Abu Hanifah : Bintangnya Ulama dan Pengusaha Idaman

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya permasalahan ekonomi merupakan permasalahan penting bagi setiap orang. Meskipun harta bukanlah segalanya, namun harta merupakan salah satu sarana yang ketika dikelola oleh orang yang tepat akan menjadi kekuatan luar biasa yang bermanfaat bagi orang banyak.

Imam Abu Hanifah dan kiprahnya di dunia ilmu dan perdagangan, nama aslinya An-Nu’man bin Tsabit bin Zuthiy adalah salah seorang mujtahid mutlak mustaqil yang pendapat-pendapatnya akhirnya dikodifikasikan oleh para muridnya sehingga menjadi madzhab hanafi.

Kakek beliau, Zuthiy adalah pria berdarah Persia yang termasuk salah seorang yang terpadang di kaumnya. Dia sempat menjadi tawanan para tentara Islam yang menaklukkan negeri Iraq, kemudian dibebaskan dari tawanan perang dan akhirnya mendapatkan hidayah Islam. Setelah itu beliau pindah ke Kufah.

Di sanalah beliau bertemu dengan Ali bin Abi Thalib dan menjalin hubungan sangat baik sekali. Hubungan baik ini pun diteruskan kemudian oleh anaknya, Tsabit, yang menurut banyak riwayat beliau didoakan oleh Ali bin Abi Thalib agar anak cucunya kelak diberikan keberkahan oleh Allah.

Do’a Imam Ali ini pun akhirnya diijabahi oleh Allah, sehingga akhirnya beliau dikarunia seorang anak yang bernama An-Nu’man, yang kemudian dikenal sebagai Imam Abu Hanifah. Bisa kita lihat betapa do’a orang-orang shalih yang menyerahkan jiwa dan raganya untuk perjuangan di jalan Allah merupakan do’a yang mustajab.

Abu Hanifah kecil tumbuh di tengah keluarganya yang berprofesi utama sebagai pengusaha. Keluarganya terkenal sebagai pengusaha kain sutra kota Kufah. Untuk itulah jiwa wirausahanya pun sudah tumbuh sejak kecil. Hanya saja, kedekatan keluarga mereka dengan Ali bin Abi Thalib juga menumbuhkan gairah keilmuan yang tinggi pada sang Imam.

Sehingga tidak heran, di usianya yang masih belia, sebagaimana kebiasaan orang-orang yang memperhatikan pendidikan agama pada masa beliau, beliau sudah mulai menghafal Al-Qur’an sampai akhirnya menyelesaikan hafalannya di usia dini. Tidak hanya itu beliau juga termasuk salah seorang yang belajar qira’at secara langsung dari Imam ‘Ashim, salah satu Imam Qira’at Sab’ah, yang jalur periwayatannya sampai saat ini dipakai oleh mayoritas ummat Islam di seluruh dunia.

Selain itu di usia tersebut beliau juga mulai menghafal hadits-hadits Nabi SAW. Negeri Irak merupakan negari yang dihuni oleh berbagai suku dan bangsa di dunia. Selain itu negeri ini juga merupakan negeri yang terkenal sebagai tempat bertemunya berbagai macam agama, kepercayaan dan pemikiran pada zaman sebelum Islam seperti filasafat Yunani dan hikmah Persia.

Hal ini pun berlanjut setelah kedatangan Islam. Pengaruh pemikiran-pemikiran dan kepercayaan-kepercayaan tadi lah yang menjadi salah satu faktor muncul dan tumbuh berkembangnya aliran-aliran sempalan dalam Islam seperti Syi’ah, Khawarij dan Mu’tazilah. Mungkin karena latar belakang itulah maka sahabat yang di utus menjadi duta di sana pun tidak main-main. Tercatat Umar Ibn Al-Khattab ketika menjadi khalifah mengutus Abdullah bin Mas’ud yang terkenal sebagai pakar di bidang fiqih.

Kelak dari beliaulah muncul embrio madrasah ahlu ra’yi. Selain Ibnu Mas’ud juga ada Ali bin Abi Thalib yang juga dikenal sebagai salah seorang ulama sahabat. Situasi dan kondisi itulah yang ikut mewarnai masa kecil Imam Abu Hanifah, sehingga sejak kecil beliau memang gemar sekali terhadap ilmu pengetahuan dan menghadiri majelis ilmu.

Keberkahan Doa Ali Bin Abi Thalib Terharap Imam Abu Hanifah

Hanya saja porsinya masih lebih kecil daripada kegiatan perniagaan yang beliau lakukan. Tercatat pada waktu itu beliau hanya datang ke majelis ilmu para ulama di waktu-waktu luangnya saja, bahkan beliau memiliki cita-cita untuk menjadi pedagang sukses seperti ayah beliau.

Cita-cita beliau untuk menjadi pengusaha sukses terus berlangsung sampai datang suatu hari yang akhirnya menjadi titik tolak beliau beralih dari dunia perniagaan menuju dunia ilmu pengetahuan. Beliau mengisahkan cerita beralihnya beliau dari fokus di dunia perniagaan menuju dunia ilmu pengetahuan. Diriwayatkan bahwasanya beliau bercerita,

“Pada suatu hari aku berjalan dan bertemu dengan Asy-Sya’bi di tengah perjalanan, kemudian dia berkata kepadaku, “Hendak ke mana engkau pergi?” “Aku hendak pergi ke pasar.” “Yang aku tayakan bukan kepergianmu ke pasar, tetapi maksudku hendak pergi menemui ulama siapa?” “Aku jarang pergi ke majelis ulama.”

“Jangan lakukan itu! Engkau wajib memperdalam ilmu dan mengikuti halaqah-halaqah para ulama. Karena aku melihat pada dirimu suatu kecerdasan dan potensi yang tinggi (dalam hal ilmu pengetahuan).” Perkataan Asy-Sya’bi tadi benar-benar mengena di hatiku, sehingga sejak saat itu aku pun mulai meninggalkan aktivitas di pasar dan mulai serius menuntut ilmu, dan Allah benar-benar memberikan manfaat kepadaku dengan ucapannya tersebut.”

Nawawi Kecil Yang Dipaksa Bermain

Dari cerita yang dipaparkan Imam Abu Hanifah ini, bisa kita lihat betapa besarnya pengaruh perkataan seorang alim, yang akhirnya merubah sudut pandang Abu Hanifah mengenai ilmu pengetahuan. Dimana sebelumnya beliau memandang menuntut ilmu hanyalah sebagai pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu luang saja. Setelah pertemuan itu pandangan beliau terhadap ilmu menjadi berbalik 180 derajat. Sejak saat itu beliau bertekad untuk menjadikan menuntut ilmu sebagai kegiatan utamanya.

Maka Abu Hanifah pun mulai memperdalam kajiannya terhadap ilmu dengan lebih intensif lagi. Perjalanan beliau dimulai dengan memperdalam ilmu kalam sampai menjadi pakar di bidangnya. Bahkan beliau memiliki satu karya dalam bidang ilmu kalam dan aqidah bernama Al-Fiqhu Al-Akbar. Dalam ilmu ini banyak sekali permasalahan-permasalahan yang menjadi ajang perdebatan panjang, sebagaimana beliau juga sudah terlatih untuk melakukan hiwar ilmi (diskusi ilmiyah) sejak kecil.

Beliau bahkan melakukan perjalanan-perjalanan ilmiyah ke berbagai kota seperti ke Bashrah untuk berdebat dan mengambil ilmu dari kelompok Mu’tazilah dan Khawarij. Hanya saja dalam perjalanannya Abu Hanifah merasa bahwasanya ada yang bergejolak di hatinya, karena ternyata dalam ilmu kalam beliau hanya mendapati perdebatan demi perdebatan teoritis yang kurang begitu terasa manfaatnya.

Anak Yatim Buta Jadi Ahli Hadist Yang Masyhur

Hal inilah yang mendorong beliau untuk mempejari ilmu lain yang menurut beliau lebih memiliki manfaat yang luas untuk banyak orang. Akhirnya beliau mendapatinya dalam ilmu fiqih. Kufah yang waktu itu merupakan salah satu ibu kota ilmu pengetahuan menjadi salah satu faktor pendukung perjalanan ilmiah beliau. Di sanalah tinggal banyak sahabat besar. Yang paling menonjol antara lain Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud yang merupakan dua ulama sahabat.

Beliau bercerita sendiri bahwa ilmu fiqih yang beliau pelajari terinspirasi dari corak fiqih 4 sahabat besar : Fiqih Maslahah Umar ibn Al-Khattab, Fiqih Istimbath dan Maqashid Ali bin Abi Thalib, Fiqih Takhrij Abdullah bin Mas’ud dan Fiqih Al-Qur’an Abdullah bin Abbas. Diceritakan dalam kitab Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah karya Ulama Abu Zahroh, Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur pada suatu hari bertanya kepada beliau ketika beliau sudah mencapai maqam tinggi para Fuqaha:

“Wahai Nu’man! Dari siapa engkau mengambil ilmu?” Beliau menjawab, “Dari murid Umar dari Umar, dari para Murid Ali dari Ali, dari para murid Abdullah bin Mas’ud dari Abdullah. Dan (dari) Ibnu Abbas, dimana pada waktu itu tidak ada orang yang lebih alim darinya di muka bumi ini.” Abu Ja’far berkata, “Engkau telah berhak memberikan rekomendasi untuk dirimu sendiri wahai Abu Hanifah.

Selain faktor-faktor di atas ada satu faktor lain yang sangat urgen dalam perjalanan ilmiah beliau, yaitu mulazamah (belajar lama) beliau dengan Hammad bin Abi Sulaiman selama kurang lebih 18 tahun. Sehingga bisa disimpulkan bahwasanya syarat-syarat yang harus ditempuh oleh seorang penuntut ilmu agar mengkristal ilmunya, antara lain :

Terciptanya Manusia Pertama

Dia harus hidup di lingkungan ilmu yang membuatnya matang mempelajari ilmu. Dia harus sering bermujalasah (duduk langsung dan belajar secara tatap muka) dengan para ulama dan berhadapan dengan berbagai macam corak pemikiran yang ada di zamannya. Dia harus mulazamah dengan seorang guru yang senantiasa membimbing dan mengarahkan beliau dalam setiap detail permasalahan dan hal-hal yang samar sehingga tidak tersesat.

Ke tiga persyaratan di atas semua telah dipenuhi oleh Abu Hanifah sehingga beliau pun menempati tempat mulia sebagai Imam Madzhab Hanafi sekaligus Imam Madrasah Ahlu Ra’yi di Iraq.

Ada salah satu perkataan beliau yang sangat terkenal mengenai ilmu Fiqih, sebagaimana yang tercantum pada kita Al-Manaqib, karya Al-Makki

مثل من يطلب الحديث ولم يتفقه كمثل يجمع الأدوية، ولا يدري لأي داء هي حتى يجيئ طبيب، هكذا طالب الحديث لا يعرف وجه الحديث حتى يجيئ الفقيه

Perumpamaan seseorang yang mencari hadits tetapi tidak memahaminya seperti seorang Apoteker yang mengumpulkan obat. Dia tidak tahu untuk penyakit apa obat tersebut. Sampai datangnlah dokter. Begitulah, para pencari hadits itu tidak tahu sisi pendalilan hadits yang dia cari sampai datanglah ahli fiqih.

Photo by Artur Aldyrkhanov on Unsplash

Ketika memutuskan untuk serius bergelut di dunia ilmu beliau tidak serta merta meninggalkan dunia perniagaan yang sudah beliau geluti sejak kecil. Hanya saja, porsi waktu serta fikiran yang beliau curahkan agak dikurangi. Sehingga dalam hal ini beliau lebih memilih al-jam’u (menggabungkan dua pilihan) daripada at-tarjih (memilih salah satu pilihan).

Salah satu kecerdikan beliau dalam memadukan dua hal ini adalah dalam mengelola perniagaannya beliau tidak mengelolanya secara langsung, namun bekerja sama dengan orang lain, dalam perniagaannya. Beliau bekerja sama dengan Hafsh bin Abdirrahman. Dia berperan sebagai partner kerja yang membantu Abu Hanifah dengan tulus. Kedudukan Hafsh sebagai wakil dari perniagaan yang dilakukan Abu Hanifah.

Sementara peran yang diambil oleh Abu Hanifah sendiri adalah memantau perdagangannya agar senantiasa berada para lingkaran muamalah yang halal. Dengan membagi peran seperti ini, maka beliau pun bisa fokus untuk memperdalam dan mengajarkan ilmu, namun di sisi lain perniagaan yang beliau miliki tetap tertangani dengan baik.

Bahkan bisa dikatakan sangat ideal, sebab untuk operasional perniagaan sudah ada manajer handal yang menanganinya, di sisi lain ada seorang faqih yang mengawasi jalannya perniagaan tersebut agar berjalan di rel yang benar. Syaikh Abu Zahroh menggambarkan bagaimana rapinya manajemen waktu yang diterapkan oleh Abu Hanifah dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Digambarkan bahwa dalam 1 minggu beliau gunakan 5 hari untuk aktivitas mengajar dan berdagang, dimana beliau pergi ke pasar mulai waktu dhuha sampai menjelang dhuhur, setelah itu digunakan di majelis ilmu. Setiap hari Jum’at beliau mengadakan pertemuan dengan rekan-rekannya untuk jamuan makan. Dan ada 1 hari khusus yang beliau gunakan sebagai hari libur untuk melakukan aktivitas domestik di rumah.

Selain itu Syaikh Abu Zahroh juga menyebutkan bahwasanya sebagai pengusaha idaman beliau memiliki sifat-sifat istimewa antara lain : Beliau bukan tipe pengusaha tamak yang menghalalkan segala cara untuk meraih keungungan sebanyak-banyaknya. Hal ini karena sejak kecil beliau hidup

Beliau sangat menjunjung tinggi amanah (professionalitas) dalam perniagaan yang dilakukan. Banyak yang menyamakan beliau dengan Abu Bakr As-Shiddiq dalam hal keamanahan dalam perniagaannya. Beliau terkenal cukup luwes dan kompromistik dalam bertransaksi, terutama ketika menyangkut hak orang lain. Beliau memandang perniagaan bukan semata hubungan antara sesama manusia, namun lebih jauh dari itu beliau memandang bahwasanya muamalah yang baik merupakan salah satu bentuk puncak ibadah.

Ada banyak kisah yang menunjukkan sifat-sifat mulia yang beliau miliki di atas. Salah satu contohnya adalah pada suatu hari ada seorang wanita lemah yang datang menemui beliau dan berkata, “Aku perempuan yang lemah, namun aku menginginkan baju ini, berapakah engkau menjualnya?” “Harganya hanya 4 dirham saja bu.” “Apakah engkau hendak menghinaku, padahal aku sudah tua?”

“Sama sekali tidak. Sebelumnya aku membeli dua helai baju, lalu salah satunya aku jual kembali dengan total harga beli dua baju tadi dikurangi 4 dirham. Maka sisa harga 4 dirham tadi aku tetapkan sebagai harga baju ini.”

Photo by Ryan Pradipta Putra on Unsplash

Kisah di atas menggambarkan betapa Abu Hanifah memiliki jiwa penolong yang tinggi, namun cara menolong yang dia gunakan adalah cara yang cerdas. Dan di sisi lain beliau tetap mendapatkan keuntungan dari transaksi yang dia lakukan sebelumnya.

Pada kesempatan yang lain diceritakan dalam kitab Tarikh Al-Baghdad, beliau pernah berpesan kepada partnernya agar menjelaskan aib dari beberapa baju yang akan dijualnya. Namun ketika partnernya sudah menjual baju tersebut ternyata dia lupa membeberkan aib tadi, ketika mengetahui hal tersebut maka Abu Hanifah pun memutuskan untuk menshadaqahkan seluruh baju tadi.

Ini menunjukkan betapa wara’ nya beliau dan menjauhi perkara-perkara syubhat, meskipun cukup samar-samar. Meskipun demikian, perniagaan yang beliau jalankan ternyata cukup menghasilkan keuntungan yang banyak. Sebagian dari keuntungan tersebut beliau infaqkan kepada para ulama dan ahli hadits pada zaman itu.

Photo by Adli Wahid on Unsplash

Keuntungan yang beliau kumpulkan bertahun-tahun tersebut beliau gunakan untuk membeli kebutuhan pangan dan pakaian mereka, lalu uang yang masih tersisa tersebut beliau donasikan kepada mereka. Beliau berkata, “Gunakanlah uang ini untuk kebutuhan kalian, dan jangan berterima kasih kecuali kepada Allah saja, sebab aku sama sekali tidak memberikan apa-apa kepada kalian dari hartaku, karena harta tersebut adalah harta Allah.”

Dengan sifat-sifat yang dimiliki tersebut maka Imam Abu Hanifah pun menjadi bintang di kalangan para pengusaha di zamannya. Bagaimana tidak, bisa dikatakan bahwasanya ilmu yang beliau miliki telah menjaga dan mengarahkan beliau sehingga beliau masuk ke dalam golongan para ulama yang independen dan berwibawa. Harga diri beliau sebagai ahli fiqih terjaga dari kehinaan meminta-minta harta, apalagi jabatan dan kedudukan.

Hubungan antara ulama dan penguasa merupakan hubungan erat dan tidak boleh dipisahkan. Karena para ulamalah yang akan memberikan nasehat dengan berani kepada para penguasa ketika mereka melakukan kesalahan. Tentunya hal tersebut selama tidak menganggu independensi mereka. Imam Abu Hanifah terkenal sebagai sosok yang independen yang tidak mudah diintervensi.

Beliau tidak pernah menerima pemberian pemerintah, baik dari tingkat khalifah maupun pemimpin yang berada di bawahnya. Meskipun kalah kita telusuri sejarah Imam 4 madzhab akan kita dapati perbedaan pendapat mereka mengenai hal ini. Di antara para ulama madzhab ada yang memberikan rukhshah untuk mengambil pemberian para penguas. Salah satunya adalah Imam Malik bin anas

Alasan beliau membolehkan ini alas atasannya antara lain : Seorang alim seharusnya mendapatkan jatah dari Baitul Mal, Sumber pemberian bukan dari harta pribadi pemimpin tetapi hanya bentuk penyaluran rikzi untuk orang alim tersebut sebab dia telah fokus untuk menuntut ilmu, meneliti dan berfatwa sehingga mereka tidak mencari nafkah

Karena alasan tersebutlah menurut beliau penuntut ilmu dan keluarganya berhak mendapatkan pemberian tersebut. Hanya saja pemberian itu oleh Imam Malik tidak hanya dimakan sendiri, tetapi beliau justru memberikan beasiswa dari pemberian itu kepada para murid beliau, termasuk di antaranya Imam Asy-Syafi’i.

Setelah Imam Malik wafat maka Imam Asy-Syafi’i pun bekerja sebagai hakim di Yaman untuk memenuhi kebutuhannya. Imam Asy-Syafi’i sendiri juga menerima pemberian dari Negara, tetapi sebenarnya bukan berupa pemberian murni. Pemberian tersebut adalah merupakan bagian untuk Bani Muthalib yang telah diwajibkan oleh Rasulullah untuk mendapatkan bagian/jatah dari Negara sebagai bentuk kekerabatan mereka dengan beliau.

Sedangkan dua Imam lain, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal sama sekali menolak jatah dari Baitul Mal. Meskipun kondisi perekonomian mereka berdua berbeda. Imam Ahmad ridha dalam kehidupannya yang serba kekurangan harta, sedangkan Imam Abu Hanifah memilih jalan hidup sebagai ulama dan pedagang sampai akhir hayat beliau.

Meskipun berbeda sikap dalam menerima pemberian Negara, tetapi satu kesamaan antara para Imam di atas adalah mereka merupakan sosok-sosok yang independen dan tidak bisa ditekan oleh Negara. Mereka adalah para ulama yang tidak tergiur dengan kenikmatan duniawi, maupun takut dengan tekanan penguasa yang menekan mereka.

Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i misalnya, meskipun mereka berdua menerima pemberian Negara (dengan bentuk dan alasan di atas) tetapi hal tersebut tidak serta merta menjadikan mereka tunduk dan pasrah total terhadap penguasa. Imam Malik tercatat pernah menolak permintaan Abu Ja’far Al-Manshur untuk menjadikan kitabnya Al-Muwattha’ sebagai rujukan utama dan satu-satunya untuk menyatukan ummat Islam.

Dengan alasan, beliau tidak ingin mematikan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin yang memang telah diizinkan oleh syari’at Islam. Begitu pula Imam Asy-Syafi’i yang menolak permintaan Harun Ar-Rasyid untuk menjadi hakim agung karena ingin fokus dalam menuntut ilmu Syar’i.

Bahkan Imam Abu Hanifah sendiri, salah satu sebab beliau wafat adalah setelah beliau mengalami beberapa siksaan dari penjara akibat keputusan beliau yang menolak untuk ditunjuk sebagai hakim agung, dengan alasan pokok untuk menjaga independensi beliau dalam berfatwa dan mengambil keputusan.

Yang terakhir adalah kita bisa melihat keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal yang sangat teguh dalam mempertahankan aqidah beliau di hadapan penguasa dhalim yang terpengaruh syubhat Mu’tazilah. Sehingga meskipun dipenjara dan disiksa berkali-kali, sama sekali tidak meruntuhkan keimanan dan independensi beliau. Sungguh contoh-contoh yang luar biasa bisa kita petik dari para Imam tersebut.

Sungguh sosok Imam A’dham ini merupakan sosok agung yang bisa kita jadikan sebagai teladan dalam menjalani kehidupan, khususnya para penuntut ilmu apapun madzhabnya. Perniagaan duniawi yang beliau lakukan sama sekali tidak membuat beliau lalai dari mengingat Allah.

رِجَالٌ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (An-Nur : 37)

Beliau adalah sosok yang patut diteladani bagi orang yang menginginkan menjadi seorang ahli ilmu sekaligus pengusaha. Meskipun usaha yang dijalani beromset lumayan besar namun konsentrasi dan fokus utama beliau tetap dalam bab ilmu pengetahuan, khususnya ilmu fiqih. Sehingga tidak heran beliau meninggalkan amal jariyah berupa ilmu yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang sampai saat ini.

Sungguh kurang bijak tatkala seorang penuntut ilmu ingin meneladani beliau tetapi hanya dari satu sisi saja. Sisi kepiawaian beliau dalam perdangangan. Sehingga ketika terlalu asyik dalam dunia ekonomi akhirnya mereka lupa dengan kewajiban asasi untuk mengajarkan ilmu yang dipelajari kepada orang yang membutuhkan.

Maka jika ingin meneladani Abu Hanifah, teladanilah beliau secara kaffah, teladani ilmunya, kemandiriannya, ketaqwaan dan kewara’annya serta independensinya yang tidak mau ditekan penguasa dan lebih memilih menjalani masa tahanan penuh derita di penjara daripada hidup bergelimang kekuasaan tetapi kehilangan harta berharga berupa independensi dan kemandirian.

Bagikan artikel ini ke :