Adakah Yang Luput Dari Al-Qur’an?

Al-Qur’an Bukan Undang-undang Yang Sudah Jadi Kesalahpahaman yang paling fatal dan sering terjadi di tengah khalayak umat Islam adalah anggapan bahwa Al-Qur’an itu sudah jadi undang-undang yang sudah jadi, utuh, dan siap pakai. Padahal yang sebenarnya tidak demikian. Al-Qur’an memang sumber hukum, namun Al-Qur’an bukan produk hukum itu sendiri.

Ayat-ayat hukum di dalam Al-Qur’an oleh para ulama memang dijadikan sumber pengambilan hukum, namun perlu diketahui bahwa sumber itu masih mentah, masih harus diolah dan diproses biar menjadi hukum yang siap pakai. Seringkali terjadi kasus dimana orang awam membaca Al-Qur’an, namun keliru besar ketika menerjemahkan atau menarik kesimpulan hukumnya.

Al-Qur’an adalah kitab mukjizat yang mulia, suci dan tinggi kedudukannya. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup (manhajul hayah) dan sumber utama agama serta rujukan dalam hukum-hukum syariah, tentu sudah menjadi keniscayaan. Sedikit pun kita tidak pernah punya niat untuk bergeser dari Al-Qur’an. Tidak ada yang bisa menukar Al-Qur’an dari kedudukannya dalam jiwa kita. Seluruh umat Islam pasti sepakat dengan point-point dasar ini.

Namun bukan berarti urusan sudah selesai. Justru masalahnya baru akan dimulai disini. Masalahnya seringkali apa yang tertulis secara teks di dalam Al-Qur’an tidak selalu bisa dipahami secara harfiyah begitu saja. Untuk memahaminya dengan benar harus ada kunci-kuncinya, yaitu beragam jenis ilmu terkait Al-Qur’an.

Pertanyaan yang menjadi judul artikel ini tidak terkait dengan kesalah pahaman atas penafsiran suatu ayat tertentu, melainkan terkait dengan sosok Al-Qur’an itu sendiri. Apakah Al-Qur’an ini benar-benar mencakup semua aspek kehidupan dan tidak ada hal yang luput sedikit pun? Ataukah sebaliknya, yaitu Al-Qur’an tidak harus lengkap dan tidak harus memuat semua persoalan manusia?

Pertanyaan semacam ini menarik untuk dibahas lebih lanjut, biar tidak terjadi kesalah pahaman. Intinya bahwa Al-Qur’an itu memuat semua hal, namun ada yang sifatnya eksplisit dan juga implisit. Secara umum sudah benar bahwa tidak ada satu masalah pun yang luput dari Al-Qur’an.

مَّا فَرَّطۡنَا فِى ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَىۡءٍ

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab. (QS. Al-An’am : 38)

Membaca secara lahiriyah ayat ini pastinya akan muncul pemahaman bahwa Al-Qur’an memuat segala hal. Namun tidak salah kalau ada yang sedikit berpikir kritis dan bertanya-tanya, apa benar bahwa segala hal sudah termatub di dalam Al-Qur’an? Kalau memang benar, bukankah Rasulullah SAW pernah menguji Muadz bin Jabal dengan pertanyaan yang mana tidak ada jawabannya dalam Al-Qur’an.

Ketika Muadz bin Jabal dikirim ke Yaman, Rasulullah SAW sempat melakukan tes kepadanya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى اليَمَنِ، فَقَالَ: كَيْفَ تَقْضِي؟، فَقَالَ: أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ، قَالَ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ، قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟، قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي

Dari Muaz bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya,” Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau? Muaz menjawab, saya akan putus-kan dengan kitab Allah. Nabi bertanya kembali, bagaimana jika tidak engkau temukan dalam kitab Al-lah? Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah, jawab Muadz.” (HR Abu Daud)

Jelas sekali disebutkan bahwa ada banyak masa-lah yang tidak ditemukan jawabannya di dalam Al-Qur’an. Yang bilang seperti ini bukan orang kafir atau munafik, tetapi justru Rasulullah SAW sendiri. Meski bentuknya pertanyaan, namun tegas bahwa Rasulullah SAW sendiri yang menyatakan adanya kemungkinan tidak ada jawaban atas masalah.

Lantas apakah pernyataan bahwa Al-Qur’an tidak memuat semua masalah itu bisa dibenarkan? Jawabannya ada yang benar tapi juga ada yang tidak benar. Seringkali Al-Qur’an juga tidak memuat yang global sekalipun. Namun para ulama kemudian menemukan adanya hubungan kesamaan ‘illat antara suatu masalah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan masalah lain yang tidak termuat di dalam Al-Qur’an.

Hubungan kesamaan ‘illat inilah yang oleh para ulama disebut dengan qiyas. Ketika Muadz bin Jabal mengatakan bahwa dirinya akan melakukan ijtihad, sebenarnya yang beliau lakukan bukanlah mengarang-ngarang perkara agama. Namun beliau mencari kesamaan ‘illat antar ayat dengan kasus nyata. Hal semacam inilah yang kemudian menjadi hujjah bahwa Al-Qur’an memuat segala sesuatu.

Secara umum kita katakan bahwa umumnya Al-Qur’an hanya memuat hal-hal yang global saja, sedangkan yang sifatnya detail memang tidak semua dijelaskan dalam Al-Qur’an, kebanyakan dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi SAW. Secara umum kita katakan bahwa umumnya Al-Qur’an hanya memuat hal-hal yang global saja, sedangkan yang sifatnya detail memang tidak semua dijelaskan dalam Al-Qur’an, kebanyakan dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi SAW.

Bagikan artikel ini ke :