Cinta Pertama Cinta Abadi Nabi

Dibaca normal 6 menit

Menikah dengan Khadijah buat seorang Muhammad SAW adalah cinta pertama yang takkan terlupa. Bahkan meski telah wafat dan ada wanita lain yang meng gantikan posisinya. Kenangan manis bersama Khadijah adalah memori mendalam yang tak bisa dihapus begitu saja. Khadijah Al-Kubra, Menikah Diawali dengan Bisnis

Kecemburuan Aisyah

Kita menemukan beberapa riwayat yang menunjukkan kecemburuan Aisyah kepada Khadijah, sosok yang hanya ada dalam kisah namun tidak pernah ditemuinya.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Ketika Rasulullah menyebut-nyebut kebaikan Khadijah, timbullah kecemburuan di hati Aisyah. Aisyah menceritakan, “Apabila Nabi mengingat Khadijah, beliau selalu memujinya dengan pujian yang bagus. Maka pada suatu hari saya merasa cemburu hingga saya berkata kepada beliau: ‘Alangkah sering engkau mengingat wanita yang ujung bibirnya telah memerah, padahal Allah telah menggantikan untuk engkau yang lebih baik darinya.

Serta merta Rasulullah bersabda: “Allah tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya, dia adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia membenarkanku di saat manusia mendustakan diriku, dan ia juga menopangku dengan hartanya di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah telah mengaruniakan anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri yang lain.” (HR. Ahmad)

Aisyah itu berada dalam daftar urut ketiga. Maksudnya wanita ketiga yang dinikahi Rasulullah SAW. Di posisi kedua ada Saudah. Namun posisi kedua dan ketiga ini tidak pernah sejajar dengan posisi pertama Kahdijah. Selama beristri Khadijah, Nabi SAW tidak pernah menduakannya. Bahkan hingga Khadijah wafat hingga menikah lagi dengan Saudah, terpaut jarak waktu.

Bermurah Hati Kepada Keluarga Khadijah

Cinta Nabi SAW kepada Khadijah itu benar-benar membekas, yang dampaknya masih terasa bahkan setelah jauh waktu memisahkan keduanya.Nabi SAW sangat menghormati keluarga Khadijah. Banyak dari mereka yang diberi hadiah oleh Nabi, padahal sudah bukan lagi bagian dari keluarga. Hal-hal kecil seperti inilah yang bikin Aisyah cemburu. Seolah perhatian Nabi kepada Khadijah, meski hanya bekas-bekasnya, mengurangi perhatian kepada dirinya.

Sejak usia 25 tahun mendampingi hingga akhirnya Khadijah wafat sekitar 10-an tahun sejak kenabian. Saat ditinggal Khadijah, usia Nabi SAW 50-an tahun. Adalah sebuah kisah cinta romantik dari pasangan dua sejoli sepanjang 25 tahun. Lautan luas telah diarungi, ombak dan badai dihadapi. Sedemikian cintanya hingga Nabi SAW tidak ingin menikah lagi menduakan istri tersayangnya.

Nabi SAW Tidak Poligami Bersama Khadijah

Episode ini seringkali terhapus dalam sejarah Nabi SAW. Setidak-tidaknya kurang mendapat ruang untuk diceritakan. Yang lebih banyak terekspose justru menikahnya nabi SAW dengan banyak wanita. Padahal masa dimana hanya beristri satu jauh lebih lama durasinya ketimbang itu masa nabi berpoligami. Kalau kita ukur Nabi mulai berpoligami sepeninggal Khadijah sejak hijrah ke Madinah, maka masa itu hanya 10 tahun saja.

Bandingkan antara 25 tahun tidak poligami dan 10 tahun poligami. Lebih lama yang mana? Jelas lebih lama tidak poligami. Maka kalau mau adil, kedua periode itu harus diungkapkan secara adil. Bukan malah ditutupi seolah mau dihapus dari lembar sejarah.

Peranan Khadijah

Peranan Khadijah dalam tarikh tasyri’ memang tidak terlalu kentara. Beliau tidak pernah meriwayatkan hadits, bahkan tidak pernah menjelaskan teknis ibadah sebagaimana istri Nabi yang lain seperti Aisyah, Ummu Salamah, Maimunah dst. Karena beliau sudah wafat ketika shalat lima waktu belum disyariatkan saat Isra’ Mi’raj. Berarti Khadijah pun tidak mengalami hijrah ke Madinah. Era tasyri’ yang deras itu justru setelah di Madinah, bukan selama di Mekkah. Di Mekkah itu adalah era pemasangan pondasi. Lebih banyak bermain di wilayah mental. Yang dibutuhkan oleh Nabi SAW justru kekuatan mental.

Wanita Pertama Masuk Islam

Peranan Khadijah yang paling utama adalah posisinya yang menjadi muslim pertama yang beriman. Posisi semacam ini tidak bisa diraih oleh siapapun, karena sebagai istri yang jadi pendamping hidup selama puluhan tahun, Khadijah pastilah orang pertama yang diberi kabar tentang risalah dan kenabian.

Pertanyaannya : Bagaimana Khadijah bisa sebegitu cepatnya percaya dan menerima kenabian Muhammad SAW? Apakah beliau tipe wanita yang pasrah bongko’an kepada apapun yang dikatakan suami, walaupun dalam hati masih ragu dan bertanya-tanya? Jawabannya sama sekali tidak. Keimanan Khadijah atas kenabian Muhammad SAW ini sifatnya hanya acara puncak seremonial saja. Jauh sebelumnya, dasar-dasar keimanannya sudah terbangun dengan sangat logisnya. Mimpi Matahari Masuk Rumah ,Kabar Maisarah dan Peranan Waraqah

Menenangkan Saat Turun Wahyu Pertam

Orang yang menentramkan hati Nabi SAW saat shock didatangi Jibril bawa Wahyu adalah Khadijah. Menenangkan disini bukan sekedar basa-basi atau mengalihkan perhatian. Tapi menenangkan dalam artinya sampai ke akar-akarnya. Khadijah lah yang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri suaminya itu. Didatanginya lah pendeta Nasrani yang masih dalam hitungan sepupunya, Waraqah bin Naufal. Kenapa bertanya kepada pendeta Nasrani?

Percuma tanya kepada sesepuh dan tetua orang Arab, lantaran bangsa Arab tidak mengenal konsep Wahyu, malaikat dan kenabian. Padahal info yang didapat sekilas, urusan ini sangat erat kaitannya dengan Wahyu samawi. Dan nara sumber paling kompeten dalam urusan semacam ini siapa lagi kalau bukan mereka yang percaya agama samawi, yaitu Yahudi atau Nasrani. Kebetulan Mekkah lebih banyak dihuni kaum Nasrani ketimbang Yahudi. Berbeda terbalik dengan Madinah yang lebih dominan Yahudinya.

Maka datang bertanya kepada pendeta Nasrani adalah pilihan tepat. Dan memang dapat jawabannya pun sudah tepat sekali. Bahwa yang datang kepada Nabi SAW adalah Malaikat Jibril. Dan kedatangannya merupakan pengangkatannya menjadi utusan Allah bahkan jadi nabi yang terakhir. Bahwa beliau juga menjadi sayyidul anbiya’ atau penghulu para nabi dan rasul. Dengan berbekal informasi seperti itulah Khadijah menghibur dan menenangkan suaminya. Bukan hiburan sekedar hiburan tapi jawaban dan solusi atas sekian banyak pertanyaan dan keraguan.

Dan jawaban seperti inilah yang memang dibutuhkan oleh seorang Nabi Muhammad SAW. Kepastian bahwa diri beliau itu aman dari bahaya dan hal-hal yang membingungkan. Itu saja sudah sangat menenangkan. Apalagi ditambah info bahwa dirinya adalah seorang utusan dari langit. Jelas ini bonus hiburan yang luar biasa.

Back-up Dana

Dakwah di masa pertama itu masih membutuhkan banyak sekali back-up dana. Sedangkan di masa rata-rata pengikut dakwah kebanyakan terdiri dari orang miskin, bahkan sebagiannya para budak. Satu-satunya tumpuan harapan kekuatan dana siapa lagi kalau bukan harta kekayaan milik Khadijah, istri setia yang juga kaya raya. Masa awal periode Mekkah belum ada sumber dana yang ditetapkan secara samawi seperti kewajian zakat, infaq apalagi ghanimah. Maka suplai dana dari Khadijah boleh dibilang satu-satunya sumber pendanaan dakwah di masa itu yang bisa diharapkan.

Kalau dihitung-hitung maka jumlahnya menjadi tidak terhingga. Karena di masa itu memang belum ada aturan untuk hitung-hitungan berapa persen harta yang harus disisihkan. Dan yang paling penting dari semua itu, Nabi SAW sendiri tentu juga tidak disibukkan dengan kewajiban mencari nafkah sebagaimana para suami umumnya. Sehingga konsentrasi berdakwah bisa berjalan secara optimal 100%, tanpa harus ada tuntutan nafkah dari pihak istri.

Seandainya saat itu Nabi SAW beristrikan orang lain selain Khadijah, boleh jadi kisahnya menjadi sangat berbeda. Karena di sela-sela kesibukan berdakwah, Nabi SAW ternyata masih kudu nyambi jualan madu, atau bisnis bekam atau bisnis-bisnis lainya. Justru dengan beristrikan Khadijah, Nabi SAW malah sudah sama sekali tidak berbisnis demi sekedar untuk menyambung hidup. Fakya ini seringkali harus berbenturan dengan banyak kalangan yang kurang detail membaca sejarah, seolah-olah berdagang itu sunnah Nabi SAW.

Padahal Nabi SAW ketika sudah diangkat menjadi utusan resmi dari Allah SWT, sama sekali sudah tidak lagi berpikir untuk bisnis atau dagang, sebagaimana dulu ketika masih mudah. Bisnis dagang itu sudah dijalani sebelum menikah dengan Khadijah. Namun ketika sudah menjadi utusan Allah, kita tidak menemukan aktifitas bisnis dari seorang Muhammad SAW. Fakta ini bukan berarti bahwa Nabi SAW melarang para shahabat berdagang atau berbisnis. Beliau tetap menyokong bisnis para shahabat, karena memang pintu-pintu rezeki buat penduduk Mekah memang hanya lewat berdagang saja. Hal ini mengingat ada segelintir orang yang ingin berbisnis, lalu berdalih bahwa Nabi SAW bersabda :

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.

Sayang sekali hadits ini dhaif kedudukannya. Dan kalau pun memang benar bahwa sembilan dari sepuluh itu merupakan pintu rejeki, tergantung bicaranya kepada siapa. Kalau bicara kepada penduduk Mekkah dimana peluang rejeki lewat jalur bisnis, tentu ini masuk akal dan bisa diterima. Namun belum tentu tepat pernyataan ini misalnya kalau bicaranya kepada penduduk Madinah yang agraris.

Hal ini mengingat bahwa tipologi kota Mekkah yang tidak punya hasil bumi atau pertanian, tidak seperti Madinah yang subuh dengan kebun kurma atau tidak seperti Thaif yang sejuk dan banyak kebun anggur. Mekkah adalah wilayah kering kerontang yang tidak tumbuh apa pun disana, sehingga terbersit dalam doa Nabi Ibrahim sebagaimana termuat dalam Al-Quran, yang digambarkan sebagai lembah tanpa tanaman.

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيۡرِ ذِى زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. (QS. Ibrahim : 37)

Tahun Duka Cita

Kehilangan Dua Sosok Sekaligus

Disebut tahun duka-cita karena hanya dalam satu tahu itu Nabi SAW kehilangan dua orang yang teramat dicintainya, yaitu Abu Thallib sang paman yang sudah mirip seperti ayahanda sendiri dan Khadijah istri tercinta dan satu-satunya. Dua sosok yang mengisi relung hati, begitu keduanya pergi di waktu yang berdekatan, kosongnya relung itu menganga, meninggalkan luka yang teramat perih. Lebih perih dari sembilu. Maka wajar bila tahun itu dikenang sebagai tahun kesedihan yang mendalam, tahun duka cita.

Lock Down

Yang lebih mengenaskan lagi, kematian Khadijah terjadi saat kondisi dakwah lagi sulit-sulitnya, karena saat itu Bani Hasyim sedang menjalani lock-down alias diboikot dan dikucilkan secara fisik. Entah setan mana yang merasuki qabilah-qabilah Quriasy hingga tega-teganya mereka menyepakati perjanjian muqathaah kepada klan sesama saudara mereka sendiri, Bani Hasyim. Surat pengusiran itu mereka gantung ramai-ramai di Ka’bah, seolah apa yang mereka lakukan itu sudah sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Dengan ditempelkan surat keji itu pada dinding atau pintu Ka’bah tentu saja menodai kesucian Ka’bah yang mereka puja. Namun mereka adalah penguasa Ka’bah, posisi yang sangat absolut dan mutlak, tidak terkena jaring hukum, karena sudah bawa-bawa Ka’bah. Korbannya adalah Qabilah Bani Hasyim beserta semua anggotanya, para sepuh, orang dewasa, kepada keluarga, anak-anak, cucu dan mantu. Semua yang merupakan anggota keluarga besar Bani Hasyim harus dikeluarkan dan disuri secara fisik diusir dari rumah dan tempat tinggal mereka.

Seolah kota Mekkah memuntahkan mereka keluar dari isi perut, untuk menempati tenda-tenda darurat di sebuah lembah di gurun pasir Mekkah si Syi’ib Ali. Disaat seperti itulah Abu Thalib dan Khadijah meninggal dunia. Jadi memang benar-benar tahun itu adalah tahun duka cita yang teramat mendalam.

Makam

Jenazah Khadijah yang mulia itu dikebumikan di pekuburan Mekkah, yaitu di bukit jannatul ma’la. Kita jamaah haji dan umrah biasa berziarah ke lokasi tersebut, yang tidak terlalu jauh dari Masjid Al-Haram, dekat dengan lokasi pasar murah yang banyak disebut dengan Ja’fariyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *