Bacaan Al-Qur’an Pada Shalat Tarawih

Sebentar lagi kita akan masuk bulan Ramadhan dan kita disunahkan untuk melaksanakan shalat tarawih. Kira-kira bacaan Al-Qur’an sebaiknya pendek atau panjang. Di masjid Al-Haram Mekkah dan Madinah mereka baca satu juz tiap malam. Tapi di negeri kita, rata-rata cuma baca ayat yang pendek-pendek. Mana yang lebih utama?

Dalam masalah memilih bacaan ayat Al-Qur’an dalam shalat tarawih, setidaknya ada tiga pendapat yang berbeda. Sebagian ulama, di antaranya mazhab Al-Hanafiyah menekankan bahwa diiusahakan setidak dalam shalat tarawih sebulan bisa dikhatamkan 30 juz Al-Qur’an. Salah satu hikmahnya agar jamaah shalat tarawih bisa mengkhatamkan tasmi’ Al-Qur’an secara keseluruhan selama bulan Ramadhan .

Kalau menurut mazhab Al-Hanafiyah, disunnahkan khatam Al-Qur’an sekali saja. Dan seorang imam jangan menguranginya karena kemalasan jamaah. Untuk itu bila imam membaca kira-kira 10 ayat, maka dalam satu malam akan bisa dibaca 200 ayat. Dan kalau dikalikan 30 malam, jumlahnya kurang lebih 6.000 ayat. Dan jumlah ini sudah mendekati jumlah total ayat Al-Qur’an.

baca : Berapa Jumlah Ayat Al-Qur’an?

Pendapat kedua malah lebih berat tiga kali lipat dari pendapat pertama, yaitu dalam sebulan mengkhatamkan Al-Qur’an sampai tiga kali. Dan pendapat ini sejalan dengan pendapat Umar bin Al-Khattab yang memerintahkan agar dalam sebulan bisa dikhatamkan tiga kali.

Maka dalam satu rakaat imam membaca kurang lebih 30 ayat. Dan dalam satu rangkaian shalat tarawih yang 20 rakaat bisa dibaca 600 ayat. Maka bisa dikhatamkan Al-Qur’an dalam 10 malam saja. Dan dalam sebulan penuh bisa khatam 3 kali. Seperti yang dilakukan di Masjid Haram dan Masjid Nabawi ketika melaksankan qiyamul lail di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan

Namun Imam Al-Kasani menyebutkan bahwa apa yang diperintahkan Umar bukan kewajiban atau syarat, melainkan termasuk bab fadhilah atau keutamaan. Sehingga tiap sepuluh malam bisa dikhatamkan satu kali Al-Qur’an.

baca : Hukum Asuransi Dalam Islam

Sedangkan pendapat yang ketiga adalah kebalikan dari pendapat pertama dan kedua, yaitu lebih utama membaca ayat yang pendek-pendek saja. (kesukaan saya ini hahaha :D)

Alasan terkait dengan pendeknya bacaan ayat Al-Qur’an dalam shalat tarawih bahwa shalat sunnah itu ditegakkan di atas prinsip takhfif, yaitu prinsip memberikan keringanan. Sehingga bacaan shalat tarawih itu lebih baik seperti bacaan pada shalat Maghrib yang memang pendek-pendek.

Alasan lain adalah bahwa kita hidup bukan di zaman para shahabat. Sehingga kalau imam memaksakan diri untuk membaca satu juz tiap malam, apalagi 3 juz, dikhawatirkan jumlah jamaah jadi berkurang. Padahal shalat tarawih yang tidak terlalu lama dengan jumlah jamaah yang banyak itu lebih utama dan lebih afdhal dari pada shalat yang lama tetapi jamaahnya sedikit.

Namun bila tidak ada kekhawatiran akan berkurangnya jamaah, maka tidak ada shalatnya untuk memanjangkan bacaan. Maka di Masjid Al-Haram Mekkah dan Madinah, walaupun imam membaca 1 juz tiap malam, tidak ada yang bergeser sedikitpun.

baca : Menggunkan Ayat-Ayat Al-Qur’an untuk Menarik Hati Orang Lain

Malah semakin mendekati hari hari akhir Ramadhan, jumlah jamaah makin penuh dan sesak. Mereka yang di negaranya jarang-jarang tarawih, ketika di Mekkah dan Madinah jadi rajin. Bahkan mereka yang biasanya cuma tarawih 8 rakaat lalu pulang, ternyata selama disana anteng menjalani 20 rakaat hingga selesai.

Ketika saya tanya, biasanya kalau sudah 8 rakaat terus pulang, tumben kok nggak pulang? Jawabnya sambil berbisik,”Ustadz, ongkos umrah Ramadhan ini mahal  banget. Jadi sayang sekali kalau ikut tarawihnya cuma 8 rakaat doang”.

Bagikan artikel ini ke :