6666 Bukan Jumlah Ayat-Ayat Al-Qur’an

Ayat-ayat Al-Qur’an diketahui dengan cara tauqifi, artinya hanya semata-mata berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW, bukan berdasarkan hasil ijtihad atau qiyas (taufiqi). Bukti bahwa ayat-ayat Al-Qur’an diketahui secara tauqifi antara lain adalah tentang huruf-huruf potong (al-huruf al-muqaththa’ah) di awal Surat. Sebanyak 19 huruf potong dihitung sebagai ayat pertama, 1 huruf potong sebagai ayat kedua, dan 10 lainnya tidak dihitung satu ayat, tetapi bagian awal dari ayat pertama. Bahkan yang polanya sama pun tidak dihitung sama, seperti المص dihitung ayat pertama Surat Al-A’raf, tetapi المر tidak dihitung sebagai ayat pertama Surat Ar-Ra’d.

Begitu juga يس dihitung ayat pertama Surat Yasin, tetapi طس tidak dihitung sebagai ayat pertama Surat An-Naml. Demikian juga كهيعص dihitung satu ayat (sebagai ayat pertama) Surat Maryam, sedangkan حم dan عسق tidak digabung jadi satu ayat Surat AsySy’ra, tetapi malah dijadikan dua ayat yaitu ayat pertama dan kedua.

Jika bersifat ijtihad tentu penempatan huruf-huruf potong tersebut akan mengikuti satu pola saja. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Imam Az-Zarqani dalam kitab Manahil Irfan fi Ulum Al-Qur’an halaman 333. Para sahabat menghitung ayat-ayat itu dari mendengarkan Rasulullah SAW membacanya. Di tempat di mana Rasulullah SAW selalu berhenti (waqaf) dihitung sebagai ujung ayat (ra’su al-ayah).

Tetapi jika Rasulullah SAW berhenti, tetapi kemudian mengulang dengan menyambungnya (washal) dengan kalimat atau kata berikut, maka tidak dihitung ujung ayat. Jika kemudian para ulama berbeda dalam menghitung jumlah ayat secara keseluruhan, bukan karena mereka menggunakan ijtihad, tetapi karena berbeda dalam menerima riwayat tentang tempat berhenti dan tidak berhentinya Rasulullah SAW membacanya

Sebagian ulama berpendapat penentu ayat sebagian bersifat tauqifi sima’i dan sebagian lagi taufiqi qiyasi. Jika dalam membacanya Rasulullah SAW selalu berhenti, maka itu adalah ujung ayat (ra’su al-ayah). Jika Rasulullah SAW tidak berhenti, berarti belum ra’su al-ayah. Jika kadang-kadang Rasulullah berhenti, kadang-kadang terus, boleh jadi berhenti itu menunjukkan ra’su al-ayah, tetapi bisa juga hanya sekadar berhenti sejenak untuk istirahat. Maka dalam hal ini dapat digunakan qiyas untuk menentukan apakah ra’su al-ayah atau bukan.

Dalam kitab Manahil Irfan fi Ulum Al-Qur’an halaman 334-335. Bisa juga terjadi perbedaan pendapat tentang satu ayat karena sebab lain. Seperti عليهم pertama dalam Surat Al-Fatihah, apakah ujung ayat atau bukan. Berdasarkan hadits Nabi mereka semua sepakat bahwa Surat Al-Fatihah terdiri dari 7 ayat, tetapi mereka berbeda pendapat tentang بسم الله الرحمن الرحيم apakah ayat pertama atau bukan. Bagi yang mengganggapnya bukan ayat pertama maka عليهم adalah ujung ayat, tapi bagi yang menganggapnya ayat pertama maka عليهم bukan ujung ayat.

Tentang jumlah keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an, para ulama sepakat pada angka 6200 tetapi berbeda pendapat pada angka puluhan dan satuan setelah dua ratus itu. Utsman ibn Sa’id ibn Utsman ibn ‘Amru ad-Dani, dalam kitabnya yang dicetak di Kuwait al-Bayan fî Adad Ayi Al-Qur’an, yang telah ditahqiq oleh Ghanim Qaduri al-Hamd hlm. 79-80. ‘Amru ad-Dani mengumpulkan perbedaan penghitungan tersebut. Menurut hitungan Ulama Madinah pertama jumlahnya 6217 ayat. Menurut hitungan Ulama Madinah kedua jumlahnya 6214 ayat dan ada juga yang menyatakan 6210 ayat.

Menurut Ulama Makkah jumlahnya 6219 ayat, ada juga yang berpendapat jumlahnya 6220 ayat dan ada juga yang menyatakan 6216 ayat. Menurut Ulama Kufah, jumlahnya 6236 ayat. Menurut Ulama Bashrah jumlahnya 6204 ayat, dan ada juga yang berpendapat 6205 ayat. Menurut Ulama Syam jumlahnya 6226 ayat.

Dari beragam hasil hitungan di atas tidak ada satupun yang menyebutkan jumlah ayat Al-Qur’an 6666 ayat sebagaimana yang populer di Indonesia, bahkan di dunia Melayu seperti Brunei, Singapura, Malaysia dan Pattani (Thailand Selatan). Tidak jelas juga rujukan angka 6666 itu. Apakah karena angka 6666 itu kelihatan hebat, mistis, atau mudah diingat, wallahu ‘alam, tidak ada rujukan yang bisa menjelaskannya.

Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, dan dicetak di Madinah, pada bagian penjelasan tentang Mushaf itu, halaman 1123, disebutkan bahwa jumlah ayat Mushaf ini mengikuti metode Ulama Kufah dari Abi ‘Abdirrahman ‘Abdillah ibn Habib as-Sulami dari ‘Ali ibn Abi Thalib RA, bahwa jumlah ayatnya 6236 (enam ribu dua ratus tiga puluh enam). Kenapa terjadi perbedaan dalam menghitung jumlah ayat Al-Qur’an secara keseluruhan?

Mushaf Dibukukan Di Masa Khalifah Utsman

Begitu juga sama dengan yang diungkapkan oleh Al-Hafizh Jalal ad-Din Abd Ar-Rahman As-Suyuthi dalam kitab maestronya Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Tatkala Nabi SAW berhenti pada ujung ayat, untuk memberitahukan kepada para sahabat beliau bahwa ini adalah ujung ayat, setelah mereka tahu bahwa itu ujung ayat, lalu Nabi menyambungnya kembali dengan ayat sesudahnya untuk menyempurnakan maknanya, maka sebagian mengira tempat Nabi berhenti tadi bukanlah ujung ayat, sehingga tidak dihitung sebagai satu ayat sendiri. Sementara yang lain menghitungnya sebagai satu ayat sehingga tidak menyambungnya lagi dengan ayat sesudahnya.

Tetapi perbedaan menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak berpengaruh sedikitpun pada eksistensi keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an karena secara de facto tidak ada yang bertambah atau berkurang, jumlah ayat-ayat Al-Qur’an tetap sama. Yang berbeda hanyalah hitungannya saja, bukan keberadaannya.

Para ulama sepakat menyatakan bahwa susunan ayat-ayat Al-Qur’an sepenuhnya bersifat tauqîfi, semata-mata berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW, tidak ada peran ijtihad para sahabat sedikitpun. Malaikat Jibril AS membacakan ayat-ayat itu kepada Nabi dan memberikan bimbingan letak ayat tersebut dalam Suratnya. Kemudian Nabi membacakannya kepada para sahabat dan memerintahkan kepada para penulis wahyu untuk menuliskannya.

Ahli Hadits Dari Kota Baihaq

Jika ayat-ayat yang turun itu bagian dari satu Surat, maka Nabi menjelaskan “letakkan ayat-ayat ini pada Surat ini sesudah ayat ini atau sebelum ayat ini”. Nabi membacakan ayat-ayat yang turun tersebut kepada para sahabat berulang-ulang, baik waktu shalat, maupun pada kesempatan memberikan khutbah, pelajaran, nasehat dan kesempatan-kesempatan lain. Jibril pun datang sekali setahun mengulang membacakan seluruh ayat yang sudah diturunkan, dan pada tahun terakhir Jibril datang dua kali.

Para sahabat yang menghafal Al-Qur’an akan membacanya sesuai dengan urutan yang telah ditunjukkan oleh Nabi. Tatakala Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu Mushaf pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, dan kemudian disempurnakan pada masa ‘Utsman ibn Affan susunan ayat-ayat yang dituntunkan Nabi itulah yang diikuti.

Para sahabat pun meneruskannya kepada generasi para tabi’in, dan demikianlah dari tabi’in kepada tabi’it tabi’in sampai kepada zaman kita sekarang ini. Susunan ayat-ayat yang ada dalam mushaf sekarang ini persis sama dengan urutan-urutan yang diterima oleh para sahabat dari Nabi Muhammad SAW tanpa mengalami perobahan sedikitpun.

Bagikan artikel ini ke :