantastis, tidak kurang dari 52 trilyun. Sungguh sangat luar biasa besar biaya syiar lebaran bangsa miskin ini. Demikian dilaporkan oleh www.vivanews.com 16 September 2010.

Angka itu bukan asal sebut, sebab datang dari data Bank Indonesia (BI) yang mencatat dana outflow atau keluar dari brankas Bank Sentral selama periode lebaran 2010 yang mencapai Rp. 52 triliun. Palang Merah Indonesia (PMI) memiliki data bahwa tahun 2010 itu, sekitar 20 juta orang diperkirakan mudik ke kampung halaman. Sedangkan, berdasarkan perkiraan Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik tahun ini diperkirakan 15,5 juta orang.

Semua itu tentu membutuhkan biaya besar, bukan hanya ongkos angkutan yang harganya menjulang, tetapi para pemudik umumnya membawa pulang juga sejumlah uang yang tidak sedikit. Kalau ditotal, rasanya akan berjumlah trilyunan rupiah. Belum lagi belanja hadiah parcel yang kadang harganya tidak masuk akal, entah karena curang atau memang begitulah cara meraup keuntungan yang jarang-jarang terjadi

Malah yang lebih dahsyat, Gubernur Jawa Barat menggelontorkan 1,7 milyar (Rp. 1.700.000.000,-) hanya untuk keperluan mencetak dan mengirim Kartu Ucapan Selamat Lebaran. Konon Sang Gubernur menyebar kartu ucapan Idul Fitri sebanyak 450 ribu buah. Jumlah ini setara dengan 1 persen dari 43 juta penduduk Jawa Barat. Peruntukannya, biaya perangko Rp. 675 juta dan ongkos cetak kartu Rp. 700 juta.

Angka yang luar biasa fantastis ini tak urung mengundang kecurigaan KPK untuk menyelidiki. Tapi lepas dari apakah uang itu halal atau tidak, rasanya ada yang aneh, kalau sekedar untuk kartu lebaran saja harus dikeluarkan uang sebesar itu.

Idul Fithri memang bagian dari syiar agama Islam, dimana hari itu dianggap sebagai hari raya. Namun kalau kita kaitkan dengan apa yang sudah menjadi tradisi bangsa ini dalam kaitannya dengan Idul Fithri, perlu juga kita ingat-ingat garis aslinya dalam beberapa point besar

Dalam agama Islam, yang disebut sebagai Hari Raya Idul Fithr itu hanya tanggal 1 Syawwal saja, tanggal 2 dan seterusnya sudah bukan hari raya lagi. Tapi yang kita lihat, meski resminya tanggal merah hanya 2 hari, tetapi lebaran di kampung kita bisa sampai sebulan. Lalu-lalang orang mudik dan arus baliknya, juga bisa lebih dari 2 minggu.

Berbagai acara halal-bi-halal yang digelar, meski sering dibilang itu berisi pengajian, ceramah dan memperdalam ilmu agama, tetapi biasanya susah untuk dihindari dari acara makan-makan. Seolah semua kegiatan keagamaan, harus disertai dengan makan-makan.

Pelajaran yang paling mendasar tentang hakikat berpuasa selama sebulan penuh adalah bahwa puasa itu mendidik kita untuk hidup sederhana. Makan dan minum apa adanya, kalau pun ada kegembiraan, sesunggunya karena kita merasa bersyukur bahwa Allah SWT memberi kita izin untuk bisa menempuh puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Kegembiraan yang lahir dari sukses telah menjalankan perintah Allah.

Tapi yang kita lihat, justru sejak belum masuk Ramadhan, cara makan dan minum kita, bahkan belanja kita, jauh dari sikap hidup sederhana. Puncaknya waktu lebaran, bayangkan bangsa kita yang miskin ini sampai menggelontorkan 52 trilyur.

Ada sebuah pertanyaan besar yang perlu kita renungkan, apakah semua ini untuk rasa syukur ataukah memang dasarnya kita ini terlalu suka kehidupan yang bersifat konsumtif?

Kalau untuk berkirim kartu ucapan Selamat Lebaran sampai harus mengeluarkan uang hingga 1,7 milyar, rasanya jauh dari rasa syukur. Mending uang segitu untuk membangun sekolah yang roboh, atau untuk memberi lapangan kerja untuk rakyat yang semakin hari semakin banyak yang menjadi pengangguran.

Tentu tulisan ini bukan dalam kapasitas untuk mengkritik si A atau si B. Ini adalah masalah lifestyle bangsa kita. Sebuah gaya hidup yang terlanjur menjadikan belanja konsumtif sebagai budaya, meskipun keadaan ekonomi sedang susah. Dan sayangnya, tidak jarang semua itu dikaitkan dengan hari raya agama, khususnya agama Islam.

Kerawanan dalam pencurian, penipuan, perampokan dan berbagai bentuk kriminalitas umumnya meningkat seiring dengan datangnya lebaran. Entah siapa yang bisa kita salahkan, apakah malingnya atau orang yang kemalingan. Yang pasti, tidak sedikit maling yang terpaksa melakukan perbuatan haram, demi untuk biaya berlebaran. Padahal sesungguhnya merayakan lebaran itu tidak perlu biaya, tidak harus sepanjang waktu dan juga bukan dengan belanja ini dan itu.

Tetapi para maling pun tidak mau disalahkan begitu saja. Mereka beraksi juga sebagiannya karena pengaruh kesempatan. Bagaimana para jambret tidak melihat kesempatan, kalau nyaris semua orang ramai-ramai membawa uang, perhiasan dan uang saat mudik. Mulai dengan cara pura-pura sampai bawa senjata, bahkan pakai hipnotis pun dilakoni, yang penting bisa mendapatkan rampasan.

Bagikan artikel ini ke :