Apa Tujuannya Ayat-ayat Al-Qur’an Dikelompokkan Makkiyah Dan Madaniyah?

Kajian tentang Makkiyah dan Madaniyah diperlukan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, untuk menentukan strategi dakwah yang tepat, dan juga untuk mempelajari sejarah hidup Rasulullah SAW. Dengan mengetahui tempat dan priode turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, seorang mufasir dapat menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan tepat dan benar. Lebih-lebih lagi jika terdapat kesan pertentangan antara makna satu ayat dengan ayat yang lainnya, seorang mufasir dapat menjelaskannya jika mengetahui tempat dan waktu turunnya baik dengan pendekatan attadarruj fi at-tasyr’ (tahapan penetapan hukum) maupun dengan pendekatan nasikh dan mansukh.

Dengan menelusuri tempat dan fase turunnya ayat-ayat Al-Qur’an melalui kajian Makkiyah dan Madaniyah kita dapat pelajaran bagaimana strategi dakwah yang tepat sehingga dakwah lebih efektif. Di lihat dari aspek dakwah, kita bisa membandingkan antara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Pada priode Makkah pesan yang disampaikan fokus kepada penanaman dan pemantapan aqidah (tauhid) dan keadilan sosial, menentang segala bentuk kemusyrikan dan kezaliman dalam masyarakat.

Sementara priode Madinah sudah mulai berbicara tentang tatanan hukum, baik hukum keluarga, perdata, pidana dan pemerintahan. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam berdakwah harus ada tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Dengan mempelajari ayat-ayat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW mulai dari ayat pertama pada priode Makkah sampai ayat terakhir pada priode Madinah, kita dapat mengikuti perjalanan hidup beliau, karena Al-Qur’an Al-Karim adalah sumber utama sirah Rasulullah SAW. Jika terjadi perbedaan pendapat antara para sejarawan tentang sirah Rasul, maka Al-Qur’an adalah saksi dan hakim yang paling tepat untuk menentukan mana yang benar.

Pembukuan Al-Qur’an Tidak Pernah Dilakukan Dimasa Nabi

Kajian terhadap Makkiyah dan Madaniyah menunjukkan betapa tingginya perhatian kaum muslimin sejak generasi awal terhadap sejarah turunnya Al-Qur’an, sehingga mereka mengikuti dan mencatat tempat, waktu dan fase turunnya AlQur’an kepada Nabi Muhammad SAW secara teliti. Hal ini menambah keyakinan akan otentitas dan validitas Al-Qur’an Al-Karim sehingga sampai kepada zaman kita sekarang ini tanpa mengalami pengurangan, penambahan atau perubahan apa pun.

Surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi Makkiyah dan Madaniyah. Para ulama mendasarkan pembagian tersebut kepada salah satu dari tiga aspek. Pertama berdasarkan masa turunnya (‘itibar zaman an-nuzul). Yang diturunkan sebelum Hijrah dari Makkah ke Madinah disebut Makkiyah walaupun turunnya bukan di Makkah dan sekitarnya, dan yang diturunkan sesudah Hijrah dinamai Madaniyah walaupun turunnya bukan di Madinah dan sekitarnya. Sebagai contoh, Surat An-Nisa’ ayat 58 tetap masuk kategori Madaniyah, sekalipun ayat itu turun di Makkah, persisnya dalam Ka’bah waktu Fathu Makkah pada tahun ke-8 setelah Hijrah. Begitu juga Surat Al-Maidah ayat 3, tetap masuk kategori Madaniyah, sekali pun turun pada waktu haji Wada’ tahun ke-10 setelah Hijrah.

Aspek kedua berdasarkan tempat turunnya (i’tibar makan an-nuzul). Yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya (seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyah) disebut Makkiyah dan yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya (seperti Uhud, Quba dan Sal’) dinamai Madaniyah.

Ketiga berdasarkan sasaran pembicaraan (i’tibar al-mukhathab). Yang ditujukan untuk penduduk Makkah dinamai Makkiyah dan yang ditujukan kepada penduduk Madinah disebut Madaniyah. Begitu juga yang ditujukan untuk semua manusia (dengan lafazh yaa ayyuhannas) dinamai Makkiyah dan yang ditujukan untuk orang-orang yang beriman saja (dengan lafazh yaa ayyuha al-ladzina amanu) disebut Madaniyah.

Photo by Dancing Rain in the Autumn on Unsplash
Photo by Dancing Rain in the Autumn on Unsplash

Dari ketiga kategori di atas, kategori pertamalah (masa turunnya) yang dapat mencakup semua ayat-ayat Al-Qur’an, karena untuk kategori kedua (tempat turunnya) tidak tercakup di dalamnya ayat-ayat yang diturunkan di luar Makkah dan Madinah serta sekitar keduanya seperti ayat-ayat yang turun di Tabuk, Baitul Maqdis dan dalam perjalanan. Sebagai contoh Surat At-Taubah 42 turun di Tabuk, Surat Az-Zukhruf 45 turun di Baitul Maqdis pada malam Isra’.

لَوۡ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسۡتَطَعۡنَا لَخَرَجۡنَا مَعَكُمۡ يُهۡلِكُونَ أَنفُسَهُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benarbenar orang-orang yang berdusta. (QS. At-Taubah 42)

وَسۡـَٔلۡ مَنۡ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رُّسُلِنَآ أَجَعَلۡنَا مِن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ءَالِهَةً يُعۡبَدُونَ

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah” (QS. Az-Zukhruf 45)

Jika kita menggunakan kategori kedua, yaitu berdasarkan tempat turunnya, maka kedua ayat di atas tidak dapat dimasukkan Makkiyah karena tidak turun di Makkah dan sekitarnya, dan juga tidak bisa dimasukkan Madaniyah karena tidak turun di Madinah dan sekitarnya. Begitu juga untuk kategori ketiga (sasaran pembicaraan), jika kategori ini yang digunakan, tentu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak dapat dimasukkan kategori Makkiyah atau Madaniyyah karena Al-Qur”an tidak hanya diturunkan untuk penduduk Makkah dan Madinah semata, tapi untuk seluruh manusia.

Lagi pula tidak semua ayat diawali dengan seruan yaa ayyuhannas atau seruan yaa ayyuha al-ladzina amanu. Oleh sebab itu, sebagaimana sudah dinyatakan di atas, kategori yang paling tepat, karena mencakup seluruh ayat Al-Qur’an adalah kategori pertama, yaitu dari segi masa turunnya (iitibar zaman an-nuzul). Yang diturunkan sebelum Hijrah disebut Makkiyah walaupun turunnya bukan di Makkah dan sekitarnya, dan yang diturunkan sesudah Hijrah dinamai Madaniyah walaupun turunnya bukan di Madinah dan sekitarnya.

Ada dua cara untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyah, pertama melalui riwayat dari para sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu dan juga dari tabi’in yang mengetahuinya dari para sahabat. Metode pertama untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyah adalah melalui riwayat yang sahih dari para sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu dan juga dari tabi’in yang mengetahuinya dari sahabat. Metode ini disebut al-manhaj assima’i an-naqli yang secara harfiah berarti metode pendengaran dan periwayatan.

Jika dasar yang kita gunakan untuk menentukan mana surat-surat dan ayat-ayat yang masuk kategori Makkiyah dan Madaniyyah adalah masa turunnya (‘itibar zaman an-nuzul), maka kita cukup menelusuri riwayat dari para sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu, kapan turunnya wahyu tersebut, apakah sebelum atau sesudah hijrah. Semua surat-surat yang turun sebelum hijrah seperti surat Al-‘Alaq, Al-Mudatsir, Al-Muzammil, Al-Fatihah dan lain sebagainya masuk kategori Makkiyah. Begitu juga sumua suratsurat yang turun setelah hijrah seperti Al-Baqarah, Ali-‘Imran, An-Nisa’, Al-Maidah dan lain sebagainya masuk kategori Madaniyah.

Cara kedua untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyah adalah berdasarkan karakteristik surat atau ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Metode ini digunakan manakala tidak ditemukan satu pun riwayat yang dapat diterima tentang kapan atau di mana surat dan ayat-ayat itu diturunkan, maka ditempuhlah metode ini. Cara kerja metode ini adalah dengan mempelajari karakteristik surat-surat dan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah yang sudah diketahui melalui riwayat-riwayat yang dapat diterima. Karakteristik yang dipelajari misalnya dari segi panjang pendeknya surat, gaya bahasa, model kalimat seruan, kalimat-kalimat tertentu seperti kalla, cakupan isi dan lain sebagainya. Karakteristik atau kriteria ini kemudian dicari pada surat-surat dan ayat-ayat yang belum diketahui Makkiyah dan Madaniyahnya.

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Surat-surat yang sesuai dengan kategori Makkiyah dimasukkan dalam kategori Makkiyah, begitu juga surat-surat yang sesuai dengan kategori Madaniyah dimasukkan dalam surat-surat Madaniyah. Penilaian terhadap satu surat hanyalah berdasarkan karakter sebagian besar ayat-ayatnya, bukan keseluruhan ayat-ayatnya. Jika ada satu dua ayat dalam satu surat Madaniyah yang bersifat Makkiyah maka surat tersebut tetap dikategorikan Madaniyah. Surat ini disebut Madaniyah tetapi di dalamnya ada ayat Makkiyah, begitu juga sebaliknya.

Beberapa kriteria surat dan ayat-ayat Makkiyah, para ulama merumuskan sebagai berikut :

  • Setiap surat yang di dalamnya ada ayat sajadah.
  • Setiap surat yang di dalamnya ada lafazh Kalla (33x dalam 15 Surat).
  • Setiap surat yang di dalamnya ada ayat Yaa Ayyuhannas, dan tidak ada Yaa Ayyuhalladzina amanu (kecuali Surat Al-Hajj).
  • Setiap surat yang di dalamnya ada kisah para Nabi dan umatumat sebelumnya (kecuali Surat Al-Baqarah).
  • Setiap surat yang di dalamnya ada kisah Nabi Adam dan Iblis (kecuali Surat Al-Baqarah).
  • Setiap surat yang dibuka dengan huruf hijaiyah seperti Aliflam-mim, Alif-lam-ra, Ha-mim dan semacamnya (kecuali Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran).
  • Surat-surat yang ayatnya pendek-pendek, bersajak, i’jaz al’ibarah dan padat isinya.
  • Surat-surat yang berisi ajaran tentang aqidah (tauhid, menyembah Allah SWT semata, risalah Nabi Muhammad SAW, Hari Akhir, mujadalah kaum musyirikin dengan dalil-dalil akal dan ayat-ayat kauniyah).
  • Surat-surat yang berisi peletakan dasar-dasar tasyri’ dan keutamaan akhlaq mulia, celaan terhadap kejahatan kaum musyrikin seperti penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara aniaya, membunuh anak-anak perempuan dan lain sebagainya.
Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Beberapa kriteria surat dan ayat-ayat Madaniyah, para ulama merumuskan sebagai berikut :

  • Setiap surat yang di dalamnya ada ayat Yaa Ayyuhalladzina amanu.
  • Setiap surat yang di dalamnya ada faridhah (kewajiban) dan sanksi pidana.
  • Setiap surat yang di dalamnya disebut tentang kaum munafikin (kecuali Surat Al-aAnkabut), mengungkap tentang prilaku mereka, membuka rahasia-rahasia mereka, dan menjelaskan bahaya kaum munafikin terhadap umat Islam.
  • Setiap surat yang di dalamnya ada Mujadalah Ahl al-Kitab (Yahudi dan Nasrani), seruan terhadap mereka untuk masuk Islam, mengungkap pemalsuan al-kitab dan lainya
  • Setiap surat yang di dalamnya ada ajaran tentang ibadah, mu’amalah, pidana, aturan berkeluarga, warisan, keutamaan jihad, hubungan sosial kemasyarakatan, hubungan antar negara dalam damai dan perang, kaedah-kaedah hukum dan persoalan tasyri’.
  • Setiap surat yang ayatnya panjang-panjang, dan bergaya prosa liris.
Bagikan artikel ini ke :